Kendaraan yang Pernah Saya Tunggangi

Sejak bisa naik motor dan mobil, sampai sekarang saya sudah merasakan naik beberapa merk motor dan mobil. Berikut kesan-kesan saya waktu menunggangi kendaraan tersebut. Ini saya tulis mungkin bermanfaat jika ada yang sedang menimbang-nimbang untuk beli atau memakai kendaraan itu. Saya mulai secara kronologis dari sepeda motor dulu.

1. Suzuki Tornado GS 1996

Ini motor pertama saya sekaligus mungkin yang terlama saya pakai. Ini saya pakai mulai SMA (sebelumnya dibonceng pakdenya Zafran, hehe). Lulus SMA motor diboyong ke Surabaya buat kuliah empat tahun. Lalu menghabiskan setahun di Jakarta waktu awal-awal kerja karena belum bisa beli motor sendiri.

Ini adalah motor bebek yang paling enak buat ngebut. Sangat stabil dan tidak ada efek melayang di kecepatan 110 km/jam. Top speed-nya sekitar 135 km/jam. Kegesitan motor ini yang bikin saya kecelakaan menabrak sebuah Honda GL-Pro di sore yang mendung waktu pulang dari rumah Pakde yang sedang ada hajatan. Bekasnya masih ada sampai sekarang.

2. Yamaha Jupiter MX 2007

Ini adalah penerus Tornado yang sudah mulai batuk-batuk di jalanan Jakarta. Karena sudah dijuluki cumi-cumi (karena kepulan asapnya yang gila-gilaan), waktu sudah bisa beli motor, saya pulangkan Tornado dan ganti Jupiter ini.

Alasan pemilihannya benar-benar karena korban iklan Komeng dan Valentino Rossi. Waktu itu Jupiter MX dipersepsikan sebagai motor yang lincah dan cocok untuk kebut-kebutan. Tapi buat saya jauh di bawah Tornado. Sudah ada efek melayang di kecepatan 90 km/jam. Tapi untuk belok lebih enak, mungkin karena efek monoshock-nya.

3. Honda Vario 110cc PGM-FI 2014

Setelah menikah dan pindah ke pinggiran Jakarta, saya merasa Jupiter terlalu keras bantingannya sehingga gampang capek untuk menempuh jarak “jauh”. Akhirnya Jupiter dijual dan ditombokin pakai uang istri buat beli baru. Vario dipilih dengan pertimbangan dia motor matic sehingga lebih nyaman.

Bantingan shockbreaker-nya lembut sehingga nyaman. Posisi sandaran kaki buat saya kurang nyaman dan terlalu menekuk. Sudah ada efek melayang di kecepatan baru 60 km/jam. Rasanya udah ngebut sekali padahal yah baru juga 60 km/jam. Jadi saya takjub juga ada motor matic dibuat kebut-kebutan. Karena bannya kecil, sangat tidak nyaman dan berbahaya buat nerabas lubang yang tidak serius. Cukup ceper sehingga kalau buat boncengan tidak bisa melewati polisi tidur dengan mulus.

Sekarang giliran mobil.

4. Suzuki Carry Extra 1992

Ini mobil pertama yang saya sopiri. Mobil kedua Bapak setelah upgrade dari Suzuki Carry Extra 1990 (karena ingin yang berwarna bulu kera karoseri Adi Putro yang sangat populer waktu itu). Jarak terjauh saya pakai mobil ini adalah Tulungagung Yogyakarta PP ga pakai nginep.

Karena kecil dan enteng (dan tidak punya hidung), jadi mobil ini sangat lincah dan enak buat selap selip. Saya pernah rekor Tulungagung-Bandara Juanda dalam waktu 2,5 jam saja waktu ngantar pakdenya Zafran balik ke Flores. Zaman segitu waktu tempuh normal 3,5-4 jam. Ga enaknya, sumuk alias gerah karena tidak ada AC dan kita duduk pas di atas mesin. Juga setirannya (ternyata) berat karena tidak ada power steering. Tapi dulu ga kerasa karena punya mobilnya cuma itu dan tidak pernah pakai yang lain.

5. Toyota Kijang Kapsul LGX 2002

Mobil bapak penerus Carry. Dibeli awal tahun 2007. Saya tidak sempat bye-bye dengan Carry karena sudah di Jakarta. Tapi terakhir saya pakai Carry untuk datang ke pernikahan atasan saya di Malang. Pertama kali saya pakai Kijang ini untuk hadir ke pernikahan teman kuliah di Blitar.

Buat saya Kijang adalah raja gunung. Kapasitas mesinnya yang 2000cc bikin enak sekali buat naik turun gunung. Cuma suara mesinnya yang tidak halus. Bensinnya boros. Apalagi sebelumnya pakai Carry yang satu liter bisa buat 18 km.

6. Daihatsu Taruna

Mobil pertama pakdenya Zafran. Mini SUV. Tongkrongannya gagah dan pas sekali buat anak muda. Tapi efek limbung (body roll) nya parah. Kita tidak bisa dengan nyaman selap-selip di kecepatan tinggi dengan efek limbung kayak gitu. Untung Pakdenya Zafran diberi rezeki lebih sehingga cepat ganti ke mobil nomor tujuh, hehe…

7. Kijang Innova G series 2010

Mobil “mewah” pertama kami karena ini adalah mobil pertama yang beli langsung bukan seken. Setelah fanatik sama Carry, rupanya Mbahnya Zafran fanatik sama Kijang. Bisa mengangkut semua anggota keluarga kecil kami yang bahagia sesuai dengan NKKBS (Norma-Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) kwkwkw.

Kalau dibandingkan dengan Kijang Kapsul, saya lebih suka Kijang Kapsul. Posisi duduk Innova lebih tinggi dan tegak sehingga rasanya kurang nyaman (efek senyaman sedannya tidak ada). Setirannya ternyata berat (sudah setelan pabrik power steeringnya begitu). Tapi masih memegang predikat si raja gunung. Belum ada yang ngalahin.

8. Daihatsu Xenia 2003

Ini mobil paman yang di Jakarta. Saya dipinjami mobil ini waktu mengadiri pernikahan teman kuliah di Cilegon. Ini juga perjalanan yang masih memakai GPS-nya Nokia N95 hadiah lomba blog.

Kesannya, irit dan enteng. Efek melayangnya sangat parah, kecepatan 80 km/jam saja sudah ngeri saya waktu membawanya di lajur kanan tol Jakarta-Merak. Kena angin samping sedikit saja sudah kayak mau kebanting. Makanya sekarang saya heran kenapa banyak sekali orang yang berani bawa Xenia/Avanza di kecepatan di atas 100 km/jam. Pakai zig-zag lagi.

9. Honda Freed 2014

Pengalaman merasakan lima mobil sebelum ini membuat saya memilih Freed waktu memutuskan untuk membeli mobil. Sebenarnya mobil ini ada di atas kemampuan kami untuk mengkreditnya. Kriteria utama adalah mobil keluarga yang nyaman. Pilihannya Avanza, Innova, Grand Livina, dan Ertiga. Mbahkung-nya Zafran lagi-lagi yang mendorong untuk memilih mobil yang tidak ada di pilihan.

Freed ini secara tampilan memang agak menipu. Tampilannya manis sehingga lebih cocok untuk disetiri ibu-ibu. Tidak ada pilihan kopling manual lagi (the real man use three pedals). Kesannya kecil dan sempit.

Setelah memakai, saya merasa beruntung sekali memilih mobil ini. Ruangnya lebih luas dari yang terlihat karena bentuk badan mobilnya efisien. Tidak ada tonjolan-tonjolan tidak perlu seperti di SUV yang gede tapi cuma muat lima orang. Akselerasinya oke untuk ukuran mesin 1500 cc. Saya baru merasakan efek melayang di kecepatan 140 km/jam. Ini saya coba di tol Cipali yang lurus. Bantingannya empuk dan nyaman dengan efek limbung yang minim meskipun tidak seminim sedan. Ini yang bikin saya bisa menyetir sendiri Jakarta – Tulungagung waktu mudik kemarin. Fun drive.

Sangat pas banget untuk mobil keluarga. Malah agak underrated. Mungkin karena itu pula Honda malas mengembangkannya dan lebih fokus ke Mobilio dan HR-V yang lebih cantik tampilannya.

Ada satu mobil lagi sebetulnya. Chevrolet Captiva. Mobil Amerika pertama keluarga besar kami. Punya pakdenya Zafran juga. Tapi saya baru icip-icip sedikit Tulungagung-Kediri. Nanti mungkin kalau mudik lagi. Coba lagi yo pakde!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. sebenernya pengen bikin postingan ginian juga, tp malu jeh, kalah pengalaman ama sampeyan hehe biarlah saya komen panjang2 disini aja 😀

    motor:
    1. Alfa II R item 1993
    kuat nanjak, pake oli samping, lumayan irit
    2. Legenda 2 2003
    Masih dipake sampe skarang di Jogja, motor favorit saya, belum kepikiran ganti, irit dan perawatannya gampang
    3. Supra 2005
    Pakaian istri sebenernya, tapi lebih sering saya jg makenya kalo di rumah. Irit juga, tapi kadang ada masalah kalo direm mendadak

    dan saya jarang ngebut, jd tak ada pengalaman dgn kecepatan di atas 80 km/jam 😀

    mobil
    1. Galant 2000cc
    luar biasa boros, tapi kalo dipake di jalan raya rasanya enteng banget
    2. Corolla DX 1300cc th 81
    Sedan favorit saya, perawatannya enak, dan lagi2 : irit haha cuma repot pas malem, sering silau kena lampu dr arah berlawanan
    3. Carry 1000cc
    Sudah jelas irit, repot pas hujan, embun dimana2 😀
    4. LX 1800cc
    walopun performanya tak diragukan lg, kerasa borosnya bro, apalagi biasa pake carry, kyknya bakal dijual lg aja, kira2 skarang laku brp ya? #lah

    eh Freed emang ga ada manualnya kah? wah sayang sekali, soalnya saya asli ga pernah dan ga bisa make matic, soal motor juga, saya & istri kompak ga cocok ama matic, manual masih yg terbaik sampai saat ini 😀

    demikianlah
    2. Carry 1000cc
    Jelas ini

    1. Ahaha, suwun sudah dilengkapi. Iya betul, harus bawa handuk kalau bawa Carry dan hujan, embunnya itu ngawur hahaha.

      Galant terkenal lebih kenceng ketimbang Lancer Evo lho mas, ayo coba-coba digeber dikit gasnya 😀

  2. mobil favorit keluarga kami: Grand Livina. Rendah, seperti sedan. Sehingga nenekku yg sudah tua dan kesulitan menekuk kaki, relatif lbh mudah naik turun mobil ini dibanding klo harus naik Innova yg tinggi. Dan juga 7 seaters. sehingga kalo dibawa Suami saat berjalan-jalan bersama mbakyu & ponakan2, pas lah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *