Catatan Mudik: Semarang – Cirebon – Jakarta (Habis)

Di Semarang kami menginap di Fave Hotel di jalan Diponegoro. Awalnya mau menginap di Hotel Horison di Simpang Lima, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ngapain menginap di hotel berbintang kalau kebutuhannya hanya tidur lalu pagi-pagi melanjutkan perjalanan? Mungkin faktor inilah yang menyebabkanĀ budget hotel tumbuh menjamur di mana-mana. Kami hanya butuh tidur, jadi tidak perlu bayar untuk kolam renang yang tidak akan pernah dipakai.

Karena sampai Semarang sudah menjelang Maghrib, selepas shalat kami segera keluar mencari makan sambil melihat-lihat suasana kota Semarang. Akhirnya menclok di Soto Bangkong. Enak. Lalu jalan merayap di Simpang Lima yang macet. Malam minggu. Isteri saya ingin naik becak-becak hias lampu neon keliling alun-alun Simpang Lima. Setelah berputar-putar, akhirnya dapat parkir di sebelah klub temaram. Bodo amat yang penting parkir. Pas mau turun, eh, si Zafran ngantuk berat. Jadilah kami kembali ke hotel. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi mengunjungi kota Semarang.

Pagi hari setelah sarapan di hotel, kami segera bergegas melanjutkan perjalanan. Tapi sebelumnya mampir dulu ke Lumpia Mataram, Bandeng Presto di jalan Pandanaran, dan foto-foto sebentar di Lawang Sewu. Pukul 09:30 pagi, kami bertolak meninggalkan Semarang. Let’s hit Pantura road!

Menyetir mobil dalam kondisi tidak puasa sangat menyenangkan. Mulut tidak pernah berhenti mengunyah makanan hehehe. Jalanan sudah tidak terlalu mengerikan seperti ketika puncak arus balik. Hanya saja mulai merayap dari Batang sampai Pekalongan.

Siang hari kami sampai di daerah Pemalang. Sebenarnya kami ingin mencicipi Sate Tegal asli kotanya, tapi saya khawatir lalu lintas macet lagi. Akhirnya kami pit stop makan siang di restoran Pring Jajar Pemalang. Termakan hasutan poster iklan di pinggir jalan yang sudah muncul sejak 100 km sebelum lokasi restoran. Dan memang ternyata harganya mahal habis. Tapi meskipun merasa sedikit menyesal karena setengah ditipu, kami merasa keputusan tepat berhenti di sini. Zafran buang air besar banyak banget di diapers-nya hahaha…

Jalur Tegal – Brebes lancar tapi tidak bisa ngebut dan cenderung macet menjelang Tol Brebes Pejagan. Jalan tol darurat itu sudah percaya diri memasang petunjuk arah sebagai “Jalan Tol Brebes Pejagan”. Saya memilih meneruskan perjalanan lewat Pantura dan baru masuk tol Mertapada (Pejagan – Kanci) lanjut tol Kanci – Palimanan. Masya Allah kondisi tol yang dibangun Bakrie Group ini. Sudah mahal, bergelombang parah pula.

Menjelang Maghrib kami sudah sampai di Cirebon untuk kemudian pit stop lagi di rumah mertua di Cirebon. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan melalui tol Cipali, tol Cikampek, lalu tol JORR. Hari masih siang ketika kami sampai di rumah lagi.

Alhamdulillah, sampai dengan sehat selamat. Melihat kondisi taman, 60% tanaman mati kekeringan. Dan yang paling membuat kami sedih, ASIP di freezer basi karena ternyata tetangga yang kami titipi rumah berinisiatif mematikan listrik rumah setiap siang hari. Kondisi Aquascape berantakan. Ikannya mati semua. Maksudnya mungkin baik. Kami yang lupa berpesan supaya listrik tidak dimatikan. Innalillahi.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *