Hafidz Qur’an Tapi Shalat Masih Harus Diingatkan?

Pembahasan reksadana sementara dicukupkan sampai di sini dulu yah, hehehe… Pagi ini saya baca status Facebook yang cukup mengusik dan membuat saya menulis di blog. Tadinya saya mau komentar, tapi orang-orang Facebook tidak ada yang asik sekarang. Saya kutipkan bagian yang mengusik saya saja:

Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya.
Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz.
Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah.
Tuntas 30 juz.
Tapi …
saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu.

Dilanjutkan dengan petuah-petuah parenting yang salah satunya ibu itu tidak boleh jadi working mom yang membuat saya skeptis kisah pembukaannya adalah fiksi. Saya saat ini tertarik dengan Hafidz-nya itu. Soal working mom sudah jadi bahan pertengkaran di media sosial dan saya tidak ingin membahasnya sekarang.

Sekarang lagi ngetren ya, anak-anak sejak dini dididik menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Seperti panahan yang lagi ngetren. Sepertinya banyak yang terinspirasi dari ajang lomba hafal Qur’an di televisi, anak tiga tahun bisa membaca dan menghafal dengan sempurna. Sekolah-sekolah tahfidz pun bermunculan. Dalil yang dijadikan motivasi adalah bahwa seorang penghafal Al-Qur’an kelak di akhirat berhak memberi syafaat.

Kembali ke kutipan di atas, ini yang mengusik saya: mengapa anak yang hafal Qur’an tapi shalat mesti diingatkan atau disuruh? Apakah hafal saja sudah cukup? Apalah arti hafal jika tidak ada satupun hikmah Qur’an yang masuk ke dalam sanubarinya. Anak saya yang umur dua tahun hafal menyanyikan lagu Tik Tik Tik Bunyi Hujan dan Twinkle Twinkle Little Star, tapi tentu saja dia belum mengerti arti dan makna lagu itu. Saya khawatir, sekolah dan orang tua yang berambisi anaknya hafal Qur’an hanya berhenti pada hafalan teksnya saja. Bangga ketika anaknya hafal surat An-Naba, ‘Amma yatassaaluun… dan seterusnya sampai habis. Tapi isi, hikmah, dan nasihat dari surat ini tidak pernah diajarkan.

Tapi kan ada dalil bahwa penghafal Qur’an akan berhak memberi syafaat di akhirat nanti? Saya sangat kurang ilmunya soal dalil-dalil, jadi saya tidak akan masuk ke sana. Tapi dalam belajar agama, saya mengambil jalur kontekstual bukan literal. Jalur kontekstual yang memancing untuk berpikir secara luas. Jalur yang sekarang dicap sebagai kanker liberal stadium 4, ahlul bid’ah, dan sebagainya itu. Jadi saya memahami dalil itu begini: hafal teks Qur’an saja tidak cukup diberi gelar Hafidz. Hafidz adalah hafal teks, makna, dan pelajarannya sehingga itu tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi tidak masuk akal jika Hafidz tapi shalat masih harus diingatkan. Tidak ada itu Hafidz tapi masih suka ghibah, mencaci-maki, gampang mencap orang kafir, ahli bid’ah, penghuni neraka. Bayangkan, alangkah mulianya jika seseorang hafal setiap ayat Qur’an dan tercermin dalam setiap kehidupannya. Makanya konsekuensi pahala sebagai pemberi syafaat kelak di akhirat itu menjadi logis.

Saya rasa setiap orang tua muslim akan berdoa supaya anak-anaknya menjadi Hafidz. Tapi saya tidak mau anak-anak saya hanya menjadi penghafal teks saja tanpa dimasukkan ke dalam sanubari. Ambisi saya tidak ada di situ. Tentu jika hafal, itu akan baik sekali. Jika pun tidak hafal tidak mengapa. Tidak mengapa anak saya nanti dicibir keluarga besar karena tidak hafal juz amma di umur lima tahunnya. Lebih baik hafal beberapa tapi maknanya masuk ke dalam akhlak sehari-harinya. Rajin shalat, patuh kepada orang tua, sopan santun, cinta kebersihan, dan nilai-nilai dasar semacam itu.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. terkait hal ini, anak saya masuk rumah tahfidz mas, kadangkala ada waktunya memang pas dia libur, saat sholat harus diingatkan, ya mengingatkan saja. ranah kontekstual jadi terlalu berat untuk dibahas jadinya. saya memandangnya dari sisi anak-anaknya, kemanusiaannya, berat juga kalau belum apa2 anak2 harus dituntut menjadi semacam hafidz purna,

    dan syukurnya, anak saya masuk situ bukan gara2 ambisi abahnya, saya tidak ingin mendikte kemauan anak saya, bahkan untuk urusan jurusan sekolah yang dipilihnya, saya cuma memantau dan mengarahkan sesekali kalau ada yang dirasa perlu untuk itu, etapi anak saya belum sampai hapal 30 juz kok seperti itu di atas hehehe

    Niat baik untuk menghafal kitab sucinya, itu yg terpenting di awal menurut saya, sisanya adalah doa, semoga apa yang dbacanya merasuk dan lebur dalam jiwanya.

    halagh saya ngomong apa iki, kepanjangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *