Tentang Apple Music

IMG_3469 (2)

Jika saya pernah bilang secara device, Apple (iPhone) telah ketinggalan melawan Android, inilah hal-hal yang masih sangat sulit disaingi oleh kompetitor-nya: layanannya. Jika anda pernah membandingkan Apple Store dengan Google Play, tentu terasa bedanya. Kurator-kurator Apple rajin sekali membuat kelompok-kelompok aplikasi yang membuat semakin menarik.

Apple Music, saya rasa tingkat inovasinya setara dengan iPod (dengan iTunes). iPod telah mengubah bisnis musik dari jualan album, CD, dan kaset, menjadi jualan lagu ketengan. Lewat digital. iPod juga mengubah cara orang mendengarkan musik. Dari sini muncul masalah baru dimana orang-orang menjadi semakin malas beli CD ke toko musik karena kita cukup download dan copy file MP3-nya saja.

Musisi-musisi berteriak-teriak karena karya mereka semakin luas dibajak dan pemasukan lewat penjualan CD nyaris nol. Toko semacam Disctarra tinggal tunggu waktu tutup kalau mereka tidak mau berubah. KFC jadi jualan CD dengan cara yang “memaksa” pelanggan beli CD yang tidak diinginkan karena paket ayam-nya menempel dengan CD-nya. Kualitas CD-nya pun jelek ternyata, kayak CD bajakan. Trend RBT di ponsel juga sudah tidak populer lagi.

Apple Music menawarkan hal yang baru. Kita bisa menikmati seluruh koleksi musik di dunia ini tanpa harus membelinya. Cukup berlangganan seperti berlangganan majalah atau TV kabel. Kita bisa menikmati musik dengan legal (musisi-musisi bisa mendapatkan penghasilannya lagi).

Daripada mbayar kan tetep saja enak download? Iya sih, tapi ribet. Saya bisa download dari torrent lagu-lagu top hits bulan ini. Setelah didownload, file-file ini perlu dicopy/diimport ke perangkat pemutar musik. Dua tiga bulan setelah itu, file-file itu akan menjadi sampah digital karena sudah bosan. Akhirnya, koleksi musik saya di iPhone hanya itu-itu saja karena malas juga nyari torrent buat didownload.

Dengan Apple Music, begitu ingin mendengarkan lagu, tinggal search, lalu bisa langsung streaming ga perlu download. Kurator-kurator Apple Music juga membuatkan playlist yang disesuaikan dengan minat musik kita sehingga variasi musik yang didengarkan benar-benar sangat luas. Apalagi kalau dibandingkan dengan koleksi lagu offline saya yang ga jauh-jauh dari Lionel Ritchie dan Diana Krall.

Kelemahannya, lagi-lagi, di koneksi internet. Perlu koneksi internet yang cepat agar lagu-lagunya tidak buffering. Internet cepat buat apa? Internet cepat masih mahal pak, hehehe…

Sekarang saya sedang mencoba layanan free trial tiga bulan. Langganannya kalau mau lanjut sekitar 70 ribu per bulan, which is, terlalu mahal buat saya. Tapi Apple ternyata juga menawarkan fitur family share, jadi kita bisa gabung satu account berbagi sampai 6 orang. Kalau ga salah kata teman saya, Ardi, yang mau lanjut langganan sekitar 100 ribuan. 100 ribu dibagi enam orang, setiap orang urunan sekitar 20 ribuan. Boleh juga.

Jadi ternyata begitulah. Inovasi yang saya tunggu-tunggu ternyata bukan di device-nya (inovasi di level device tidak ada yang fenomenal, marketing gimmick semua). Inovasinya ada di level layanan. Apakah ini akan sekali lagi mengubah model bisnis musik dunia? Mari kita amati.

 

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. saya selalu salut sama orang2 yg mementingkan kualitas, apalagi musik, walaupun harus membayar setimpal

    saat ini sih, saya masih mengandalkan mp3 donlotan, kadang kopian dari warnet, soalnya pengen yang berbayar masih terasa pelitnya hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *