Memilih Calon Presiden

Jadi kita sudah punya dua pasangan calon presiden-wakil presiden. Pak Jokowi dengan Pak Prabowo. Memilih diantara dua ini susah sekali karena masing-masing punya plus dan minusnya. Betul, saya punya harapan besar dengan Jokowi waktu awal-awal menjadi gubernur DKI dan rasanya akan saya dukung kalau nyalon presiden. Tapi kemudian rasanya kok ada yang salah. Pencitraannya overdosis. Beliau sebenarnya tidak sehebat yang media citrakan. Bahwa tidak mungkin ada seorang pemimpin sang ratu adil, tapi semua adalah soal sistem. Dan sistem yang buruk, sebaik apapun pemimpinnya, akan membuat pemimpin itu kelihatan buruk.

Di lain sisi, Prabowo juga merupakan calon kuat. Ia mengisi dengan telak kelemahan Jokowi yang dicitrakan sebagai petugas partai, presiden boneka, dll. Indonesia merindukan sosok pemimpin yang tegas setelah sepuluh tahun dipimpin seorang peragu yang selalu menghindari risiko dan kehilangan momentum. Terkait dengan kasus penculikannya, saya sering membaca bahwa dilema selalu melanda seorang decision maker, apalagi dalam operasi intelijen militer seperti itu, nyawa dikesampingkan atas nama darurat dan keselamatan negara. Lihat saja operasinya CIA di film-film-nya Jason Bourne, British M16 di film James Bond. Atau bahkan operasi-operasinya BIN.

Jadi sampai di sini, skor buat beliau-beliau berdua di saya adalah 1-1.

Kemudian saya melihat siapa saja mitra koalisinya. Jokowi membawa bendera PDIP yang saya tidak pilih di Pileg. Tak ada caleg berkualitas dan sesuai kriteria saya di PDIP.

Lha yang menarik, PKS merapat ke Prabowo. Saya jadi membayangkan jika Menkominfo-nya tetap Pak Tifatul Sembiring. Atau yang satu visi dengan beliau. Saya setuju kita memerangi pornografi, tapi metodologi yang dilakukan sangat tidak efektif dan buang-buang biaya. Dan nampaknya kecepatan internet Indonesia akan begitu-begitu saja. Lalu mari kita lihat Pak Suswono Mentan. Konsep swasembada sapi tidak masuk di saya. Impor dibatasi dan harga dibiarkan naik demi mengejar swasembada?

Saya mulai bisa melihat perbedaan visi kedua capres ini. Jokowi akan berpandangan liberal seperti halnya Presiden SBY. Prabowo akan berpandangan nasionalisme mengarah ke fasisme dimana semua harus dikelola dan dihasilkan sendiri, which is good but unfortunately we are not ready yet because we didn’t prepare for that. Makanya Jokowi lebih disukai pasar modal karena kepentingan asing jelas lebih aman.

Sampai di sini, saya lebih condong ke Jokowi. Saya tidak mau lima tahun lagi saya tetap mengeluarkan biaya 100 ribu hanya untuk kuota 7 GB saja. Saya juga melihat infrastruktur negara kita ini sudah liberal, ekonominya sudah liberal. Saya sendiri bekerja di perusahaan asing yang ikut membantu sekuat tenaga SDA kita diangkut ke Inggris dan Italia. Jadi saya lebih setuju Indonesia melanjutkan dirinya untuk berkembang dan segera menyusul negara-negara lain.

Masih ada waktu untuk menimbang-nimbang dan melihat visi misi masing-masing calon. Saya tidak terlalu memperhatikan debat kusir macam isu ras, cina, agama dalam hal ini. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara kita.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Analisa yang menarik, mas Galih. Menurutku, seandainya Jokowi bisa melepas atribut boneka partai, akan jadi poin plus banyak untuk dia atas Prabowo. Artinya dia akan tercitrakan sebagai orang yang nggak mau disetir pihak lain.

  2. Prabowo sendiri sebenarnya juga boneka partai. Karena tanpa partai koalisi dia jelas tidak akan jadi apa-apa. Karena sudah didukung, tentu dia akan disetir. Kelihatannya tegas, tapi kalo koalisi pendukung cabut dukungan bisa nangis bombay juga si Prabowo

    Yang banyak dilupakan orang: Prabowo melakukan pencitraan lebih dahsyat daripada Jokowi. Ingat gak, Prabowo pasang iklan nonstop selama lebih dari 10 tahun terakhir? Dia melakukan apa yang namanya menggiring opini secara pelan-pelan, seperti shaping of behavior, sehingga tanpa sadar kita memahami citra sebagai realita

    Saya jelas gak dukung Prabowo karena banyak alasan. Namun salah satu alasan yang bisa diacu adalah: dia sampai berfikiran akan membuat posisi Perdana Menteri untuk Aburizal Bakrie kalau mau mendukungnya. Edyan! Mau amandemen UUD’45 lagi?

    Selamat ber-ikhtiar mencari capres terbaik buat bangsa 🙂

  3. Oh, jadi pertimbangan sementara masih seputar kuota internet ya Mas. Realistis (y)

    Saya malah belum mampu memilih satu di antara keduanya. Menunggu wangsit 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *