Mudik 2016: Perjalanan Menghindari Brexit!

Saya rasa Brexit (Brebes Timur Exit) akan diingat orang sebagai puncak kemacetan, neraka mudik, dan segudang kata traumatis yang lain. Bagaimana bisa terjadi kemacetan hingga 24 jam! Saya pernah terjebak macet dalam kondisi yang mirip — menunggu buka tutup jalan — di Puncak, hanya tiga jam dan itu sangat stressful. Ini menunggu buka tutup jalan hingga lebih dari sehari semalam.

Saya memulai perjalanan mudik tepat pada waktu puncak arus mudik dimulai, yaitu weekend terakhir sebelum lebaran, yang mana hari Senin-nya sudah liburan cuti bersama. Saya berangkat dari Jakarta Jumat malam pukul 20:30. Kondisi tol JORR lancar relatif lengang. Ada sesuatu yang membedakan dengan perjalanan mudik ke Bandung setiap libur weekend, yaitu hilangnya truk dari jalan tol! Suasana tol ramai mobil pribadi dan lancar. Menyenangkan sekali karena tol terasa longgar dan tidak sumpek seperti biasanya.

Tapi kesenangan ini hanya sampai simpang susun Cikunir untuk masuk ke tol Cikampek. Mulai dari sini kepadatan sudah dimulai. Kecepatan mobil maksimal hanya 30 km/jam. Kepadatan arus diperparah oleh rest area yang penuh dan mobil-mobil yang beristirahat di badan jalan. Kondisi ini berlanjut hingga tol Cipali. Meskipun mulai mengantuk, saya mengurungkan niat buat masuk rest area karena di dalam situ juga macet. Daripada macet-macetan di rest area mending macet-macetan di jalan tolnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Saya lirik ke Waze untuk melihat kondisi gerbang tol Palimanan. Nampaknya antriannya sangat panjang, jadi seperti tahun lalu, saya keluar di Sumberjaya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan arteri. Jalannya kosong. Kami memasuki kota Cirebon pukul setengah empat pagi. Masih ada waktu untuk shalat tarawih. Kota Cirebon adalah kota tujuan pertama dan hari Sabtu kami habiskan untuk bersilaturahmi ke keluarga. Jalan raya Pantura di Mundu, Cirebon, Sabtu sore itu sudah macet. Sebuah tanda-tanda bahwa arus mudik semakin dekat dengan puncaknya.

Kami melanjutkan perjalanan mudik pukul setengah dua pagi, satu setengah jam lebih awal dibandingkan tahun lalu. Saya mengambil jalur Pantura ketimbang masuk ke tol Palikanci, Kanci Pejagan, dan Pejagan Brebes. Pertimbangan saya: jika saya terjebak macet di tol saya tidak bisa berbuat sesuatu, sedangkan jika di non tol setidaknya masih bisa putar balik. Pantura ramai sekali penuh dengan pemotor yang ngebut zig-zag ke sana ke mari. Kecepatan sekitar 50-60 km/jam. Tahun lalu, jam tujuh malam, kami sudah sampai tujuan.

Setengah jam berjalan, kami baru sampai Gebang (Cirebon) menjelang Losari, tiba-tiba lalu lintas berhenti. Lama-lama berhentinya kok tidak sehat ya. Jam setengah empat pagi, saya lirik dashboard, kami hanya maju 2 km. Artinya 1 km/jam. Saya hitung-hitung, Brebes/Tegal masih 30 km di depan. Artinya sehari semalam saya baru bisa sampai Tegal. Mau sampai Tulungagung jam berapa?

Kebetulan waktu itu saya ada di jalur kiri dan di sebelah kanan saya ada putaran balik yang diberi penghalang dari bambu. Ada orang yang menyingkirkan penghalang itu lalu mengetuk jendela mobil, “Pak kalau mau putar balik lewat situ!”. Rupaya ia sopir truk yang memprovokasi saya untuk putar balik supaya ia dapat space bisa putar balik. Saya sudah takut duluan dia punya maksud tertentu jadi saya jawab, “Tidak pak terima kasih.” Kemudian ada truk lain yang mundur dan putar balik juga. Tapi manuver sopir truk tadi membuat saya berpikir ulang dan dipaksa mengambil keputusan cepat. Sehari semalam diam di situ-situ saja. Bagaimana jika si Zafran lapar? Rewel? Bagaimana jika mobil kehabisan bensin? Akhirnya saya memutuskan untuk putar balik. Biarlah ga jadi mudik daripada diam tak berdaya di kemacetan begitu.

Saya kemudian menepikan mobil di tepi jalan Pantura di sisi yang lengang dan mulai mencari jalan alternatif. Tidak jauh di depan saya ada jalan ke kiri. Beberapa truk dan mobil berbelok ke situ. Saya cek jalan ini tembus ke Ciledug. Oke jadi ini rencana B. Saya akan mencari jalan untuk menuju ke Slawi lewat Ciledug, Ketanggungan, Jati Barang lalu tembus ke Slawi.

Jadi di pagi gelap itu saya merayap mencari jalan di daerah Ciledug Ketanggungan. Jalannya berlubang-lubang dan gelap gulita. Untungnya jalannya kosong. Kami berhenti dulu di sebuah masjid di tepi jalan Ketanggungan untuk menunaikan shalat Subuh. Ceramah yang sempat saya dengar dari ustadz-nya adalah, “kultum hari ini dipersingkat karena akan mudik.” Saya menangkap bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa halus.

Hari mulai terang ketika kami mulai melanjutkan perjalanan ke arah Slawi. Sampai menjelang Jatibarang, tiba-tiba arus lalu lintas berhenti dan maju pelan-pelan seperti tadi. Kadung trauma dengan Losari, saya belok ambil kanan lewat jalan sawah untuk mengangkut padi. Saya berdoa semoga jalan ini tidak buntu atau tidak ada papasan dengan mobil lain karena tidak mungkin untuk putar balik. Kemacetan ini ternyata hanya karena lampu merah perempatan Jatibarang yang masih normal. Tidak ada petugas yang mengatur. Mungkin karena masih pagi kali ya.

Sekitar pukul tujuh pagi kami sampai Slawi. Sampai di sini jika belok kiri, kami akan sampai Tegal. Bergabung kembali dengan kemacetan. Setengah putus asa saya bilang ke istri, “Tidak ada Semarang hari ini! Kita ambil jalur selatan, menginap di Jogja!” Jadi alih-alih belok kiri, saya ambil ke kanan arah ke Purbalingga. Jadi kembali kami merayap semakin menjauhi Pantura, melalui jalan kecil berbukit berkelok-kelok di Randudongkal arah ke Purbalingga.

Pukul delapan pagi, Zafran mulai rewel karena lapar. Roti dan segala camilan yang dibeli di Alfamart di Jatibarang tidak mau. Di tengah bukit terpencil begini mana ada warung, jadi ketika ada warung dan mushola di sana, saya belok saja ke situ. Warungnya tutup. Baru buka sore hari. Ya sudah sekalian istirahat dan buang air kecil. Waze memperkirakan kami akan baru sampai Purbalingga pukul 09:45. Ini baru Purbalingga. Belum Wonosobo. Belum Jogja. Dan tentu saja belum Tulungagung.

Waktu itulah saya rasakan betul pertolongan Allah datang. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyapa saya dan dengan ramah menanyakan tujuan saya. Saya bilang mudik ke Jawa Timur. Beliau menyarankan untuk kembali ke arah Pemalang daripada ke jalur selatan karena Pemalang Pekalongan sudah mulai lancar. Melihat saya masih ragu, beliau juga memberitahu arah ke Kajen jika belum mau masuk Pantura. Baru dari Kajen masuk ke kota Pekalongan.

Alhamdulillah, jadinya ada Semarang hari ini, kata saya sambil terkekeh senang. Dengan penuh semangat saya kembali mendaki gunung lewati lembah, menyeberangi sungai Comal beberapa kali. Tengah hari, kami sampai di Pekalongan dan mencari KFC, salah satu makanan kesukaan Zafran. Kami menemukan restoran KFC itu di sebuah mall yang semrawut. Kami istirahat di Masjid Raya Pekalongan sambil Zafran makan siang. Saya mencret-mencret di WC masjid. Tapi lega karena sudah lolos dari kemacetan parah di Brebes-Tegal.

Pukul 13:30 kami melanjutkan perjalanan melalui Pantura. Alhamdulillah lalu lintas sangat lancar dan cenderung sepi. Pukul 15:30 kami sudah masuk tol Krapyak Jatingaleh Semarang. Pukul empat sore kami sudah meluncur di lingkar luar Salatiga. Di sini kami memutuskan untuk istirahat dan menginap di Solo karena kondisi fisik dan mental kami sudah tidak memungkinkan.

Pukul 18:00 kami sampai Solo dan mampir dulu ke Pizza Hut Jl. Slamet Riyadi. Saya bilang ke mbak Pizza Hut-nya, kami ke sini hanya setahun sekali lho mba, hehehe. Tahun lalu kami istirahat siang di sini. Kami lalu menginap di hotel Amarelo. Ini kelasnya hotel budget tapi bagus sekali. Kamarnya lebih luas daripada Fave Hotel atau Amaris Hotel. Pagi-pagi buta selepas sahur, kami segera berkemas dan melanjutkan perjalanan mudik yang belum selesai.

Hari Senin pagi, jalur Solo – Sragen – Ngawi cukup lancar. Saya sengaja tidak lewat Wonogiri supaya lebih santai. Sekitar pukul sembilan pagi, kami mampir dulu di Restoran Duta Ngawi (tempat bus Harapan Jaya istirahat makan malam itu). Zafran sarapan pagi. Setelah itu mengambil jalur Madiun – Ponorogo lalu Trenggalek. Pukul 13:00 kami sampai di Tulungagung. Alhamdulillah.

Tulungagung, 9 Juli 2016.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. Alhamdulillah.. Seneng mendengar perjalanannya lancar… Btw saya juga kmaren jalan2 ke tulung agung pas minggu ketiga puasa.. Sowan ke tempat teman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *