Bandung dan Jakarta

Akhir-akhir ini sedang ada wacana untuk menjadikan Ridwan Kamil, walikota Bandung, menjadi gubernur DKI Jakarta menggantikan Ahok. Wew, rupanya para politisi sudah tidak sabar untuk mengganti Ahok. Mana yang lebih cocok memimpin Jakarta?

Ini opini pribadi saja.

Bandung, sekilas, memiliki masalah yang sama dengan Jakarta. Kemacetan lalu lintas dan banjir kalau hujan deras. Orang sering menuduh mobil-mobil Jakarta yang bikin macet kalau weekend. Ini mungkin benar waktu dulu awal-awal Cipularang dibuka. Tapi sekarang saya lihat mobil berplat D juga tak kalah banyak. Yang memenuhi Dago dan Riau kalau weekend itu tak hanya mobil plat B aja sekarang.

Jakarta makin macet, itu benar. Tetapi itu juga karena pembangunan infrastruktur ada dimana-mana. Yang kelihatan saja, perempatan Kuningan sedang ada pembangunan flyover sisi selatan. Padahal perempatan itu titik ketemu semua orang yang bekerja di Jakarta. Jalan Sudirman-Thamrin sudah jadi jalur neraka karena ada pembangunan MRT. Jalan buat kendaraan jadi sangat sempit. Lewat alternatif satunya, ketemu pembangunan jalur busway koridor Ciledug-Tendean. Nah lo, mau lewat mana? Sepertinya pak Gubernur tidak peduli cacian dan makian semua orang yang mengeluh karena macet super parah. Yang penting pembangunan infrastruktur dikebut.

Cuma sayang pengadaan 1000 bus TransJakarta itu jadi kasus. Coba kalau lancar, mungkin moda busway bisa jadi pilihan yang menarik.

Sementara Bandung, yang memiliki masalah mirip, saya belum melihat adanya perubahan berarti. Yang terlihat menonjol sampai hari ini adalah taman-taman yang unik yang makin bikin kepingin menghabiskan akhir pekan di Bandung. Saya pikir Pak Walikota masih perlu satu periode lagi untuk mulai menyentuh sisi infrastruktur ketimbang terus membenahi tampilan dekoratif seperti taman.

Mungkin malah Bu Tri Rismaharini, walikota Surabaya, yang lebih cocok. Saya melihat Surabaya berubah tidak hanya sisi tampilan saja, tapi juga infrastruktur jalan, dan yang saya dengar langsung dari beliau: e-government-nya.

Tapi kalau disuruh pilih-pilih, Pak Ahok masih yang terbaik buat memimpin Jakarta.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

    1. Halo Mba Tyka, mana ini blog-nya? :mrgreen:

      Sepertinya para politisi memang hanya ingin ganti aja, siapa pun yang penting bukan Ahok. Tidak ada perhatian sedikitpun pada pembenahan Jakarta yang sebenarnya, yang ada kepentingannya sendiri-sendiri.

      1. Cakep artikelnya, mas Galih. Saya setuju dengan komentar sampeyan bahwa politisi hanya ingin ganti aja, yang penting bukan Ahok.

        Saya mengamati bahwa orang-orang busuk sedang bergerilya melakukan siasat devide-et-impera. Adu domba orang-orang yang relatif bersih (Ahok vs. Ridwan. Ahok vs. Risma, dulu Jokowi vs. Risma). Sengaja dibuat rontok satu demi satu, agar mereka yang busuk bisa berkuasa kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *