Review: Supernova (Intelegensi Embun Pagi)

Buku setebal 700-an halaman itu saya habiskan hanya dalam dua hari. Ini adalah akhir dari heksalogi Supernova, proyek lima belas tahun Dewi Lestari yang sukses besar. IEP adalah simpul yang menggabungkan semua seri mulai dari Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang.

Awas spoiler ya. Jangan baca review saya jika berniat membaca IEP.

Saya membaca Supernova tidak urut, mulai dari seri Akar sekitar tahun 2002, waktu saya menemukan novel ini tergeletak di rumah Pakde saya. Saya sangat terkesan dengan cerita backpacking Bodhi melintasi Asia Tenggara. Lalu saya lompat lagi baca Partikel (2012), baru setelah itu baca dari KPBJ, Petir, dan akhirnya Gelombang. Baru di novel Gelombang lah saya baru mengerti bahwa novel ini bukan hanya sekadar novel perjalanan hidup tokoh utamanya, tapi ini adalah mengenai eksistensi manusia di bumi ini secara spiritual. Dan IEP menggenapi dan mengakhiri serial panjang ini.

Di IEP sama sekali tidak ada perkenalan tokoh. Jadi Anda harus membaca semua serial Supernova agar nyambung. Plot langsung bergerak cepat dari awal sampai akhir. Isinya adalah konflik antara Peretas dan Infiltran melawan Sarvara dalam merebutkan portal mistis. Karena hanya seri Gelombang yang menjelaskan sosok Alfa sebagai seorang Peretas, maka pembukaan IEP adalah menyadarkan satu demi satu tokoh Supernova sebagai Peretas. Mulai dari Bodhi Liong, Elektra Wijaya, Zarah Amala, hingga Gio. Gio ini tokoh unik. Dia tidak punya kemewahan untuk diceritakan dalam satu buku sendiri namun hanya muncul sekelebatan di setiap buku Supernova.

IEP juga menjawab teka-teki Diva, sosok misterius di KPBJ dan kemunculannya yang aneh di Gelombang. Dan semua tokoh didaur ulang, rasanya semua tokoh yang terlibat di seri Supernova kalau ngga Infiltran ya Sarvara.

Tentang Kepercayaan Eksistensi Manusia

Membaca Supernova ini mengingatkan saya akan novel Andi Bombang yang berjudul Kun Fayakun. Awal novel ini adalah tentang bos mafia Jakarta sakti mandraguna bernama Hardi Kobra. Di akhir novel, Hardi Kobra insyaf dan menempuh jalan spiritual. Jadilah novel ini berubah dari perang-perangan seru menjadi pembahasan tarekat dan makrifat Islam, kitab Al-Hikam, dan semacamnya.

Supernova sama. KPBJ, Akar, Petir dominan bercerita tentang perjuangan hidup tokoh-tokohnya. Re yang patah hati ditinggal Rana. Bodhi yang asyik backpacking lintas Asia Tenggara. Elektra yang sukses sebagai pengusaha Warnet. Juga konflik Zarah dengan keluarganya dan kesuksesan dia sebagai fotografer wildlife. Sedangkan Gelombang dan IEP dominan bercerita tentang konsep kepercayaan ini. Jadi mungkin buat pembaca akan merasa aneh dan novel ini tidak bagus karena perubahan dominasi ini.

Saya rasa, konsep dasarnya dari kepercayaan Hindu/Buddha mengenai reinkarnasi dan samsara. Bahwa manusia ini hidup dalam jerat penjara abadi yang terus berulang dari siklus kelahiran ke kematian. Dari situ dikembangkan penulis hingga jadi peran Penjaga (Sarvara) dan Peretas yang dibantu Infiltran. Peretas berusaha mendobrak suatu portal yang penjagaannya melemah karena siklus bumi tertentu untuk menyelamatkan manusia dari samsara. Ini menjadi perang abadi antara Sarvara melawan Peretas.

Inti kepercayaan ini adalah, bahwa dunia ini abadi dan manusia yang belum sempurna akan terlahir kembali dan begitu saja terus berulang.

Tentu saja, eksistensi manusia menurut agama saya, Islam, tidak begitu adanya. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Setelah ini akan ada alam kubur (Alam Barzah) tempat menunggu hari akhir tiba, setelah itu manusia akan ditimbang amal baik dan buruknya di hari pembangkitan di Padang Mahsyar untuk kemudian abadi di alam akhirat (Surga dan Neraka).

Review saya tentang novel Supernova yang lain:

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. saya menamatkannya dengan brutal dalam waktu satu hari, dan saya pusing hahaha

    tetaplah yg terbaik adalah Akar, serial pertama yg saya baca (juga) dan Petir

  2. Sama kayak Infiltran, Peretas, dan Sarvara yang asalnya dari entitas yang sama (hiperentitas), yang, begitu masuk dimensi ini jadi seperti tiga individu yang berbeda, bagaimana (sekali lagi, bagimana) kalo kepercayaan dan agama yang ada di dunia berasal dari keillahian yang sama? Ini jadi perhatian buat saya, untuk seenggaknya tidak lagi memikirkan perbedaan yang mencolok antar kepercayaan. Gimana, kalo kita liat persamaan yang menuntun kita berbuat kebaikan? (Abaikan. Cuma berkoar)

    Thanks reviewnya ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *