Mengenal Reksadana

Saya akan mencoba menjelaskan reksadana dengan bahasa saya. Karena akan banyak sekali istilah-istilah baru, jadi saya akan menjelaskan sambil menyanyikan lagunya Kotak: pelan-pelan saja…

Seperti yang sudah saya singgung sedikit, reksadana (mutual fund dalam Bahasa Inggris) adalah suatu produk investasi berupa wadah yang dikelola oleh pihak tertentu yang disebut Manajer Investasi. Jika anda menitipkan uang 100 ribu pada saya untuk dikelola, maka saya adalah manager investasi untuk anda. Saya akan mengusahakan uang anda berkembang dengan cara membelanjakannya di produk-produk keuangan seperti saham, obligasi, dsb. Apakah 100 ribu itu saya belikan saham semua atau saya taruh saja di deposito, terserah saya (dalam batas risiko tertentu).

Siapa saja manager investasi yang mengeluarkan produk reksadana? Banyak. Saya ambil contoh beberapa: Panin Asset Management, Schroder Asset Management, Manulife, BNP, Dana Reksa (hati-hati salah, ini reksa dana dan dana reksa adalah dua hal yang berbeda), dll. Mereka punya izin untuk mengumpulkan uang dari masyarakat untuk dikelola. Izin ini bukan main-main lho. Makanya ketika Ustadz Yusuf Mansur mengumpulkan dana untuk proyek patungan usaha, jadi bermasalah karena pada dasarnya beliau belum punya izin untuk mengelola investasi dari masyarakat.

Jadi kira-kira begitu. Reksadana pada prinsipnya kita menitipkan uang pada orang lalu mempercayakannya untuk diinvestasikan.

Manajer Investasi akan menginvestasikan sejumlah uang terlebih dahulu sebelum membuka produk reksadananya ke publik. Modal awal dan ditaruh di dalam satu “wadah”. Kemudian, kelolaan modal awal ini dihitung berapa nilainya lalu dipecah-pecah dalam satuan yang disebut unit penyertaan. Berapa “harga awal” untuk satu unit penyertaan? Kesepakatan untuk reksadana, harga awal untuk satu unit penyertaan adalah Rp. 1000. Harga awal ini disebut Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) dalam Bahasa Inggris. Jika diperhatikan, setiap produk reksadana yang baru muncul pasti berawal dari harga Rp. 1000 per unit penyertaan. Angka ini adalah konvensi alias kesepakatan.

Jika modal awal Manajer Investasi adalah sepuluh juta, maka dia akan punya 10.000 unit penyertaan yang bisa dijual. Katakanlah saya sebagai pembeli pertama akan beli reksadana itu dengan uang 100 ribu, dengan harga NAB awal 1000, maka saya akan punya 100 unit penyertaan. Tentu saja 10 juta adalah nilai setelah dikurangi biaya operasional dan sebagainya.

Karena uang 10 juta itu sudah diinvestasikan, maka nilainya terus bergerak. Setiap hari, Manajer Investasi akan menghitung ulang nilai kelolaannya. Karena sudah diluncurkan, maka kali ini jumlah unit penyertaannya sudah tidak bisa bergerak (kecuali jika ada tambahan modal). Maka yang bergerak setiap hari adalah harga NAB-nya. Misalnya setelah dihitung, keesokan harinya, nilai kelolaan dalam wadah tersebut adalah 11 juta. Maka NAB untuk keesokan harinya sudah bukan 1000 lagi, tapi jadi 1.100. Tadi saya sudah punya 100 unit penyertaan, nilai investasi saya jadi 110.000. Jika saya jual unit penyertaan saya hari ini, saya sudah untung 10 ribu.

Sederhananya begitu perhitungan nilai reksadana. Mudah-mudahan hitungan Matematika kali bagi ini tidak membingungkan sidang pembaca sekalian, hehehe…

Lanjut, tadi saya menyinggung soal wadah tempat uang ditaruh. Wadah ini bentuknya apa? Tentunya bukan ember atau celengan. Wadah ini berbentuk rekening bank. Bank yang mengelola/menyimpan rekening reksadana disebut Bank Custodian. Manajer Investasi sama sekali tidak pegang uangnya. Dia cuma lihat angka. Ini penting karena jika Manajer Investasinya bermasalah, uang nasabah akan aman karena tempatnya terpisah di luar jangkauan Manajer Investasi. Nilai reksadananya juga akan aman. Misalnya Manajer Investasinya bangkrut atau ditutup, pengelolaannya bisa dilanjutkan oleh Manajer Investasi lain.

Ini yang membedakan antara reksadana dengan jika kita menitipkan uang ke teman yang kita percaya. Sekali teman kita itu bangkrut, lari, bermasalah, menggelapkan uang, habislah kita. Berapa banyak berita soal iming-iming investasi abal-abal yang berujung pengelolanya lari? Di reksadana, nilai kelolaan itu terpisah di Bank Custodian. Kalau bank-nya yang bangkrut? Ya habis juga sih, tapi setidaknya tingkat risiko seperti ini jauh lebih kecil dibanding jika kita titip ke teman yang kita percaya.

Sampai di sini dulu soal reksadana. Selanjutnya saya akan membahas tentang jenis-jenis dan profil risiko suatu reksadana. Setelah itu baru bahas bagaimana cara beli reksadana. Kalau ada pertanyaan monggo disampaikan di kolom komentar.

Hatur nuhun.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *