Paradoks Teknologi Pengingat

image001

Zaman sekarang, teknologi pengingat atau reminder sudah sangat memudahkan kita dalam mengatur-ngatur segala sesuatu. Mulai jadwal rapat hingga minum obat, semua bisa kita atur dalam ponsel pintar kita. Pada waktunya, ponsel akan menjerit dan mengingatkan bahwa sesuatu akan jatuh tempo.

Tapi rupanya teknologi pengingat ini juga mengurangi perhatian/care kepada saudara, sahabat, dan teman-teman dekat. Seperti halnya media sosial yang menjauhkan yang dekat, teknologi pengingat telah jauh mengurangi kualitas care kita. Begitu pengingat ulang tahun berdering, nyaris hampir otomatis, kita menulis pesan ucapan dengan emoticon atau sticker ultah. Hanya di situ saja. Bayangkan jika reminder itu tidak ada, tentunya tidak ada pesan ucapan dan sticker ultah. Kita kembali harus mengingat — dan karena kapasitas ingatan yang terbatas, otomatis hanya yang personally special saja yang diingat.

Paradoks ya. Karena alasan itulah, saya bertahun-tahun lalu mematikan notifikasi ultah di Facebook saya. Saya tidak ingin kebanjiran pesan tanpa emosi yang didorong oleh teknologi pengingat.

Tentu saja, yang paling juara dan membuat saya merasa personally very-very special for her adalah istri saya. Selalu ada kejutan yang disiapkan. Membuat saya terus belajar apa itu care*. Saya tidak pernah bisa menyamai istri saya kalau ultah-nya tiba. Tapi mudah-mudahan pesan she is personally very-very special for me itu sampai. Setiap hari. Entah lewat telepatik atau apa saja.

*) Saya terpaksa memakai kata bahasa Inggris care karena menurut saya kata “perhatian” tidak memiliki makna sedalam care. Care itu tidak hanya sekadar perhatian, tapi juga menyiratkan merawat dengan kasih sayang.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *