Politik Terdzolimi

Kita, orang Indonesia, nampaknya cenderung punya simpati kepada yang kita anggap terdzolimi. Khususnya dalam hal memilih pemimpin baik itu Pilpres maupun Pilkada. Coba ya saya telusuri.

Dimulai dari awal SBY naik jadi presiden. Waktu itu beliau adalah menteri anggota kabinet Presiden Megawati, calon petahana. Ketika semakin dekat Pilpres, ada sebuah kesalahan kecil dari sekretariat, yaitu tidak diundangnya SBY ke upacara kalau tidak salah. Kecil dan sepele sebenarnya, tapi sudah cukup buat tim pencitraannya sebagai bahan untuk drama terdzolimi. Semua orang, termasuk saya, langsung menjatuhkan pilihan ke beliau.

Lanjut. Apa yang membuat saya memilih Jokowi waktu Pilpres kemarin? Salah satunya –mungkin — isu, berita, dan fitnah bertubi-tubi dari lawan politik yang melancarkan kampanye hitam. Lebih muak lagi ketika tokoh utama kampanye hitam adalah mereka yang mengatasnamakan agama. Ketika Fahri Hamzah sempat menyebut kata “sinting”, lengkaplah sudah. Bahan-bahan sudah lengkap tinggal digoreng saja oleh tim pencitraannya agar kesan terdzolimi itu teramplifikasi dan dramatis.

Sekarang jelang Pilkada DKI. Pola masyarakat kita masih sama. Teman Ahok secara pelan-pelan mengumpulkan KTP dan hampir setahun belum juga tembus sejuta, meskipun syarat minimum KPU sudah tembus (dan karena itu Ahok memutuskan untuk independen). Tiba-tiba, dihembuskan berbagai isu bahwa DPR akan meningkatkan jumlah syarat minimum, harus bermaterai, harus sudah ada nama wakil dll. Ketika Teman Ahok memutuskan untuk mengumpulkan ulang formulir dukungan, hanya dalam waktu sebulan jumlah syarat minimum independen sudah terlampaui. Ngeri ya.

Dari pengalaman sejarah itu, apakah masih tetap akan pakai kampanye hitam lagi? Menyerang Ahok dari sisi SARA hanya akan membuatnya semakin terdzolimi dan semakin banyak dukungan yang akan mengalir. Tak terbendung. Sebaiknya adu program dan adu visi misi.

Tapi sulitnya, memang saat ini belum ada alternatif selain Ahok kan? Yang ada masih para bakal calon yang sedang berusaha mendapatkan dukungan partai. Partai Gerindra dan PDIP masih bermain catur dan melihat situasi. Jadi apa yang mau diadu?

Mundurnya Ridwan Kamil dari arena benar-benar membuat DKI seperti kehilangan calon alternatif. Saya sebenarnya menunggu Sandiaga Uno memaparkan program-programnya. Beliau tampaknya diterima oleh kalangan agamis, meskipun secara umum, popularitasnya kalah jauh dibanding Yusril atau Haji Lulung. Saya beberapa kali mendengarkan ceramah dan mendapatkan testimoni positif tentang Sandiaga Uno seperti kebiasaan beliau yang puasa Daud dll. Tapi saya juga pernah mendengar kalau Saratoga tidak terlalu clean juga dalam praktik bisnisnya. Juga akhir-akhir ini, nama beliau masuk daftar Panama Papers. Sesuatu hal yang perlu dikupas lebih lanjut.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

  1. liat tagline headernya dan ternyata bukan lagi “a personal blog of an IT worker, phographer, freak guy, and also musician” :)))
    termasuk politisasi blog? #halah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *