Apa yang Menyenangkan dan yang Tidak Dari Programming

Saya suka pemrograman (programming — coding — ngoding). Sejak saya dikenalkan dengan Java dua belas tahun yang lalu, saya suka ngoding. Jika banyak teman-teman saya dulu yang merasa salah jurusan, saya justru merasa inilah bidang minat saya. Jika banyak orang-orang IT yang menganggap pekerjaan programmer itu hanyalah batu loncatan untuk menuju posisi yang lebih baik (biasanya cita-citanya Project Manager), saya menganggap ini adalah hobi yang dibayar. Hari ini ketika saya sudah tidak diharuskan ngoding sendiri, saya mencari-cari apakah ada yang bisa saya coding.

Buat saya, pemrograman itu adalah seni yang membutuhkan banyak imajinasi. Orang yang tidak punya imajinasi, sepintar apapun dia, biasanya tidak suka ngoding. Untuk menerjemahkan sebuah kebutuhan bisnis ke dalam baris-baris program, programmer harus berimajinasi, berkhayal membayangkan bagaimana alur program nantinya. Ibaratnya membuat sebuah sungai yang mengalirkan air dari hulu ke hilir. Setelah tahu alurnya, baru memikirkan implementasi teknisnya. Bagaimana cara menuliskannya menurut disiplin atau grammar bahasa pemrogramannya.

Setiap bahasa pemrograman memiliki grammar-nya sendiri-sendiri. Untuk menulis dan menyimpannya ke file misalnya, Java dan C++ jelas memiliki cara yang berbeda. Sintaks berbeda, urut-urutan pustaka (library) yang dipanggil berbeda. Bahkan dalam bahasa yang sama saja, beda pustaka yang digunakan juga beda. Jika anda memakai PHP, perlakuan yang berbeda harus diberlakukan pada framework CodeIgniter dan Laravel. Padahal keduanya sama-sama framework PHP.

Itu yang menarik dan membuat saya menyukai pemrograman. Ketika bertemu dengan masalah baru yang membutuhkan penyelesaian baru, saya semangat mencari jalannya. Googling, dicoba, gagal, cari lagi, gagal, cari lagi, eh, tiba-tiba berhasil. Istri saya sering menggeleng-geleng ketika saya tiba-tiba tersenyum atau spontan tertawa sendiri di depan laptop. Padahal, di depan saya layar berwarna hitam berisi baris-baris kode. Bukan sedang baca status atau pesan whatsapp lucu. Istri saya sih sudah maklum. Saya juga maklum kenapa programmer itu kebanyakan jomblo. Sudah jomblo, ngenes lagi. Lha kelakuannya begitu, hehehe…

Tapi ternyata ada juga yang tidak saya sukai dari programming, yaitu repetisinya. Dalam desain software yang besar, kebanyakan penyelesaian masalahnya sama. Yang berbeda hanya kondisinya. Sehingga, implementasinya juga sama. Menulis kode yang diulang-ulang itu membosankan sekali. Misalnya dalam satu formulir, ada 20 textbox. Dua puluh itu yang harus ditulis berulang-ulang. Memang ada copy-paste, tapi copy-paste yang berulang itu membosankan sekali. Fase imajinasinya sudah lewat.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Tak perhatikan, ternyata mas Galih pinter juga menulisnya. Sampeyan tau cara menulis yang benar. “Apa yang Menyenangkan dan yang Tidak Dari Programming”; kata “dan” dan “yang” nggak ditulis kapital. Cakep!!! Makin jarang lho sekarang orang yang bisa nulis menurut kaidah yang benar 😀

    1. Hahaha, saya merawat ingatan pelajaran SMA dulu dengan menulis blog ini mas. Paling tidak buat tetap ingat beda antara “di-” sebagai kata depan atau imbuhan :mrgreen:

  2. Saya tertarik dengan tulisan panjenengan Mas Galih Satria yang ringan enak dibaca, setelah tanya sana sini ternyata pemrograman itu layaknya melukis pada kanvas, butuh ketenangan, imajinasi dan seni tersendiri bagaimana menulis baris kode yang baik sesuai alur dalam memecahkan masalah yang ada , hehe trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *