Nabi Adam dan Buah Khuldi

Saya kadang-kadang membaca ungkapan, atau film barat, yang mengutip kisah Adam dan Hawa (Eve) ketika dikeluarkan dari Surga. Ceritanya seolah-olah semuanya ini gara-gara kesalahan Eve yang memakan buah Apel terlarang sehingga manusia dikeluarkan dari surga.

Sebagai orang awam, saya bertanya-tanya juga kan, secara kita ini sangat dipengaruhi oleh film-film dan buku-buku barat, bagaimana Islam mengajarkan konsep ini. Saya perlu menulis ini supaya kita sebagai muslim lebih mengenal konsep asal-usul manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Tema Nabi Adam, Siti Hawa, dan buah Khuldi dipaparkan dengan jelas di Al-Qur’an. Tadi pagi, saya membaca Surat Taha ayat 121, yang artinya begini,

“Lalu keduanya memakannya, lalu nampak oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupnya dengan daun-daun (yang ada di) surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhan-Nya, dan sesatlah dia.

Catatan kaki menjelaskan maksud kata “durhaka” dan “sesat”:

Yang dimaksud “durhaka” di sini ialah melanggar larangan Allah karena lupa, tidak sengaja sebagaimana disebutkan dalam ayat 115. Dan yang dimaksud dengan “sesat” ialah mengikuti apa yang dibisikkan setan. Kesalahan Adam as. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat karena tingginya martabat Adam as. dan untuk menjadi teladan bagi orang dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang, bagaimanapun kecilnya.

Kemudian, ada hadist yang berkaitan dengan ayat 121 ini

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Musa as. memprotes Nabi Adam as. di hadapan Tuhan mereka Allah SWT dengan berkata: ‘Engkau adalah Adam yang telah Allah ciptakan dengan tangan-Nya. Dia telah meniupkan ruh-Nya kedalam jiwamu, para malaikat telah bersujud kepadamu, dan engkau telah diberi tempat tinggal di surga namun engkau keluar sehingga manusia berada di bumi oleh karena perbuatan dosamu.’

Kemudian Nabi Adam as. menjawab, ‘Engkau adalah Musa seorang yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah dan kalam-Nya, dan Dia telah memberikan kepadamu lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat penjelas segala sesuatu, dan dia telah mendekatkan kepadamu (sesuatu hal yang seharusnya) menjadi rahasia, maka berapa lamakah engkau dapati di dalam Taurat bahwa Allah telah menetapkan sesuatu sebelum dia menciptakannya?’ Musa as. menjawab, ‘Empat puluh tahun.’

Adam berkata lagi, ‘Adakah engkau dapati di dalamnya kalimat yang berbunyi, ‘… dan durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia’. Musa as. menjawab, ‘Ya, (kalimat tersebut ada dalam Taurat).’

Adam berkata, ‘Maka apakah engkau ingin mencercaku atas perbuatan yang telah aku lakukan, padahal perbuatanku tersebut telah Allah tetapkan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?'”

Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah hujatan Musa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian oleh-oleh dari ngaji kitab Al-Qur’an Bayan tadi pagi. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. Saya masih belum mudeng nih… Apakah argumen yang sama bisa dipakai oleh pencuri (atau pendosa yang lain) bahwa Tuhan telah menetapkan perbuatan itu 40 tahun sebelumnya?

  2. Terjemahan haditnya agak keliru.
    Seharusnya maksud hadits itu adalah, Taurat sudah ditulis 40 tahun sebelum Adam diciptakan. Oleh sebab itu Adam berargumen terhadap Musa seperti itu.

  3. Saya sendiri kurang sependapat dengan tafsir “Asho” sebagai durhaka dan “ghowa” sebagai sesat.

    “Asho” itu kesalahan, tapi kesalahan kecil. Ya, saya sependapat kalau kesalahan kecilpun merupakan sebuah kedurhakaan, tapi, yang menarik adalah ALLOH menggunakan kata “Asho” dalam Qur’an, yang berarti kesalahan itu kesalahan yang sepele.

    “Ghowa” di tafsir (terjemah) depag diartikan sebagai sesat, saya sendiri menafsirkannya sebagai bingung.

    Jadi singkatnya, Adam melakukan kesalahan yang kecil, terus kebingungan terhadap kesalahannya.

    Mungkin TINGKAT kebingungannya sama seperti ketika ditilang polisi gara-gara spionnya gak ada sat (masalah sepele, bukan karena menabrak orang sampai mati), padahal sebelumnya belum pernah berurusan dengan polisi.

    Jadi, kesalahan Adam dalam hal ini tidak bisa disamakan dengan kesalahan mencuri, atau dosa-dosa lain yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *