Membuat TV Media Center Sendiri

Sebuah home entertainment¬†biasanya terdiri dari sebuah TV layar datar (LCD, LED, atau Plasma) berukuran cukup besar dan dilengkapi dengan pemutar DVD atau Bluray, kemudian didukung oleh sistem suara stereo yang enak didengar telinga. Enak didengar ini tentunya tergantung standar telinga setiap orang, apakah “telinga emas”, “telinga perak”, atau cukup “telinga seng” macam punya saya yang sudah cukup puas jika keluar suara saja.

Dengan semakin murahnya koneksi internet, teknologi TV pun hadir dengan konektivitas jaringan dan kecerdasan menerima perintah lewat gerak dan suara dengan nama dagang: Smart TV.

Tahukah teman-teman semua, kalau kita bisa membuat sebuah media center sendiri sekaligus mengubah TV biasa kita (entah TV tabung atau TV LCD) menjadi smart TV yang memiliki konektivitas internet: bisa buka Youtube, TV streaming, mendengarkan radio dari internet, dsb. Semua itu bisa dibuat dengan bahan-bahan yang mayoritas sudah kita miliki.

Apa saja yang diperlukan?

  1. Koneksi internet. Sudah pada punya kan? Saya pakai modem HSDPA dengan provider AHA yang saya sambungin ke WiFi router.
  2. Sebuah komputer, boleh Windows, Mac, ataupun Linux. Saya pakai Raspberry-Pi.
  3. Hardisk besar untuk tempat penyimpanan file multimedia. Praktisnya jaman sekarang orang pakai hardisk eksternal dengan USB. Saya pakai beberapa eksternal hardisk saya, total size-nya kurang lebih hampir 4 TB.
  4. Smartphone berbasis Android atau iOS untuk remote control-nya. Bisa juga pakai mouse sih, hehe.

Beberapa komponen ini dipakai untuk menjalankan software media centernya. Namanya XBMC. Software ini punya keistimewaan, yaitu:

  1. Video player, bisa memainkan berbagai macam format file video.
  2. Manajemen file video. Dengan menghubungkannya ke service movie database di internet, XBMC bisa melengkapi data-data file kita dengan cover yang bagus, genre, aktor, dsb.
  3. Music player.
  4. Manajemen musik. XBMC otomatis melengkapi file-file musik dengan cover dan data lainnya.
  5. Plugin Youtube, Itunes Trailer, berbagai macam TV streaming yang bisa siaran live. Pokoknya asal koneksi internet kenceng saja, kita bisa akses semuanya dengan remote control.
  6. Manajemen file-file gambar.
  7. Radio internet.
  8. Prakiraan cuaca.
  9. Dan masih banyak lagi.

Saya akhirnya melengkapi komputer Raspberry-Pi saya dengan XBMC. Seperti yang saya ceritakan, komputer mini ini punya output video HDMI dan composite video AV. Jadi komputer ini bisa dicolokin ke TV tabung 14 inchi dan menyulapnya menjadi sebuah smart TV. Cuma memang perlu sedikit konfigurasi untuk memindahkan output default yang HDMI ke composite video AV. Waktu saya colokin Raspberry ke colokan HDMI di TV, display-nya langsung muncul dengan indah. Dan saya juga mengganti sistem operasi dari Raspbian ke RaspBMC yang jauh lebih user friendly. Pokoknya instalasinya kayak Windows, dihidupin, sambungin ke internet, ditinggal tidur, bangun-bangun sudah tersetup semuanya.

Dengan konektivitas jaringan WiFi, kita bisa kontrol komputer ini dari jarak jauh dengan aplikasi di Android atau iOS. Jadi kalau saya ingin mengganti musik waktu saya ngepel di lantai dua, saya tinggal pencet tuh handphone. Langkah berikutnya, ngisi hardisk saya dengan film-film HD, hehehe…

Tertarik bikin? Ada beberapa referensi bagus untuk memulainya:

  • Website resmi XBMC.
  • OpenELEC: Linux yang khusus dirancang untuk XBMC.
  • RaspBMC: Linux Raspbian (turunan Debian Wheezy) yang sudah terinstall XBMC di dalamnya. Saya memilih RaspBMC ketimbang OpenELEC karena Debian-nya. Saya masih perlu Debian untuk memanfaatkan Raspberry-Pi saya sebagai Home Server (backup server).
  • Raspberry-Pi: tentang komputer sebesar kartu kredit ini.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *