Midnight Sale, Bukber, Persiapan Mudik, dan Sepuluh Malam Terakhir

Hari Jumat lalu saya ikut shalat Jumat di Masjid di lingkungan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Khatib berpesan (kurang lebih) bahwa telah terjadi gerakan sistematis dan terstruktur para kapitalis dan liberalis untuk mengaburkan umat Islam dengan cara memberinya iming-iming diskon tengah malam dan kegiatan-kegiatan yang membuat umat Islam semakin lupa dengan Ramadhan. Padahal di sana ada sepuluh malam terakhir yang paling utama, salah satunya ada malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Pernyataan khatib tersebut valid karena memang begitulah kenyataannya. Tetapi saya mau kritik sisi pemikiran konspiratifnya bahwa semua ini telah dirancang untuk mengerdilkan Islam.

Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia saat ini tidak hanya menjadi ritual milik umat Islam, tetapi telah menjadi tradisi nasional. Ritual mudik hanya ada di Indonesia dan yang mudik bukan hanya umat Islam saja, tetapi semua kaum urban yang merayakan tradisi pulang kampung bersama-sama. Demikian pula tradisi buka bersama. Kata “buka bersama” ini tidak hanya dilakukan oleh yang berpuasa saja, tapi juga umat agama lain. Saya punya teman-teman non muslim yang acara “Safari Ramadhan”-nya jauh lebih sibuk dari saya. Setiap hari nyaris selalu ada agenda “buka puasa bersama”.

Tentang diskon dan midnight sale, saya rasa itu hanya insting pebisnis yang mengendus potensi pasar. Seperti ikan hiu yang bisa mengendus darah dari jarak jauh. Kenapa harus tengah malam? Karena orang puasa di siang hari sehingga malas keluar, malam hari adalah saat yang tepat untuk mendatangkan mereka. Dan kenapa harus sepuluh hari terakhir? Simpel sebenarnya, karena mayoritas orang sudah gajian dan dapat THR. Awal-awal Ramadhan orang belum pegang uang.

Jadi menurut saya sama sekali tidak ada konspirasi wahyudi di sini. Yaa kalau berpikirnya sudah konspirasi, konspirasi apa saja bisa dihubung-hubungkan sih.

Dan justru di sinilah masalahnya. Inilah tantangan bagi para pendakwah dan ulama. Daripada sibuk berdebat, menyalahkan konspirasi wahyudi, kapitalis, liberalis, menyalahkan pendapat yang berbeda (sholat tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat?), menyerang pihak yang menyuruh menghormati orang yang tidak puasa — bagaimana cara mengedukasi umat yang sudah memiliki tradisi/kebudayaan yang kuat ini? Atau setidaknya, bagaimana cara membagi waktu dan mengakali jadwal yang semakin padat tanpa mengurangi intensitas ibadah.

Saya memakai istilah “mengakali” karena tidak mau terjebak untuk men-judge yang ikut midnight sale, bukber, mudik, dan segudang acara lain lebih buruk daripada yang tetap tekun dan istiqomah beribadah. Belum tentu kan? Kita tidak tahu masing-masing orang. Dan kita suka melabeli dan menuduh hanya dari luarnya saja.

Entahlah. Wallahu a’lam.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. Untuk midnight sale mau segede apapun diskonnya aku gak pernah minat. Jam segitu mending tidur. Lagian gak tahan sama antriannya. Biaya psikologisnya gede banget itu. Halah. 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *