Analisa Fundamental dan Laporan Keuangan

Sambil kembali mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, saya sedang mengubah total strategi investasi saya di pasar modal. Melihat kesibukan saya di kantor saat ini, dan komitmen saya untuk menjadi seorang family man, praktis saya tidak punya waktu untuk trading — analisa chart dan pergerakan harga harian. Sehingga saya bergerak dari analisa teknikal ke analisa fundamental.

Ada yang bilang kenapa tidak dicampur saja strategi analisis itu? Pakai FA untuk memilih, dan pakai TA untuk timing kapan mau masuk dan keluar. Menurut saya strategi trading dan investasi memang tidak bisa dicampur. Kalau tujuannya trading, tidak perlu susah-susah beranalisa fundamental karena begitu ada sinyal keluar, segera keluar secepat kilat (kalau ga bakalan nyangkut!), dan begitu ada sinyal masuk, segera masuk secepat kilat (kalau ga bakalan ketinggalan kereta!).

Dan saya bukan orang yang jago meramal arah gerak saham. Dan adakah yang bisa? Bisanya adalah patuh dengan rencana trading yang dimiliki, dan lakukan tanpa terpengaruh emosi. Dalam sepuluh kali trading, bisa saja hanya dua kali untung dan delapan kali merugi, tapi jika ditotal tetap untung karena ruginya sedikit saja (cut loss). Untuk konsisten begitu, perlu komitmen waktu. Pengalaman dua tahun, 2011-2013, meskipun bisa dapat profit yang konsisten sekitar 15% setahun, rasanya kok ga worth it dengan capeknya (mungkin karena modalnya juga super kecil, hehehe). Sementara reksadana saya yang saya top-up rutin tiap bulan Rp. 300 ribu tanpa melihat harga saham, berhasil memberikan profit 20% dalam dua tahun. Atau 10% setiap tahun. Sudah di atas deposito kan? Lumayan ga kerasa.

Saat ini saya sedang akan menyiapkan dana pendidikan saya untuk anak saya (insya Allah, beberapa minggu lagi kelahiran, doakan sehat dan lancar yah). Rencananya mau nabung setiap bulan dalam lima belas tahun. Dan kali ini saya ingin mengelola “reksadana” saya sendiri dengan membelikannya langsung di pasar saham. Karena itulah, analisa fundamental menjadi penting.

Apa yang susah dari analisa fundamental? Banyak sekali yang harus dianalisa. Rasio-rasio keuangan seperti ROE, Current Ratio, P/E Ratio, dll. Banyak yang harus dibandingkan. Setelah dapat short-list dari perusahaan dari berbagai sektor, mau beli yang mana? Mana yang lagi mahal? Mana yang lagi murah?

Untuk valuasi mahal dan murah, rasio yang dipakai biasanya adalah P/E ratio. Tetapi tidak bisa juga diterjemahkan langsung begitu. P/E juga bisa ditafsirkan optimisme pasar terhadap suatu saham. P/E yang tinggi, berarti pasar optimis perusahaan akan berkembang pesat. P/E yang rendah berarti pasar pesimis. Wajar sih, ada harga ada rupa. Saham yang dipercaya bagus sudah pasti mahal karena banyak orang yang cari.

Lebih lanjut dari itu, semua rasio dan catatan keuangan adalah catatan masa lalu. Sementara yang sedang dicari adalah potensi masa depan. Tidak ada yang tahu apakah suatu perusahaan yang bercatatan bagus akan bisa mencetak prestasi yang sama bahkan lebih tinggi lagi.

Nah, potensi masa depan itu bisa sedikit banyak diketahui melalui laporan tahunan perusahaan. Bahkan jika investor besar, ada yang perlu bertemu langsung dengan manajemen perusahaan tsb, untuk menggali potensi dan strategi di masa depan. Perusahaan yang manajemennya bagus pasti rajin memberikan laporan tahunan. Isinya sih membosankan, ga seperti baca novel. Tapi itu perlu dilakukan. Jangan sampai seperti orang yang beli tiket kereta api, tapi tak tahu kereta apinya mau kemana. Bahkan tak tahu apakah kereta api itu jadi berangkat apa dibatalkan.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *