Tentang Angan-Angan

Saya mengenal internet waktu SMA kelas dua, sekitar tahun 2000/2001. Waktu itu muncul istilah Warnet yang diadaptasi dari Wartel yang sangat populer. Cuma ada dua Warnet waktu itu, satu di kantor pos Tulungagung di alun-alun dan satu lagi di kompleks Nirwana Plaza. Tarifnya Rp. 6000 sejam.

Saya belajar membuat email Yahoo! yang berkapasitas 6 MB dan belajar chatting lewat mIRC. Siapa yang bisa melupakan sapaan “hi asl pls? ker pa kul?”. Dari mbak penjaga Warnet di Nirwana Plaza saya awal sekali mengenal pembuatan website memakai Yahoo! Geocities (hei, siapa yang masih ingat teks berjalan marquee dan tampilan kedip-kedip?).

Karena lebih mengenal HTML ketimbang perangkat lunak komputer, awal-awal kuliah di Teknik Informatika, saya menyimpan kode program C saya dengan ekstensi .exe dengan harapan langsung jalan, tanpa mengetahui bahwa kode program itu harus melalui proses kompilasi dulu.

Internet adalah barang mewah yang diadopsi sedikit orang. Orang datang ke Warnet untuk chatting di mIRC. Juga untuk download gambar-gambar perempuan tidak pakai baju. Orang mulai belajar mengeja file JPG dan nama-nama bintang JapanAV. Belum ada game online. Saya datang ke Warnet untuk download guitar tablature. Saya excited sekali dengan ini karena saya bisa memainkan lagu-lagunya The Corrs dengan detail. Saya juga tahu melodi lagu Going Where the Wind Blows-nya Mr. Big dari hasil download tab ini. Sampai melepuh jari-jari untuk nggeser kunci dari E ke F kres-diminished-entah-apa-namanya-itu.

Satu-satunya penyedia internet rumahan adalah Telkomnet Instan dial-up 080989999 (bacanya pakai nada ya). Modem kecepatan 56 Kbps yang cepat. Cuma rumah saya waktu itu belum ada telepon rumah.

Tidak lama kemudian, Warnet masuk ke sekolah saya, SMU Negeri 01 Boyolangu. Tarifnya kalau ga salah Rp. 4000 sejam. Habis sudah uang jajan saya untuk ke Warnet. Naik angkutan umum untuk anak sekolah kalau ga salah 600-an. Jadi uang segitu mahal sekali. Waktu itulah saya berangan-angan alangkah indahnya dunia kalau bisa internetan di mana saja. Waktu itu saya berpikir saya bisa bermain ke rumah teman wanita saya, di sana bisa mengajari dia MS Word atau MS Excel, sekaligus bisa buka email. Pokoknya yang bisa buat dia kagum dan tertarik lah sama saya kwkwkw… Saya berpikir sebuah alat kecil yang dicolokkan ke laptop yang membuat kita tidak perlu ke Warnet kalau mau download sesuatu.

Sekarang saya kadang-kadang ngeri betapa kondisi hari ini dekat sekali dengan angan-angan saya waktu itu. Bukan bagian yang si teman wanita itu kagum yah, hehehe. Alat kecil itu hari ini bernama modem USB yang bisa membuat kita online kapan saja. Dan ternyata, dunia malah tambah ruwet gara-gara setiap orang bisa terkoneksi ke internet kapan saja.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. saya dulu kepikiran sama temen2 kantor yg sama2 suka dengan perkembangan teknologi, walau cuma sebatas user, kalo ga salah sekitar taun 2000-an, kepikiran agar bisa koneksi internet via handphone yg mana kala itu masih kebanyakan monochrome.., sampe nanya2 alat untuk itu di Surabaya, yg bikin bingung penjual karena emang prototipenya aja belum ada hehehe dan iya skarang cuma perlu waktu beberapa tahun, terwujud dalam bentuk wifi dan tethering via hape..

    perkembangan teknologi memang memudahkan sekaligus mengerikan 😀

  2. Ah ya, saya jadi inget, yang pertama kali ngajarin saya internetan adalah teman saya. Dia satu-satunya anak di SMA saya yang rumahnya ada internetnya, karena kebetulan dia orang kaya 😀

    Dia yang ngajarin saya bikin e-mail. Dan motivasi saya untuk mau belajar pakai e-mail adalah, ingin berhubungan lagi dengan mantan 😀

    Setelah itu saya jadi kecanduan internet. Kalau hari Minggu ayah saya suka ngajak saya keluar buat jalan-jalan, saya lebih suka di rumah buat internetan. Jatah internetan saya cuman dua jam dalam tiga minggu (karena tarif Speedy masih terbilang mahal, waktu itu), jadi saya sangat hati-hati memanfaatkannya.

    Sekarang internetan begitu gampang, sampai saya sendiri muak. Kalau suami saya masih pegang HP sewaktu anak kami menangis dalam gendongannya, saya bisa marah sekali 😀

  3. kalo ngomongin angan2 itu, mungkin waktu saat itu internet sudah semeriah sekarang, dimana cari ide apapun mudah, desain2ku gak monoton dan nilaiku akan jadi A, hahaha

  4. Aku pertama kali internetan kelas 2 smp ya di warnet yang 6rb/jam (mahal bgt kan saat itu) belajar bikin email di lovemail (yaeeela) dan chatting mIRC diajarin sama yg jaga warnet

    Waktu itu punya web geocities aja udah bahagia banget, isinya padahal cuma biodata ama foto doang ????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *