Tentang Laravel Framework

Masih soal main-main framework PHP yang enak dan cepat untuk membuat aplikasi. Setelah menulis Yii Framework, ternyata saya kecewa karena tidak semudah yang saya bayangkan. Ada sesuatu yang membuat pengalaman coding menjadi tidak menyenangkan. Adanya CRUD generator tidak serta merta membuat proses coding lebih cepat tapi malah bisa mbulet karena tidak semua entitas perlu operasi Create Update dan Delete.

Saya ingin mencari framework seperti Maximo 7.5. Definisikan data modelnya, desain user interfacenya, buat workflow-nya. Selesai. Nyaris tidak memerlukan coding manual dan semuanya dilakukan di screen konfigurasi. Tentu saja Maximo adalah aplikasi besar rumit dan mahal. Tapi paling tidak saya ingin mencari yang mendekati itu.

Hampir setahun setelah itu — hehe sepertinya mulai terpola, bulan-bulan santai ada di awal tahun — saya utak-atik framework lagi. Saya cukup terkejut ternyata framework PHP yang saat ini paling populer adalah Laravel. CodeIgniter tampaknya hanya populer di Indonesia (dan sedang menurun sepertinya — Mario Teguh di statusnya sedang mencari programmer yang bisa Laravel, bukan CI). Waktu menulis Yii Framework itu, saya juga menemukan Laravel, tapi kesan saya waktu itu Laravel minim dokumentasi dan memerlukan waktu cukup lama untuk mempelajarinya.

Berbekal review website tadi itu, saya memutuskan untuk mempelajari Laravel. Ada dokumentasi tertulis yang agak-tidak-jelas tapi lumayan untuk diikuti. Saya membacanya sambil menghitung seberapa cepat saya bisa memakainya. Ternyata di Laravel ada website Laracasts yang berisi video-video tutorial. Sebagian besar tidak gratis. Jadi karena itulah kenapa dokumentasi tertulisnya tidak terlalu mendetail. Baiklah.

Setelah mengikuti beberapa video tutorial versi gratisnya, saya mulai memahami Laravel. Dan benar, sepertinya ini sesuai dengan yang saya cari. Untuk membuat operasi CRUD, hanya diperlukan beberapa konfigurasi. Generator-nya yang disebut artisan juga menyenangkan. Fitur-fitur seperti validasi, email, database, sudah tersedia out of the box.

Di sini saya juga belajar Bootstrap, framework CSS yang rupanya telah menjadi semacam standar tampilan web masa kini. Membuat tampilan yang indah sekarang ternyata mudah. Tinggal pakai CSS yang sudah disediakan oleh Bootstrap. Tidak perlu pusing mengatur layout tampilan dan ketidak-konsisten-an Internet Explorer yang legendaris itu :mrgreen: .

Screen di bawah ini saya buat hanya dalam waktu sejam dengan Laravel dan Bootstrap. Menyenangkan sekali hehe…

Capture

FAQ:

Kok belajar mlulu to mas? Ini satu-satunya cara saya untuk tetap update dengan perkembangan programming di luar sana. Di kantor, kerjaan saya sangat spesifik dan sudah tidak menulis kode pogram lagi. Saya merasa sangat ketinggalan pas tahu ada Bootstrap ini.

Kok ndak fokus to mas? Ya PHP, ya Java, ya iOS? Hehehe… kalau ini memang kelemahan saya. Saudara sepupu isteri saya yang psikolog pernah menembak sasaran dengan tepat ketika meng-assess saya sambil lalu. Ga bisa fokus.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *