Membandingkan Layanan Pom Bensin Shell dan Total

Saya hanya melihat Shell dan Total karena Pertamina sudah jelas keluar dari persaingan memperebutkan pasar bensin non subsidi. Saya ngga tahu seperti apa jadinya pom bensin Pertamina jika sudah tidak menjual Premium.

Bensin non subsidi jelas lebih mahal daripada bensin subsidi. Sekarang mungkin tidak terlalu banyak beda, tapi beberapa waktu yang dulu bensin non subsidi pernah mencapai harga 12 ribu, hampir dua kali lipat dari bensin subsidi. Dengan beda harga seperti ini, wajar jika pelanggan mengharapkan ada layanan lebih dari pom bensin. Dan seringnya, Pertamina tidak pernah membedakan pelanggan Pertamax dan Premium. Wajar kalau pelanggan bensin non subsidi pindah ke Shell atau Total.

Saya mau bahas Shell dulu. Saya suka beli bensin di Shell karena lebih sepi daripada Pertamina. Apalagi Shell memberikan layanan bersihkan kaca mobil secara gratis. Jakarta yang berdebu seringkali membuat saya harus membersihkan kaca mobil pakai air wiper sehingga air wiper yang campur debu membuat kaca mobil jadi kotor. Daripada isi bensin ke Pertamina, mendingan ke Shell. Tangki penuh, kaca pun bersih. Selain itu operatornya lebih ramah dan terkesan well trained.

Ketika harga minyak jatuh dan harga bensin non-subsidi tak beda jauh dengan bensin subsidi, saya sering melihat Shell lebih ramai antrian, khususnya motor. Sepeda motor tidak ada layanan tambahan seperti membersihkan kaca. Jadi kondisinya tidak jauh beda dengan Pertamina.

Sekarang Total. Total ini dulu pom bensin yang sangat sepi. Saya lihat memang harganya agak jauh di atas Shell. Biasanya Shell Super 92 pasang jarak Rp 50-100 lebih mahal dari Pertamax. Total Performance 92 jauh di atas itu. Saya pikir mungkin itu strateginya Total mengambil pasar kelas atas. Strategi yang agaknya keliru karena orang Indonesia itu sangat price sensitive.

Akhir-akhir ini saya melihat Total menurunkan harganya dan pasang harga sama dengan Shell. Jadi mereka benar-benar berkompetisi head to head. Layanan bersihkan kaca mobil ala Shell sudah ditiru Total. Gampang mah meniru layanan model begini. Operatornya masih kurang ramah dibanding Shell. Tapi saya melihat, jumlah antrian sepeda motor tidak sepanjang Shell. Total masih terkesan sepi-sepi saja.

Saya memang tidak tahu jumlah pelanggan Shell dan Total, tapi seharusnya dengan layanan dan harga yang mirip-mirip, seharusnya pelanggannya juga mirip-mirip. Tapi di Shell, antrian sepeda motor sering terlihat daripada Total.

Ternyata ada satu perbedaan signifikan di keduanya. Perbedaan yang cukup prinsip di proses pengisian bensin. Ini yang saya catat:

Di Shell – buka tangki – ditanya “V-Power pak”? (V-Power adalah bensin termahalnya Shell) – saya jawab “Super 92” – Isi tangki – selesai – kasih uang – operator taruh nozzle ke tempatnya – operator berjalan ke kasir – menunggu kasir memproses – operator berjalan lagi ke tempat kita mengisi – kasih kembalian atau struk kalau pakai uang pas – ucapkan “Terima kasih” – Selesai.

Di Total – buka tangki – ditanya isi apa – saya jawab “92” – isi tangki – selesai – kasih uang – operator taruh nozzle ke tempatnya – kasih kembalian dan struk – ucapkan “Terima kasih” – Selesai.

Bedanya ada di titik kasir. Di Total, setiap operator membawa uang dan berkuasa memproses pembayaran. Sementara di Shell, proses pembayaran dilakukan di kasir. Sepintas tidak jauh beda waktunya. Tapi dalam proses yang mengalir, titik kasir menyebabkan bottleneck yang menghambat proses. Hasilnya, di Shell, antrian lebih sering terlihat daripada di Total. Shell harus menemukan cara supaya proses di kasir itu menjadi lebih cepat kalau ia ingin tetap kompetitif melawan Total.

Metodologi analisis proses ini dipelajari dalam framework Lean dan Six Sigma. Framework tsb digunakan untuk continuous improvement. Nanti saya cerita ini di posting selanjutnya, hehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 thoughts

    1. Masih, kalau sebelumnya harganya dibikin tetap (jadi harga minyak mahal subsidi sangat besar), menjadi jumlah subsidinya yang dibikin tetap (harganya akan mengikuti harga minyak dunia).

  1. Pasti ada target market untuk bensin RON 92 sehingga Shell dan Total mau bersaing di Indonesia. Mereka berani bikin pom bensin di Indonesia karena sudah tahu ada pasarnya. Dan pasarnya tidak peduli meskipun harga bensinnya lebih tinggi (saya tidak bilang mahal).

    Saya nggak nyetir, tapi saya sering bantu suami cari pom bensin jika kami sedang di luar kota. Selama di jalan, otak saya menandai pom bensin mana yang mengandung musholla, mengandung tempat makan, mengandung cafe ber-Wifi, bahkan mengandung kamar mandi berbayar dengan shower. Total dan Shell sebaiknya memperhatikan hal-hal seperti ini.

  2. di Surabaya, Shell sudah tutup semua sih sepertinya. Mungkin tidak laku, atau laku tapi belum bisa menutup ongkos operasional. atau mungkin tiarap sementara waktu untuk hadir lagi di lain kali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *