Review: Sabtu Bersama Bapak

Judul Buku: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Aditya Mulya
Penerbit: Gagas Media

Mohon jangan baca ulasan saya jika Anda belum membaca buku ini dan ingin membacanya. Saya ini kalau mereview buku suka-suka, mestinya banyak spoiler di sini.

Buku ini ternyata sangat populer ya, saya dapat ini sebagai kado surprise ulang tahun dari isteri. Kami berdua hobi membaca buku, namun minat genre-nya berbeda. Nampaknya buku ini termasuk yang masuk buat dibaca bersama-sama. Saya juga baru tahu kalau ternyata Aditya Mulya adalah penulis novel Jomblo yang filmnya fenomenal itu. Pantas dalam buku Sabtu Bersama Bapak ini juga ada guyonan-guyonan yang “masa kini” banget.

Awal ceritanya sedih sebetulnya, yaitu tentang tokoh Bapak yang terkena penyakit parah (tadinya mau pakai istilah ‘kritis’, tapi jadinya kok berbau asuransi banget :mrgreen: ) sehingga dokter telah memvonis bahwa usia dia tidak akan lama lagi, tidak mungkin bisa menyaksikan dan menemani anak-anaknya tumbuh berkembang. Dari situ si Bapak memutuskan untuk menjadi semacam videoblogger yang berisi pesan-pesan untuk anak-anaknya. Dari sini petuah-petuah Bapak mengiringi anak-anak tumbuh dewasa yang biasa ditonton setiap hari Sabtu. Makanya judulnya jadi Sabtu Bersama Bapak.

Tentang dua tokoh utama cerita ini, yaitu Cakra dan Satya, sebenarnya konflik yang dikemukakan adalah masalah-masalah yang sangat jamak terjadi di kehidupan sehari-hari. Tentang Satya, seorang Rig Engineer, kehilangan keharmonisan keluarganya. Lalu tentang Cakra, seorang Deputy Director, sukses dalam karir, mapan, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh. Para jombloers-jombloers yang mengaku bahagia wajib baca buku ini, hehe…

Lebih jauh, novel ini adalah novel yang memang direncanakan untuk populer, sesuai selera pembaca Indonesia. Happy ending, happily life ever after. Agak tidak masuk akal ketika Cakra yang digambarkan kaku menghadapi wanita, bisa tampil begitu mempesona dalam kesempatan sehari blind date dengan Retna. Semua unsur yang dibutuhkan untuk melakukan PDKT dikuasai dengan baik: unsur humor segar, kejutan yang menyenangkan, impresi, dan rasa penasaran. Sedemikian hebatnya sampai bisa membuat si wanita berpaling dari kandidat utama yang hampir saja dipacarinya.

Karenanya, saya lebih menyukai kisah Cakra daripada kisah Satya karena kisah Cakra jauh lebih berkesan “novel”. Kesan kecil ini sama persis ketika saya membaca novel Perahu Kertas, dimana sang penulis mengusahakan dengan segala daya upaya supaya Keenan yang akhirnya jadian dengan Kugy. Realistis, tetapi tentu saja tidak populer.

Sekian.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

  1. dari entah kapan pengen baca buku itu ga jadi2, karena blm jadi2 pula beli bukunya, tapi adithya mulya itu bikin buku sedikit tapi isinya menurutku asik2, terutama tentu saja masterpiecenya Jomblo itu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *