Main Band Lagi

Terakhir saya main musik bareng dalam format full band adalah waktu Family Picnic 2009 bersama Apa Adanya Band yang bubar tahun 2011. Enam tahun kemudian, di event yang sama, Family Picnic 2015, acaranya adalah kompetisi band antar divisi. Teman saya yang ditunjuk sebagai stage manager berkeliling bertanya siapa saja yang bisa main musik. Jadilah akhirnya kumpulan rekan-rekan kerja yang bisa bermain musik: ada gitaris, ada basis, ada vokalis, keyboardis, dan ada violinis.

Kurang drummer. Ada putra atasan saya ternyata bisa main drum. Diambil juga buat melengkapi formasi. Masalahnya ngeband itu bukan sekadar beberapa pemain musik dikumpulkan dan main bareng. Ngeband itu butuh kesamaan visi dan menekan ego. Apalagi kalau latihannya cuma sekali saja.

Tema lagu yang harus dimainkan adalah lagu anak-anak. Hasil diskusi, lagu yang akan kami bawakan adalah Paman Datang, Naik Becak, Naik Kereta Api, dan Naik Delman dibawakan secara medley. Konsepnya, kemarin paman datang lalu mengajak jalan-jalan naik becak. Sampai stasiun mau naik kereta api. Eh, ternyata kereta apinya udah berangkat duluan karena tidak berhenti lama. Jadilah paman pulang lagi dengan naik delman.

Kami membuat aransemen dengan tempo yang pelan di lagu Paman Datang. Diawali intro solo biola dan diiringi suara piano, lagu masuk. Kemudian mulai menghentak di Naik Becak, sampai cepat sekali di lagu Naik Delman. Lagu diakhiri dengan show off para musisi yang seolah-olah ga rela kalau mainnya begitu doang mentang-mentang lagu anak-anak. Harus ada solo gitar ala rock.

Karena kami semua bukan musisi betulan, jadinya seru banget pas bikin aransemen lagu ini. Ardi, violinist, belajar biola baru setahun. Ia terobsesi ingin tampil di panggung Family Picnic waktu acara Family Picnic tahun lalu di Dufan. You got it bro. Jadi pemilihan nada dasar tergantung dia nyamannya ada di kunci apa. Akhirnya kami main di nada dasar D yang agak ketinggian buat dua vokalis, Dwi dan Maria. Untung ga sampai kecekik suaranya.

Waktu ketemu Rasya, drummer, juga begitu. Saya memberi garis besar bagaimana kira-kira ketukan drum-nya. Tapi kelihatannya dia tidak nyaman. Jadi saya sarankan senyamannya saja enaknya bagaimana. Tapi waktu ia bisa bermain dengan nyaman, lagunya jadi kerasa enak sekali.

Saya sendiri karena kemampuan berpiano saya begitu-begitu saja, tidak ikutan dalam sesi show off. Mas Toto yang bertugas untuk membuat solo gitar nya sebagus mungkin. Saya bertugas memberi background suara untuk biola dan gitar. Tapi memang begitulah seharusnya sebuah band itu. Masing-masing saling mengisi. Kalau semua pemain ingin dominan, jadinya malah tidak bagus dan tidak harmonis suaranya. Tumpuk-menumpuk jadi satu.

Waktu tampil kemarin, setiap band hanya diberi waktu lima menit untuk persiapan. Itu waktu dimana panitia mengumumkan doorprize. Di situlah saya baru mengerti kenapa pemain band bisa marah-marah ke tukang sound-nya. Efek gitar Mas Toto yang rencananya akan jadi ajang show off, suarnya keluar pelan sekali. Dan gitar yang disediakan panitia fals. Stem-an-nya seperti naik setengah nada, tapi pas mencoba main kunci turun setengah, masih juga fals. Dan tidak ada waktu untuk setting-setting lagi.

Akhirnya kami tampil sebagai runner up juara. Sepertinya juri lebih memilih tim sebelah yang jauh lebih interaktif ke penonton dan keaktifan anak-anak karyawan yang ikut menyanyi. Tapi secara musik, saya sendiri senang sekali dengan hasilnya. Untuk ukuran band yang baru sekali latihan, hasilnya sangat luar biasa. Thanks guys!

Apa Adanya Band, reborn. Hehehe…

tambal band

Dari kiri ke kanan: Andru (bassist), Saya (keyboardist), Maria (vocalist), Toto (guitarist), Dwi (vocalist), Rasya (drummer), Ardi (violinist).

Berikut catatan aransemen lagunya.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *