Hukum Rimba Ojek

Setiap siang dan sore, jalan Kuningan Barat belakang kantor saya dipenuhi dengan ojek hijau-hijau yang berjejer banyak sekali. Jika mau pesan, tinggal buka aplikasi, tekan tombol order, tak sampai semenit, orderan saya sudah ada yang mengambil. Tak sampai lima menit, pak gojek sudah siap mengantar.

Ini kontras sekali waktu Gojek dan ojek online lain masih baru. Ojek Pangkalan adalah sang penguasa yang sanggup mengusir bahkan menghajar gojek yang berani ambil penumpang. Tak jarang penumpang pun diomeli oleh bapak-bapak ojek pangkalan ini.

Sekarang berbeda. Bapak ojek pangkalan hanya diam saja melihat aktivitas di depan matanya. Penumpang pencet-pencet layar HP, tak lama kemudian ada ojek berjaket hijau menjemput. Begitu terus. Hukum rimba berlaku. Bagaimana melawan kekuatan gojek yang sekarang jumlahnya sudah tak terhitung?

Tarif Murah Gojek: Metromini pun Kalah Bersaing

Dulu saya sering memakai taksi untuk keluar kantor saat istirahat siang. Entah ke Mal Ambasador, Plaza Semanggi, Pacific Place, dan sekitarnya. 10-15 ribu masih terjangkau kantong saya. Nyaman pula. Sampai waktu taksi menaikkan tarifnya dan tidak mau turun lagi ketika harga bensin sudah diturunkan. Sekali jalan 20-30 ribu sudah tak masuk akal untuk saya yang harus berhemat. Pilihan lainnya kalau tidak naik Metromini/Kopaja ya bawa motor sendiri.

Sejak adanya Gojek, saya menggantungkan ke moda ini. Tarif termurahnya hanya Rp. 4000 (promo). Sama dengan naik Metromini dengan bonus waktu yang jauh lebih cepat. Saya geleng-geleng waktu naik dari bandara Halim ke rumah yang berjarak hampir 18 km hanya membayar 24 ribu. Siapa yang bisa bersaing dengan harga seperti ini?

Buat saya, ada tiga faktor yang menentukan pemilihan moda transportasi. Biaya, waktu, dan kenyamanan. Ojek online bisa memberikan dua faktor pertama: biaya murah dan waktu yang cepat. Bandingkan dengan metromini: cuma dapat faktor biaya. Itupun kalau sambung-sambung, jatuhnya jadi mahal juga. Taksi hanya bisa memberikan satu: kenyamanan. Dan mereka juga sedang berdarah-darah dengan Uber yang relatif lebih murah. Busway sekarang bisa dihitung biaya murah dan cukup nyaman. Waktu masih relatif karena perlu jalan kaki ke halte dan di halte Ragunan, waktu tunggunya bisa setengah jam sendiri.

Ujung-ujungnya kompetisi akan menguntungkan konsumen (liberal sekali ya kalimat ini). Konsumen bisa mendapatkan banyak alternatif moda transportasi. Yang mana yang paling murah, paling cepat, sekaligus paling nyaman, itu yang akan diambil konsumen. Logika sederhana.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. Ya saya jg sekarang memfavoritkan gojek ini. Harganya jelas dan cepat. Beda jauh dgn ojek pangkalan, dengan jarak yg sama harganya bisa dua kali lipat. Kali ini saya angkat jempol lg utk teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *