Jenis-Jenis Reksadana

Lanjut ya. Saya akan kutip sedikit tulisan saya sebelumnya:

Jika anda menitipkan uang 100 ribu pada saya untuk dikelola, maka saya adalah manager investasi untuk anda. Saya akan mengusahakan uang anda berkembang dengan cara membelanjakannya di produk-produk keuangan seperti saham, obligasi, dsb. Apakah 100 ribu itu saya belikan saham semua atau saya taruh saja di deposito, terserah saya (dalam batas risiko tertentu).

Kalimat “terserah saya” dalam hal reksadana bukan berarti terserah tak terbatas, tapi dibatasil dalam profil-profil risiko. Ada reksadana risiko rendah hingga risiko tinggi. Dalam investasi, risiko selalu berbanding lurus dengan potensi hasil. Jadi jika ada yang menawarkan untung 30% atau bahkan 50% setahun, sangat perlu dicurigai apa jenis investasinya. Jika ada yang menawarkan untung 30% dalam sebulan, yang menawarkan mungkin seorang motivator, hehehe…

Jadi, meskipun jumlah produknya banyak, tapi pada dasarnya reksadana dibagi berdasarkan profil risikonya, dari terendah sampai tertinggi yaitu:

  • Pasar uang
  • Pendapatan tetap
  • Campuran
  • Saham

capture

Kenapa pasar uang menjadi yang paling kecil risikonya, karena porsi terbesar diinvestasikan ke produk-produk sejenis deposito. Jika dijanjikan hasilnya 6% setahun, hampir pasti anda akan dapat 6% sesuai imbal hasil deposito. Pintar-pintarnya si manajer investasi memaksimalkan bagian kecil dari dananya di produk selain deposito supaya hasilnya sedikit di atas hasil deposito. Karena jika sama atau kurang, ngapain beli reksadana, masih mendingan ditabung di deposito. Namun, karena sebagian besar diinvestasikan di deposito, jangan mengharapkan hasil yang terlalu tinggi.

Pendapatan tetap, porsi terbesar akan ada di semacam surat hutang. Obligasi, sukuk, dan semacamnya. Obligasi itu surat hutang. Beda dengan kita yang harus datang ke bank untuk berhutang, obligasi itu saya menawarkan untuk dihutangi oleh anda. Hehehe, aneh ya, hutang tapi kok ditawarkan. Saya menerbitkan surat hutang yang kira-kira bunyinya begini, “Anda setuju ‘membeli’ surat hutang ini senilai 10 juta rupiah, dalam satu tahun saya akan kembalikan dengan bunga 10% sehingga menjadi 11 juta rupiah.” Saya tawarkan ke orang-orang. Jika menarik, orang-orang itu akan membeli surat hutang saya dan saya dapat dana segar untuk memutar usaha.

Bunga 10% itu istilahnya kupon (coupon). Kemudian, surat hutang ini bisa diperjualbelikan kepemilikannya di pasar uang. Ternyata, si pemilik surat hutang 10 juta tadi menjual ke pihak lain dengan harga 10 juta 100 ribu. Si pembeli masih oke lah mendapatkan bunga bersih 900 ribu (1 juta dari saya dikurangi 100 ribu ke pihak kedua tadi). Dan begitu seterusnya surat hutang itu diperjualbelikan. Nilai selisih keuntungan tadi (900 ribu), istilahnya yield.

Lah, jadi melenceng pembahasannya ke pasar obligasi. Balik lagi ke reksadana ya.

Level risiko selanjutnya adalah campuran. Di sini porsi investasinya seimbang antara saham dan obligasi. Di sini pintar-pintarnya si manajer investasi mengelola dana. Visi reksadana ini jelas, ingin mendapatkan keuntungan maksimal seperti saham, tapi juga ingin mendapatkan tingkat risiko serendah obligasi atau deposito. Biasanya, jika pasar saham sedang bagus, reksadana ini hasilnya secemerlang saham (sedikit saja di bawah saham), tapi jika pasar saham sedang jelek, reksadana ini tidak akan senyungsep saham.

Level risiko tingkat dewa tentu saja reksadana saham. Di sini kebalikan dengan reksadana pasar uang, porsi terbesarnya ada di saham. Ini cocok untuk yang mengharapkan imbal hasil tertinggi. Tapi perlu diingat, jika pasar saham sedang jelek bahkan crash, ruginya juga besar. Rugi di sini adalah potensi rugi. Jika anda diamkan saja dan tidak dijual, anda belum benar-benar rugi. Bisa jadi besok, bulan depan, atau tahun depan, kondisi pasar saham membaik dan harga reksadana kembali ke asal waktu anda beli. Karena itu, reksadana saham sebenarnya tidak cocok jika digunakan untuk kebutuhan jangka pendek. Saya ingin beli mobil tahun depan, saya taruh uang saya di reksadana saham saja. Siap-siap anda tidak bisa mobil tahun depan.

Pilih yang Mana?

Ada dua hal yang bisa dijadikan acuan untuk memilih reksadana mana yang sesuai dengan anda. Pertama adalah kapan uang itu akan dipakai. Biasanya, untuk jangka pendek di bawah satu tahun, reksadana pasar uang yang direkomendasikan. Kalau saya, ditabung saja ga usah dibelikan reksadana. Setahun itu sekejap mata sekarang. Kalau khawatir terpakai, taruh di deposito saja. Untuk jangka menengah sampai lima tahun, bisa pakai reksadana campuran. Untuk jangka panjang di atas sepuluh tahun, bisa pakai reksadana saham. Itu secara waktu.

Kedua, profil risiko anda. Jika anda tidak tahan dan stress melihat nilai reksadananya anjlog hingga setengahnya, meskipun kebutuhannya di atas sepuluh tahun, sebaiknya tidak memilih reksadana saham. Biasanya, agen penjual reksadana memiliki kuesioner yang akan menggambarkan profil risiko dan rekomendasi jenis reksadana apa yang dipilih. Saya ambil contoh dua ini ya: dari webnya HSBC dan Manulife. Dari sana, mungkin anda bisa tahu kemana harus melangkah (halah).

Okeh, sampai di sini dulu bahasan jenis reksadana. Selanjutnya, saya akan bahas bagaimana cara membaca dan memilih reksadana saham. Misalnya anda sudah tahu memilih jenis reksadana yang mana. Tapi produknya siapa? Ada banyak sekali produk reksadana. Supaya tidak seperti membeli kucing dalam karung, kita harus tahu seperti apa produk reksadana. Cara tahunya adalah dari informasi Procpectus dan Fund Fact Sheet. Ditunggu ya. Again, jika ada hal yang perlu ditanyakan, just let me know, drop your message at comment form or contact me by email. (Asik banget nutup artikel pakai Bahasa Inggris begini, serasa perencana keuangan betulan, wkwkwk…)

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *