iTunes Masuk Indonesia

Saya tahu berita bahwa iTunes Store telah tersedia di pasar Indonesia sudah beberapa hari yang lalu, tetapi baru hari ini saya merasakan untuk pertama kalinya aplikasi iTunes saya berisi musik-musik yang dijual ketengan dengan harga lima hingga tujuh ribu rupiah. Akhirnya telah tiba masa dimana saya bisa membeli musik secara eceran.

Dulu saya harus membeli satu kaset atau CD yang mungkin hanya dua atau tiga lagu yang saya suka. Kalau mau banyak lagu, beli album kompilasinya tetapi biasanya album kompilasi muncul setelah lagu-lagu hits itu sudah lewat peredarannya. Lebih menjengkelkan lagi biasanya satu album baru dari si penyanyi hanya memuat tiga atau empat lagu baru, sisanya adalah lagu-lagu hits di album sebelumnya.

Bisnis musik memang mau tidak mau harus berubah ketika era digital masuk. Sekarang lebih mudah mendownload musik bajakan di Rapidshare atau 4Shared dibandingkan dengan beli kepingan CD. Saya juga harus me-rip nya dulu ke format MP3 setiap kali beli CD dari Disctarra. Makanya saya agak heran kenapa baru sekarang iTunes berjualan di Indonesia, mungkin karena mindset kita ya?

Paling tidak itu saya alami sendiri. Ketika saya berseru girang iTunes telah ada di iPad, semua mata memandang saya aneh. Kenapa tidak download saja? Ngapain mengeluarkan uang kalau gratisannya sudah tersedia? Ketika saya bilang ini adalah cara saya menghargai seni — karena saya menyukai seni, saya malah dipandang lebih aneh lagi. Ujung-ujungnya akhirnya saya dibilang sok kaya lah, ga butuh duit, tunggu kalau nanti sudah kawin, dsb.

Membeli adalah cara saya meng apresiasi karya para maestro-maestro musik. Seperti saya memberikan uang ketika ada pengamen yang menyanyi dengan musik yang baik dan dari hati. Itu tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Ah sudahlah.

Kembali ke iTunes, saya sudah melihat beberapa lagu Indonesia dijual di sini. iTunes Top Chart diduduki oleh lagu yang dinyanyikan Chakra Khan (merusak nama penyanyi jazz favorit saya: Chakka Khan). Saya pikir bisnis musik Indonesia juga harus mau berubah. Mau meletakkan ego hak cipta label untuk mau menjual secara eceran. Toh, mereka mau atau tidak, musik mereka tetap dibajak.

Satu hal lagi, bagaimana dengan toko-toko CD konvensional macam DiscTarra ya? Sampai kapan mereka akan bertahan. Dengan hadirnya iTunes, saya jelas sudah tidak perlu datang ke DiscTarra, cukup mendownload saja langsung ke iPod dan langsung diputar. Tidak perlu repot-report me-rip CD nya dulu. Saya pikir mereka harus segera berinovasi dan berubah. Those who doesn’t change will be die, kata orang marketing.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. Ini sangat tergantung pada jawaban piranti apa yang masih disukai orang untuk mendengarkan musik.

    Jika orang memillih mendengarkan musik melalui CD player, maka saya percaya DiscTarra akan tetap laku.
    Tapi jika orang lebih suka mendengarkan musik melalui piranti mobile macam iPod atau minimal handphone, DiscTarra harus segera merger dengan iTunes. Atau lebih parah lagi, menjual perusahaannya kepada iTunes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *