Kemana Arah IHSG?

Yuk ah, bahas IHSG lagi mumpung sentimen dalam negerinya banyak, pasca pelantikan presiden dan isu kenaikan harga BBM.

Teorinya — yang dibahas di buku-buku dan seminar-seminar mahal itu — setiap swing trader harus memiliki trading plan. Kalau ia adalah trader harian, maka PR buatnya setiap hari adalah menentukan potensi arah pasar besok, di titik mana ia masuk, di titik mana ia harus keluar jual rugi ketika pasar bergerak melawan rencananya, lalu di titik mana ia merealisasikan keuntungan sekaligus berapa banyak uang yang harus ia belanjakan. Dengan begitu, idealnya trader akan terbebas dari pertanyaan tebak-tebak manggis, kemana arah IHSG? Karena kemanapun arahnya, ia sudah punya rencananya.

Praktiknya, jauh dari teori. Sejauh pengalaman saya, saya tidak yakin apakah rencana saya ini betul. Jangan-jangan harga sudah ketinggian, istilahnya sudah ketinggalan kereta. Seringkali, harga bergerak lebih cepat dari kemampuan saya bereaksi. Terlalu cepat. Hitungannya paling menitan saja. Dalam sekejap, harga akan jatuh melewati titik dimana saya harus keluar. Entah karena saya sibuk dipanggil bos atau sedang fokus mengerjakan pekerjaan. Memelototi chart, adalah wajib di sini.

Pada akhirnya saya merasa bahwa swing trading tidak cocok dengan saya yang mudah galau. Terlalu banyak perhatian yang harus dicurahkan untuk melakukan swing trading. Dan dengan modal kecil (dibawah sepuluh juta rupiah), keuntungan y ang didapat rasanya tidak sebanding dengan usaha yang harus dilakukan. Apalagi jika keuntungan itu berikutnya dihajar oleh kerugian yang menyusul di sesi trading berikutnya. Pak pok hehehe…

Jadi sekarang saya menjadi investor, atau long time trader. Very long time trader. Saya memanjangkan waktu hingga lima belas tahun — yak, untuk dana Zafran masuk kuliah kelak. Setiap bulan, dari gaji yang disisihkan, saya beli satu saham berharga murah, sehingga saya bisa beli satu lot saja dengan ratusan ribu rupiah. Saya hanya melakukan timing ala swing trader waktu saham turun, menebak harga ada di titik terendah sebelum memantul ke atas lagi. Saya tidak punya niat untuk menjual kembali untuk mengambil keuntungan/kerugian. Saya akan menjualnya lima belas tahun lagi.

Sehingga yang justru saya cari adalah saham-saham yang sedang terpuruk atau tren turun. Saham batubara, saham properti, apalagi ya? Saya mengamati para konglomerat itu membeli perusahaan waktu mereka sedang bangkrut. Sandiaga Uno membeli Mandala Air waktu bangkrut (meskipun sekarang tambah bangkrut, tapi siapa tahu dua puluh tahun lagi?). Inter Milan dibeli Erick Tohir karena kondisinya sudah mau gulung tikar. Jadi, untuk waktu yang panjang, saya sebaiknya beli saham yang tidak berada di siklus puncak, tetapi siklus bawah yang berpotensi untuk naik.

Itu teorinya, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *