Cerita Vaksinasi Zafran

Salah satu hal yang sangat saya syukuri saat ini adalah bahwa kami tidak termasuk dalam korban vaksin palsu yang sedang heboh karena jika melihat cerita teman-teman kami yang anaknya diduga kena vaksin palsu dan harus vaksin ulang, saya berkesimpulan bahwa siapa saja bisa kena.

Akar masalahnya tentu saja adalah kelangkaan vaksin tertentu yang terjadi bertahun-tahun. Sejak lahir, Zafran diberi tabel daftar vaksin yang harus diberikan pada usia tertentu. Ada cukup banyak macam, mulai cacar, polio, varisela, dll. Sampai pada waktu jadwal vaksin varisela, stoknya tidak ada di rumah sakit manapun di ibu kota negara kesatuan republik indonesia ini. Rumah sakit kalaupun ada stok hanya 10 biji. Ribuan anak sudah mengantri. Zafran waktu itu dapat antrian nomor 938 (iya, saya mengarang angka 38, yang jelas nomor 900-an).

Kami bergerilya mencari ke sana ke mari, sampai menemukan klinik kecil di Jakarta Pusat yang menyediakan vaksin varisela. Kabarnya mereka memakai jalur distribusi yang berbeda dengan jalur resmi. Waktu berita vaksin palsu beredar, hal pertama yang kami cek adalah apakah klinik tersebut masuk daftar atau tidak. Alhamdulillah ternyata tidak.

Di umur dua tahun ini, daftar vaksinasi yang belum diberikan tinggal DPT (tahap terakhir) dan influenza. Vaksin DPT ini juga menarik. Kami biasa memilih Infanrix yang tidak mengakibatkan demam. Tapi sejak Zafran umur 18 bulan sampai 2 tahun ini, vaksin Infanrix belum juga ada. Adanya versi Pentabio yang berefek demam. Akhirnya daripada tidak kunjung divaksin, kami memutuskan untuk memberikan Zafran vaksin Pentabio ini.

Hasilnya…. ya memang demam. Si Zafran belum pernah menangis sehebat itu. Ibunya panik. Bapaknya apalagi sampai cuma bisa bengong. Kalau tahu efeknya seperti itu, mungkin saya memilih menunggu vaksin Infanrix ada.

Kondisi ini kira-kira dua hari. Hari ini dia sudah ceria lagi seperti biasa. Hal yang saya cek pertama kali, saya minta dia berhitung satu sampai sepuluh. Dia langsung menyahut satu dua tiga… sampai sepuluh, dilanjut one two three … sampai ten (nggak tahu kenapa eight-nya dilewati, habis seven terus nine). Alhamdulillah, perkembangan kemampuan bicaranya tidak ter-reset.

Saya jadi ingat bapak, dulu bapak pernah bilang, “Anak sehat ceria ga apa-apa kok dibikin sakit dengan imunisasi.” Tapi alhamdulillah bapak dulu tidak sampai menjadi antivaksin, saya masih mendapat imunisasi, hehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. Wah saya paling tidak tahan liat anak demam, apalagi kalo diakibatkan vaksin.. Dulu sih waktu divaksin/imunisasi apa itu yg berefek demam dikasih tips ssederhana ama sodara, dikasih tai cacing yg gamoang ditemukan di tanah gembur, dioleskan di bekas suntikannya.. Alhamdulillah jadinya tidak demam & tak rewel

  2. baru baca postingannya.. hehe
    Pokoke pentabio emang TOP deh mas,
    Anakku umur 2 bulan, yang biasanya murah senyum dan ngga rewel, mendadak jadi “hulk” form, nangis terus sampe ibu bapaknya yang notabene “orang tua nubie”, dibuat terkesima.
    Next time vaksin DPT (Kalo dapetnya yang Pentabio lagi), aku dah kasih checklist ke istri :
    – Vaksinnya harus weekend, supaya kita bisa nemenin anak
    – Obat penurun panas anak
    – Selain badan si baby harus FIT, badan ibu bapaknya juga musti FIT supaya bisa gendong dia kl ngga mau ditaruh di kasur 😀
    – Siapin jatah cutii.. (in case demam berlanjut, atau bapak ibunya jadi sakit pinggang efek gendongin semaleman) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *