Ikhlas, Antara Makna Literal dan Sufistik

Saya kemarin baca status di Facebook yang kurang lebih begini, “Ikhlas adalah tanpa mengharapkan apa-apa. Termasuk mengharap pahala.” Benarkah mengharap pahala itu jadi tidak ikhlas? Saya jadi ingat kalimat sufi yang jadi sangat populer setelah dibikin lagu oleh Ahmad Dhani, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masih kah kau sujud kepada-Nya?”

Menurut saya, kalimat-kalimat sufistik seperti ini benar tapi bukan untuk konsumsi umum karena memerlukan perenungan yang mendalam. Sama halnya dengan liberalis yang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Perlu perenungan untuk memahami bahwa kalimat itu tidak sama dengan sinkretisme. Cuma kalau itu dimakan mentah-mentah sama awam seperti saya, ya bahaya, bisa luntur keimanan saya dan malah menjurus ke sinkretisme (saya otaknya masih ga sampai memahami pernyataan liberalis ini). Sinkretisme, menurut Wikipedia, adalah proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan.

Kembali ke kalimat ikhlas yang sufistik tadi. Kalau bahasannya adalah sufi, makrifat, itu adalah ikhlas yang levelnya tingkat dewa. Saya pernah baca, lupa bacaan yang mana, tapi merujuknya ke kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athailah. Kira-kira begini: pahala bukanlah tujuan orang yang ingin mengenal Allah (makrifatullah). Bahkan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai pun tak ingin. Tujuan utamanya adalah Allah sendiri. Kalau dikasih pahala, kalau bisa biarlah pahala itu disumbangkan saja ke yang memerlukan. Gitu, hehe…

Konsep ini saya rasa malah “berbahaya” untuk beberapa pihak. Salah-salah malah bikin sesat, sombong, dan penyakit hati lainnya. Seperti konsep manunggaling kawula lan gusti ajaran Syekh Siti Jenar. Ajaran makrifatullah yang sangat dalam tapi kalau salah menjadi melenceng bisa membuat orang merasa jadi Tuhan (karena kan merasa sudah bersatu?).

Saya tidak menganggap bahwa ilmu sufi/makrifat itu berbahaya. Ilmu makrifat banyak sekali mengajarkan tentang kedekatan hubungan manusia dan Tuhannya, tentang kelembutan akal budi. Ilmu makrifat melengkapi ilmu syariat yang makin hari saya merasa makin terasa kaku dan cenderung menyalahkan pihak yang berbeda. Ada orang yang merasa lebih cocok melalui jalan makrifat, ada yang lebih cocok dengan jalan syariat. Seperti ayat yang kita baca setiap hari, Ihdinasshiratal mustaqim. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jika ada yang tak kunjung menemukan pencerahan di jalan syariat, mungkin akan menemukan cahaya di jalan makrifat.

Saya ada di mana? Lha tidak tahu. Ibadah saja belum sekenceng teman-teman yang bersemangat menempuh jalan syariat. Disebut makrifat juga baru dzikir 33 kali saja pikiran sudah melayang kemana-mana, hehehe… Idealnya tentu syariat yang bermakrifat. Joss tenan.

Jadi dalam konteks umum, saya rasa, berharap pahala itu masih termasuk ikhlas kok. Malah ada dalilnya bahwa berlomba-lombalah dalam mencari pahala. Pahala itu salah satu motivasi yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya. Sedemikian Maha Pemurah nya sampai di bulan Ramadhan ini ada yang dilipatgandakan sampai 700 kali (lha abis itu ada yang ngitung pakai kalkulator jika sedekah Rp. 1000 berarti akan dapat balikan senilai Rp. 700.000).

Menjadi tidak ikhlas jika berharap sesuatu dari makhluk, bukan Allah. Misalnya, berharap dipuji, berharap dianggap baik, dianggap berilmu, pinter, kaya, ganteng, beranggapan lebih baik, lebih khusyuk, lebih tinggi dari orang lain dan hal-hal duniawi begitu. Berharap cintamu diterima gebetan sehingga dijadikan pacar juga termasuk tidak ikhlas lho mblo, kwkwkw…

Entahlah. Wallahua’lam.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *