Jagakarsa dan Sekitarnya

Sebulan lebih sejak pertama kali kami memulai pencarian home sweet home kami. Saat ini yang diubek-ubek masih daerah Jakarta Selatan, khususnya di kecamatan Jagakarsa — Kebagusan, Jagakarsa, Ciganjur, dan Cipedak. Belum berpikiran untuk cari daerah lain sampai setiap jengkal area ini ditelusuri dan tidak ada yang cocok. Saya suka Jagakarsa karena selain masih dekat dari kantor, daerah sini masih banyak hijau-hijau-an-nya. Masih relatif sejuk. Banyak kebon-kebon yang kalau malam hari bisa sangat gelap kayak di kampung.

Kriterianya kurang lebih seperti ini: Jarak secara km dari kantor maksimum 15-20 km supaya masih bisa dijangkau dengan sepeda motor, tidak terlalu di tepi jalan besar (karena bising), akses masuknya leluasa buat dilewati mobil. Bebas banjir. Luasnya kalau bisa diatas seratus meter persegi. Lingkungan memungkinkan untuk bersosialisasi (meskipun kita tidak bisa tahu sampai benar-benar menempatinya).

Mungkin cara yang mudah adalah mencari rumah yang dekat dengan masjid atau mushola, supaya bisa sering shalat berjamaah dan karena itu bisa bersosialisasi dengan tetangga dan kampung. Oh iya, dengan budget yang saya miliki, saya tidak mungkin tinggal di real estate di kawasan Jakarta Selatan. Real estate di sekitar sini contohnya Green Andara atau Andara Village, bandrol rumahnya sudah 1,5 M ke atas. Duit semua itu…

Jagakarsa secara kemudahan akses mungkin bukan yang terbaik. Kecamatan ini poros utamanya adalah Jl. Moh. Kahfi I dan II. Stasiun kereta yang paling dekat adalah Lenteng Agung atau Tanjung Barat, lebih dekat ke Kahfi II. Terminal Busway yang paling dekat adalah Ragunan. Secara akses ke transportasi publik, Kahfi II sedikit lebih baik dari Kahfi I. Kahfi I menang di lebar jalan. Tapi dia harus menunggu realisasi jalan tol Depok-Antasari baru bisa sejajar.

Tapi memang baik saya dan calon isteri tidak menyukai kondisi transportasi publik saat ini. Dan saya rasa kondisi ini tidak akan berubah sampai sepuluh tahun ke depan. Itupun kalau perubahan radikal pada sektor transportasi publik dimulai tahun-tahun kemarin. Kalau masih belum dan lambat, ya bisa lebih lama lagi kondisi ini akan terjadi.

Hampir setiap hari saya memelototi iklan-iklan rumah dan mendatanginya — tidak peduli hari kerja, saya datangi sepulang kerja sambil melihat situasi lalu lintas dan seberapa parah tingkat kemacetannya. Jaman sekarang tidak ada yang tidak macet di Jakarta. Memang benar ya namanya cari rumah tidak boleh tergesa-gesa, tapi untuk kasus rumah di Jakarta, memang harus agak bergegas. Fenny Rose itu nggak ngecap kalau dia bilang Senin harga naik, harga properti terus merangkak naik dan naiknya makin lama nggak masuk akal.

Saya percaya kok, rumah itu jodoh-jodohan. Nanti saya ceritakan kenapa saya percaya ungkapan itu, hehehe. Makanya selain terus berusaha, kami selalu berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan rumah yang baik, lingkungan yang baik, yang membawa berkah untuk kami dan keluarga kami nantinya. Amin.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. yap, setuju 100% rumah itu soal jodoh juga. sudah membuktikan sendiri. dan itu sudah betul bro, keliling langsung ke lokasi yang ditarget. semoga lekas ketemu jodohmu: lokasi sesuai, model sesuai, lingkungan sesuai, harga sesuai

    aamiin..

  2. Mas Galih, setiap info rumah yang dicari mintol rajin diposting di blog yaa. Informasi juga bwt saya dan misua. hehe. thx u.:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *