Cara Saya Belajar Bahasa Pemrograman Baru dengan Lebih Cepat

Seperti yang saya tulis beberapa waktu yang lalu, kebutuhan dunia IT sedang berubah. Dan hal itu membuat kita (saya) para kuli IT harus terus belajar kalau mau dapat kerjaan. Belajar sesuatu yang mulai banyak dibutuhkan tapi masih keahlian itu masih susah dicari.

Jadi saya belajar bagaimana membuat aplikasi iOS (iPhone dan iPad). Alasannya karena sudah banyak orang yang bisa bikin aplikasi Android dan belum banyak yang bisa bikin aplikasi iOS. Selain bahasa pemrogramannya berbeda (bukan Java yang sangat populer), iOS memerlukan XCode yang hanya bisa jalan di Macintosh saja. Ceruk pasar Apple memang tidak sebesar Android tapi potensi peluangnya lebih besar.

Saya beruntung memulai belajar iOS setelah bahasa pemrograman baru, Swift, dirilis Apple. Swift sepenuhnya berorientasi objek (OOP — Object Oriented Programming), lebih rapi, dan lebih menyenangkan daripada Objective-C. Dengan begini, sebenarnya saya sudah bisa Swift karena konsepnya sudah dikuasai. Hanya tinggal belajar sintaks dan aturannya saja. Untunglah Java, bahasa pertama saya setelah bahasa C, adalah bahasa yang sangat kuat konsep OOP-nya, sehingga konsep-konsep polimorfisme, penurunan sifat, dan semacamnya sudah dimengerti. Contohnya, Java mengimplementasikan polimorfisme dan penurunan sifat dengan cara interface, Swift dengan cara delegate, C++ dengan cara multiple inheritance. Seperti itu.

Jika konsep umum OOP belum begitu dimengerti, saya menyarankan untuk membaca kembali buku-buku design pattern yang membahas konsep ini secara umum tidak spesifik ke bahasa pemrograman tertentu. Java adalah bahasa yang sangat bagus untuk belajar ini. Jangan pakai bahasa berbasis scripting semacam PHP atau Python. (Apa kabar .net ya? Sepertinya popularitas framework-nya Microsoft ini makin tenggelam.)

Saya baru sedikit membaca buku Learn iOS 8 App Development terbitan Apress waktu ditawari seorang kawan untuk mengerjakan proyek development iOS. Walah, saya belum menganggap saya bisa. Tapi melihat lambatnya perkembangan saya belajar, mungkin saya harus diterjunkan ke proyek betulan biar lebih cepat bisa. Pertimbangan lain, jika programmer tua seperti saya saja dimintai bantuan, mungkin memang sedang susah cari sumber daya, padahal peluangnya cukup besar. Jadi saya meng-iya-kan tawaran itu.

Memang betul, kondisi dikejar deadline membuat saya harus belajar lebih cepat lagi. Saya tidak mungkin ada waktu untuk mengikuti buku itu pelan-pelan sampai selesai. Jadi saya harus belajar case by case dengan proyek betulan ini.

Untunglah zaman sekarang sudah bukan zaman waktu saya mengerjakan proyek belajaran di lab komputer di Perpustakaan Pusat ITS sepuluh tahun yang lalu. Media belajar saya nambah dua: Youtube dan Stack Overflow.

Di Youtube ada banyak sekali tutorial pemrograman, termasuk Swift. Bedanya dengan baca artikel tutorial di blog, di Youtube kita bisa langsung lihat hasilnya, sama nggak dengan punya kita. Seperti lihat demo masak gitu.

Lalu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang spesifik seperti bagaimana membuat background transparan, atau kenapa suatu tombol mengeluarkan NullPointerException, ada situs Stack Overflow. Ini resource yang tak ternilai karena ini adalah tempat programmer seluruh dunia berbagi ilmu dan pengalamannya. Mengesankan sekali bagaimana sebuah sistem knowledge management bisa memaksa orang untuk berbagi pengetahuannya dengan gratis (dengan imbalan reputasi).

Jadi begitulah, pelan-pelan saya bisa menyelesaikan proyek iOS pertama saya ini. Saat saya menulis ini, progressnya masih sekitar 50%. Maklum, programmer tua tapi skill junior, kwkwkw. Tapi saya senang sekali karena saya sudah mulai bisa bilang bahwa saya bisa bikin aplikasi iOS. Passion saya masih di programming. That’s true.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. suka merendah ini mah, saya bisa dibilang ga ngerti sama sekali sama iOs, sedikit oot terkait syntax itu, menurut saya kadang menyebalkan sekaligus bikin penasaran, terutama saat di run nggak jalan, ya paling tidak itu sering kejadian saat skarang ngerjain pr yg belum kelar2 #malah curcol haha

  2. luar biasa bro, masih semangat belajar hal baru. baru kmrn sore saya ketemu kawan, awal tahun itu dia masih naik agya. eh kemarin sudah ganti jazz baru beli cash. ternyata apps androidnya laris manis jadi dia dapat kiriman ribuan dollar per bulan dari google

    ya, ngoding = nyetak duit

  3. Kabar .net rame juga sih mas, terakhir karena adanya Xamarin banyak yg pindah ke situ dari yg sebelumnya terpaksa pakai Phonegap. Banyak promo-promo lisensi Xamarin biar C# & visual studio tambah banyak yg pakai. Gak perlu mac juga untuk membuat app iOS pakai Xamarin.

    1. Btw, teman-teman saya yg memang bekerja untuk pasar enterprise lebih memilih menggunakan Xamarin, karena bos-bos pasti minta agar bisa jalan di Android & iOS. Bosnya pakai iPad, karyawannya dikasih tablet Android 😀

  4. kak saya kesulitan untuk belajar iOS app karena tutorial nya kebanyakan bahasa inggris 🙁 ada bahasa indonesia cuma ga jelas tutorial nya setengah-setengah, boleh tau buku yg kaka pelajari itu bahasa penulisan nya apa dan beli dmn?

    1. Bahasa Inggris, Ifan. Belajar bahasa Inggris adalah keharusan kalau ingin mendalami ilmu komputer karena sebagian besar literaturnya berbahasa Inggris. Literatur Bahasa Indonesia juga mengacu ke literatur-literatur Bahasa Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *