Energi Alternatif

Tiba-tiba barusan terlintas di kepala saya, kenapa energi alternatif di Indonesia tidak berkembang ya? Apalagi sekarang harga minyak sedang murah, pasti tambah jalan di tempat perkembangannya. Padahal potensinya sangat besar. Matahari bersinar sepanjang tahun, angin berhembus kencang, dsb.

Di rumah saya saja, saya lihat ada dua macam potensi, yaitu energi matahari dan energi angin. Menjelang sore antara jam 3 sampai jam 6, di teras depan rumah anginnya berhembus cukup kencang. Seperti ada jalur angin lewat situ. Saya belum ukur apakah kekuatannya cukup untuk menggerakkan turbin penggerak dinamo generator listrik. Tentu asik kalau jadi bahan penelitian DIY.

Hehehe, padahal, ide DIY irigasi taman otomatis saja belum terlaksana juga.

Saya jadi kepikiran sawah bapak di desa. Saya bertanya-tanya apakah ide ini bisa diimplementasikan sebagai teknologi tepat guna. Energi matahari jelas bisa dipakai. Energi angin kemungkinan besar bisa, lha wong saya dulu biasa main layang-layang di sana. Energi listrik yang didapat bisa untuk menghidupkan pompa air. Selama ini pompa yang dipakai adalah mesin pompa berbahan bakar bensin atau solar. Kalaulah harga aki sebagai penyimpan energi masih mahal, energi alternatif ini bisa dipakai siang hari, sementara malam harinya pakai mesin pompa biasa. Biayanya bisa diajukan dari dana desa yang sekarang milyaran itu. Implementasi teknisnya, ada di internet. Terima kasih kepada zaman informasi.

Tapi mungkin sekarang masalah desa adalah kekurangan tenaga ahli. Semua anak-anak mudanya berurbanisasi ke kota (termasuk saya 🙁 ). Di desa tinggal tenaga-tenaga yang beranjak menua. Karena bidang saya engineering, saya kepikirannya potensi energi alternatif. Di bidang lain, mungkin teknologi pertaniannya sendiri yang punya potensi besar untuk dikembangkan.

Tapi realistisnya, tentu tidak mudah untuk kembali ke desa. Orang desa pun belum tentu mau menerima perubahan. Saya masih ingat waktu Pakde saya menjadi kepala desa, warga desa tidak mau diatur-atur ini itu, seperti misalnya tanggal tanam padi. Maunya semaunya mereka sendiri. Saya  juga masih ingat dahsyatnya pertempuran politik jelang pemilihan kepala desa. Penyebaran isu, fitnah, rekayasa opini tak kalah dengan pemilihan presiden. Dan kalau di desa tambah satu lagi: adu kesaktian dukun, kirim-kiriman santet, dan barang mistis lainnya. Hati-hati seseorang bisa kirim radio ke dalam perut hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

  1. salah satu mimpi besar saya adalah menggunakan sumber listrik dari matahari, saya ngiri dengan Prof. Heru Nugroho yang rumahnya sebagian besar dipasok solar sel.

    dan wah baru nyadar kalo skarang ganti theme 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *