Membuat Home Server dengan Raspberry-Pi

Di rumah, koneksi internet saya adalah modem CDMA yang saya share untuk semua peralatan dengan menggunakan router Wi-Fi merk TP-LINK. Beberapa peralatan tersebut adalah handphone dan laptop saya dan isteri, dan satu tablet. Acapkali beberapa device ini memerlukan berkomunikasi untuk saling berbagi file. Semua beres karena sudah tersambung dengan Wi-Fi.

Kebiasaan baru kami berdua di akhir pekan adalah beres-beres dan bersih-bersih rumah. Saya menyapu dan mengepel lantai atas dan bawah, membersihkan dua kamar mandi, mencuci sepeda motor, dan menyiram tanaman. Sementara isteri saya memasak, cuci piring, masukin baju ke mesin cuci, dan seterika baju yang akan dipakai ke kantor. Dan kami berdua sama-sama suka mendengarkan musik, jadi saya hidupkan laptop dan menghubungkannya dengan audio amplifier.

Saya ada beberapa hardisk, satunya WD My Book 3TB, lalu ada tiga hardisk eksternal. Saya membayangkan semuanya jadi praktis kalau ada server rumahan kecil untuk menampung kebutuhan backup file secara wireless, mendengarkan musik, file sharing, dan bahkan sebuah “smart TV” untuk menonton film (meskipun kami tidak terlalu hobi nonton film di rumah).

Memperkenalkan, Raspberry-Pi

Alternatif pilihan PC saya ada beberapa macam. Merakit sebuah PC berbasis Atom Intel, kebutuhan dana kurang lebih 1,7 juta. Beli mini PC semacam Zotac atau Fujitech MPX series, kebutuhan dana kurang lebih 2 juta dan 1,3 juta. Lalu ada pilihan yang menarik, komputer sebesar kotak rokok yang dinamakan Raspberry-Pi.

Prosesornya memakai ARM, kurang lebih sama dengan yang dipakai smartphone. Kecepatannya sekitar 800 MHz atau setara Pentium III dengan RAM 512 MB. Kedengarannya seperti spek PC jaman kakak saya di tahun-tahun 1998 (saya kuliah sudah pakai Pentium IV 1,8 GHz). Karena bukan arsitektur X86 tentu saja saya tidak bisa install Windows di sana. Tapi itu tidak masalah, karena kebutuhannya home server, sistem operasi Linux adalah kewajiban. Dan spek Raspberry-Pi sangat sesuai dengan kebutuhan saya. Dana yang diperlukan (total dengan SD Card, charger, dan ongkos kirim) adalah sekitar 600 ribu. It’s too tempting at this price.

Saya membeli Raspberry-Pi dari Raspiku.Com. Meskipun basis lokasinya di Makassar sana, pelayanannya cepat dan paket saya tiba dengan selamat dengan kurir JNE.

Instalasi

Oke, mari dimulai. Colokan charger. SD Card. Untuk video saya colok ke TV tabung LG 14 inch melalui jack RCA composite. Keyboard saya pinjam dari kantor, colok ke USB. Satu lagi, kabel ethernet LAN dihubungkan ke 3G Router.

Harus dibilang, instalasi Raspberry-Pi tidak semudah instalasi Ubuntu di sebuah PC rakitan. Booting pertama kali, saya mendapati display tidak muncul di layar TV. Di internet dikatakan Raspi bisa dicolokkan ke TV tabung karena ada colokan compsite video (jack RCA). Apa yang bisa dilakukan kalau proses booting tidak bisa melihat apa-apa di layar?

Image yang saya gunakan di SD Card adalah NOOBS, sesuai dengan yang direkomendasikan. Pilihan sistem operasinya ada Rasbian, Pidora, Arch Linux ARM, dan RISC OS. Utak atik sana sini, video-nya belum muncul. Baiklah, saya install ulang dan ganti sistem operasi ke RaspBMC, sistem operasi yang dibundle dengan XBMC, untuk kebutuhan multimedia center. Pertimbangan saya, karena untuk multimedia, peluang untuk muncul video-nya lebih besar.

Ternyata sama saja.

Ternyata dari sekian banyak pilihan OS, hanya Raspbian (turunan Debian Wheezy) yang menyediakan SSH Server langsung up ketika booting. Waktu saya iseng, mengetik di keyboard tanpa tahu apa yang terjadi di layar monitor (tekan angka 1, enter, enter, ketik startx, segala macem), DHCP server di router menyatakan ada client baru yang teregistrasi bernama raspberrypi. Wah, ini. Saya coba SSH ke sana dengan user dan password default. Bisa!

Yeah! Ga apa-apa belum bisa hidupin video. Nanti kalau sudah punya TV LED dengan colokan HDMI bisa dicoba lagi.

Menyiapkan Rangkaian Storage

Pertama kali, saya ingin server kecil ini jadi Network File Server. Jadi saya partisi dan format ulang hardisk besar 3TB saya dengan format ext4 dari awalnya Journaled HFS+ format standar Mac (waktu saya diajari dulu jaman masih ext2, saya diajari untuk format ke ReiserFS, ternyata format ini sudah discontinue karena pembuatnya masuk penjara). Permasalahan berikutnya klasik, yang bisa menulis ke hardisk ini cuma root doang. Oprek sana-sini, chmod 777, apapun itu, tidak bisa.

Ternyata, format ext4 punya fitur ACL (Access Control List). Ketika user saya dimasukkan ke ACL dengan hak akses read write, user normal bisa melakukan hak tulis.

Ketika saya mencolokkan hardisk eksternal HD 320 GB ke colokan USB yang tersisa, Raspi tidak mau mendeteksi. Googling sana-sini, Raspi tidak punya cukup power untuk menghidupkan hardisk saya yang memang untuk mobile itu. Ini kebutuhan berikutnya: USB hub dengan power. Waktu dicolokin ke situ, /var/log/messages menyatakan ada device SCSI baru yang terhubung. Beres. Bisa di-mount dengan sukses.

Network File Server dan Time Machine untuk Mac

Langkah berikutnya adalah menjadikan server kecil ini sebagai NFS/NAS server. Saya menginstall Samba untuk dukungan windows sharing sehingga bisa dibuka di komputer lain. Feels like in the office. Masalah yang ditemui di sini lebih ke masalah mounting storage. Selebihnya sama dengan waktu saya praktik Jarkom waktu kuliah dulu.

Saya juga bisa melakukan regular backup laptop Mac saya lewat Time Machine. Karena hardisk-nya sudah ganti format, tentu saya tidak bisa melakukan backup Time Machine lagi. Ternyata, ada cara untuk melakukan backup melalui network. Software Netatalk adalah yang bisa melakukan protokol khusus Apple untuk backup Time Machine ini. Saya install dan konfigurasi Netatalk. Ketika service Netatalk up, Mac saya langsung mengenali ada network drive yang mendukung backup Time Machine. Cool.

Music Player

Langkah berikutnya adalah menjadikan Raspi sebagai music player yang bisa diremote dari iPhone, jadi kalau saya lagi di lantai atas terus lagunya kurang cocok, saya bisa ganti tanpa harus turun ke bawah. Saya menginstall MPD (Music Player Daemon), sebuah music player yang bermodel client-server. Kesulitannya adalah masalah permission file. MPD tidak mau baca directory musik meskipun permission dan hak miliknya sudah saya ganti dan berikan ke user yang menjalankan MPD. Tetap tak terbaca. Putus asa, saya gunakan user root sekalian untuk menjalankan MPD. Bisa, hehehe…

Untuk di iPhone, saya mendownload MPoD sebagai client dari iTunes. MPoD ini tampilannya seperti iPod, dan dia bisa deteksi otomatis server MPD yang ada di network. Nah, saya sudah punya remote control-nya. Next, prev, play, dari handphone, musiknya jalan di sono noh, jauh di dekat TV, hehehe…

Untuk web server, saya install lighttpd, bukan Apache, dengan pertimbangan efisiensi. Berikutnya saya mau install OwnCloud supaya bisa punya Dropbox sendiri di rumah. Saya juga masih penasaran untuk install XBMC nanti kalau sudah punya TV HDMI.

Performance

Saya belum mendapati masalah performance, bahkan agak di luar ekspektasi saya. Raspi saya overclock dalam kondisi medium, dari 700 MHz normal ke 800 Mhz. Raspi bisa memutar musik tanpa putus-putus ketika secara bersamaan melakukan operasi copy file besar. Performance yang lambat malah saya dapati di Time Machine. Untuk backup 300 GB, diperlukan waktu lebih dari 24 jam. Wajar sih, itu lebih karena kecepatan WLAN-nya yang masih rendah.

Penutup

Dengan harganya yang begitu affordable, kita bisa mendapatkan sebuah komputer Linux yang lengkap. Kita bisa belajar networking, programming, system administration, dan sebagainya. Bahkan bukan hanya software saja, tapi juga hardware seperti robot dan bermacam-macam sensor. Saya pikir ini sesuai untuk lab-lab yang memiliki dana terbatas untuk pengadaan komputer-komputer untuk eksperimen dan edukasi. Seperti visi foundation yang merilis Raspberry-Pi ini.

Website Raspberry-Pi: http://www.raspberrypi.org

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 thoughts

  1. Masya Allah mas, andai saya paham 1 kalimat aja dari tulisan di atas, saya akan sangat berbahagia dan tumpengan :)))

    I think I need a clever one for supporting my (any techno) life, wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *