Tentang Buku Islam Q&A: Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok

covna-106

Judul Buku: Islam Q&A – Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok
Penulis: Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, L.L.M., M.A. (Hons), Ph.D
Harga: Rp. 29,050 (Google PlayBooks), Rp. 39,200 (Toko buku online)

Saya mengenal penulis, Gus Nadir, dari heboh hiruk pikuk Twitter mengenai boleh tidaknya bagi seorang muslim untuk memilih orang kafir menjadi pemimpin. Tentu saja ini terkait dengan Pilkada DKI yang petahana-nya adalah seorang kafir. Beliau menunjukkan beberapa pendapat alternatif tentang kata “awliya” pada ayat tersebut dan berkesimpulan bahwa pilihlah berdasarkan kompetensinya, bukan karena agamanya.

Okeh, itu debatable dan menjadi bahan pertengkaran sampai sekarang. Dari keriuhan itu saya menemukan buku ini. Saya baru ingat kalau Google PlayBooks sudah menjual buku-buku Indonesia. Saya langsung bookmark beberapa, salah satunya seri novel Milea dan Dilan yang lagi ngehits itu. Seharusnya saya ingat lebih awal, sehingga saya bisa unsubscribe dulu dari Scribd buat beli buku-buku di sini hehehe…

Google Playbooks memberikan free sample cukup banyak, yaitu bab pembukaan mengenai tokoh Ujang dan Bab 1 yang membahas masalah fiqih: bagaimana hukum makanan yang tidak ada label halalnya. Karena e-book, harganya lebih murah dari versi toko online-nya dan pastinya harga di Gramedia jauh lebih mahal lagi.

Saya langsung menyukai dan merasa cocok dengan buku ini. Buku ini tidak hanya membahas Fiqih yang cenderung kaku, tapi juga menyelipkan sisi tasawuf yang kalem. Saya kutipkan bab pembukaan “Benarkah Landasan Hukum (Fiqih) Islam itu Cinta?”

“Jika Islam hanya direduksi menjadi perdebatan fiqih, betapa keringnya cara Anda memahami Islam.” Begitu Haji Yunus, penjual martabak terang bulan di depan kantor Polsek Ciputat, berkata pelan kepada Ujang.

Saya mengamati akhir-akhir ini ada kecenderungan orang berdebat dalil bolehnya ini itu baik di media sosial atau di kantor-kantor. Saya ambil contoh yang lagi ngetren di kantor saya mengenai tidak bolehnya seseorang merayakan ulang tahun. Saya sempat ajukan mengenai Maulid Nabi Muhammad SAW yang notabene adalah perayaan ulang tahun (milad – maulid), tapi saya dibantah bahwa Rasulullah tidak pernah melakukannya dan disertai dengan rentetan dalil-dalil. Saya berhenti sampai di sini. Saya fakir ilmu, ilmu fiqih bukan kompetensi saya. Jangankan ilmu fiqih, bahasa Arab saja saya tidak bisa, bisanya baca terjemahan Al-Qur’an dan Hadits. Saya menghargai pendapat yang tidak membolehkan perayaan itu dan memilih menghindari debat yang tak bermanfaat.

Tapi dari diskusi itu muncul pertanyaan di benak saya. Apakah Islam itu seperti itu? Saya kembali ke pertanyaan ketika kuliah dulu waktu perdebatan yang sama sudah berlangsung — temanya kurang lebih sama juga dengan sekarang. Karena itu kutipan di atas oleh tukang martabak itu sangat mengena dan saya cukup lama merenung ketika melewati paragraf tersebut.

Bab pertama juga begitu. Bab ini membahas tentang hukum makanan tanpa berlabel halal. Setting lokasi tokoh Ujang adalah di Australia, negara yang muslimnya minoritas. Saya teringat komunitas Halal Corner yang sangat berhati-hati dengan kehalalan suatu makanan. Kehati-hatian yang agak berlebihan karena kecenderungannya seolah-olah makanan yang tidak bersertifikat halal itu ya tidak halal. Pendiri Halal Corner pernah datang memberi ceramah di kantor saya dan saya membayangkan hidupnya susah sekali. Beliau bercerita, mau beli martabak di tukang martabak di sebelah rumah, ia harus tahu asal-usul bahan-bahannya. Sampai ke kuas yang dipakai untuk mengoles mentega, jika diketahui kuasnya mengandung bahan babi atau turunannya, martabak tsb failed. Kira-kira seperti itu.

Bab pertama buku ini menguraikan hukum-hukum dan berbagai pendapat mengenai kehalalan suatu makanan. Cukup detail bahasan fiqih-nya. Yang menarik, kesimpulannya adalah bahwa jika kita ragu-ragu atau tidak tahu terhadap kehalalan atau ketidakhalalan makanan itu, cukup bacalah Bismillah dan makanlah.

Saya jadi ingat kata Prof. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, kurang lebih kalau saya tidak salah kutip: Islam itu mudah, jangan dipersulit, tapi jangan juga dimudah-mudahkan hingga kita abai.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. .. jangan dipersulit skaligus jgn dipermudah hehe

    Soal ginian memang kudu pake guru beneran , ga bisa cuma modal gugling & hasil share sosmed kyknya 😀

    Ahudahlah takut komen saya makin ngaco 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *