Sekolah Usia Dini

Saya sedikit mengerutkan kening waktu melihat postingan seorang rekan di Path. Beliau memposting foto daftar nama anak yang lulus ujian masuk Taman Kanak-Kanak. Di situ tertera jelas mana yang lulus, mana yang jadi cadangan, mana yang tidak lulus lengkap dengan nilai yang diperoleh. Alhamdulillah, anak beliau lulus. Di lain waktu yang berdekatan, ada ibu yang lain yang memposting kalau anaknya yang berumur tiga tahun akan ujian les yang sedang diikuti. Ibunya sedang deg-deg-an menyadari kalau itu ujian pertama anaknya.

Wait… ujian?

Anak sekecil itu sudah harus merasakan beratnya berkompetisi cara orang dewasa. Saya berpikir apa perasaan si anak yang tidak lulus TK? Bahwa dia sudah mengecewakan orang tuanya? Atau lebih parahnya, menganggap diri sendiri lebih bodoh dari anak-anak lain? Bagaimana cara orang tuanya menyikapi ketidaklulusan itu? Bagaimana cara mereparasi luka si anak? Atau lebih parahnya, boleh jadi orang tua malah memarahi anaknya habis-habisan, bikin malu, mau ditaruh di mana muka ibu kalau bertemu teman-teman arisan?

Sedihnya.

Melihat fakta lapangan begini, kami jadi galau. Berat sekali tantangan orang tua jaman sekarang. Apa ada TK atau bahkan playgroup yang murni bermain saja tanpa kurikulum? Jangan-jangan masuk TK saja sudah harus bisa baca tulis hitung? Sekarang saja, ada saja saudara yang membanggakan kalau anak/keponakan/cucunya yang sepantaran Zafran sudah bisa berhitung satu dua tiga begitu. Sementara si Zafran masih cerewet dengan bahasa buatannya sendiri. Anak bayi yang sudah harus dikompetisikan di antara sanak keluarga.

Buat kami, dunia anak adalah dunia bermain. Namanya bermain ya bermain saja tanpa aturan. Tidak ada itu namanya permainan edukasi. Apalagi kurikulum. Anak-anak belajar dari kekacauan bermain itu. Kekacauan yang tidak dimengerti oleh orang tua yang cenderung memaksakan edukasi dan kurikulum.

Di lain pihak, si Zafran tetap butuh sekolah usia dini. Dia perlu bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Di rumah ia terlalu kesepian karena di kompleks perumahan orang kantoran semua. Tapi apa ada sekolah usia dini yang murni bermain? Kami galau jika harus memaksa Zafran masuk sistem yang sudah ada dan ikut berkompetisi.

Mungkin terpaksa begitu. Jika iya, tugas kami yang menjaga dia untuk tidak hanyut dalam kompetisi ala ala kota metropolitan. Dia harus mendapatkan masa kecilnya 100%.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. masuk tes untuk masuk TK itu keterlaluan sekali, bahkan untuk masuk SD pun tidak manusiawi menurut saya

    tapi tentu tidak semua sekolah seperti itu kok mas, dan saya juga tidak jelas, yg diposting temen sampeyan itu bentuk tesnya bagaimana?

    anak2 saya untungnya masuk TK yg seleksinya cuma berdasarkan usia, dan kepala sekolahnya syukurnya ngerti bener2 dengan situasi anak seusia gitu, beliau bahkan tak mengijinkan orangtua untuk memasukan anaknya sekedar les baca tulis, karena menurut beliau belum waktunya

    tapi ya itulah, beberapa sekolah SD pun menetapkan ujian baca tulis sederhana kadang.

    dan tak usah galau jadi orangtua mas, selalu ada jalan pokoknya 🙂

  2. Kaka, sempat cadangan pas tes di sekolahe skrg gara-gara pas ujian ditunggu Mbah Ti ne (bapaknya bgt). Aku mikir full day school juga terlalu berat, tapi kata mamahe di rumah dia mau ngapain krn energi nya berlebih-lebihan biar dihabiskan di sekolah. Untung gurunya sabar2. Awal2 berat, tapi begitu wis adaptasi, kemarin sempat ngomong kalo ayahnya mutasi dia nggak mau ikut….wah

  3. iya aku juga galau, TK udah ujian, SD udah harus bisa ini itu, dem … makanya banyak ortu yang beralih ke home schooling, tapi tantangan home schooling juga gak main-main, plus mahal juga, mahal di ilmu dan kantong,bismillah semoga menemukan sekolah yang tepat

    emm, katanya sekolah alam bisa jadi pilihan bagus, tapi nggak tau juga ya

  4. Jadi ingat jaman diriku dulu, bahkan masuk SD syaratnya cuma apakah tangan bisa memegang telinga di sisi berlawanan kalau tangannya dilingkarkan di kepala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *