Riya’

Catatan Minggu kedua Ramadhan 1433 H

Riya’ atau sikap ingin membanggakan dan memamerkan amal ibadah kepada orang lain adalah isu sensitif yang ingin saya bahas kali ini. Semenjak adanya media sosial sebagai micro blogging, kita semua dengan mudah menumpahkan isi pikiran dan kegiatan yang sedang dilakukan ke ranah publik media sosial seperti Twitter dan Facebook. Karena saya biasa berceloteh di Twitter, saya juga selalu update kegiatan Ramadhan saya di Twitter.

Maksud saya untuk meramaikan suasana Ramadhan di Twitter. Sharing hal yang baik-baik dan positif dengan harapan mengurangi porsi kenyinyiran saya di Twitter. Adalah sangat aneh jika saya update status macam “Juz 1 | Al-Baqarah 35 #tilawah”, “#tausiyahTaraweh di mesjid Baitussalam tentang ciri-ciri orang munafik”, “taraweh hardcore di mesjid Al-Hikmah” di luar bulan Ramadhan. Bisa dianggap twit pencitraan habis-habisan saya. Jadi mumpung suasananya cocok, saya ngetwit begitu supaya virusnya menyebar, syukur-syukur menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba-lomba menjalankan amal ibadah.

Apakah itu Riya’?

Wallahu’alam, bahkan saya tidak tahu apakah saya bermaksud pamer atau tidak. Dalam sebuah riwayat, ulama mengibaratkan riya’ itu seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam pekat. Tipis. Dengan demikian sedikit banyak, saya, dengan tingkat keimanan setipis ini, sebagus apapun niat saya, bisa jadi ada maksud untuk memamerkan amal ibadah saya dengan twit-twit seperti itu.

Galih itu, orang yang alim, rajin beribadah, dekat dengan Tuhannya! Jadi Galih itu cowok yang baik dan jempolan. Ah! Dan memang bukankah seperti itu yang ingin saya citrakan? Teman-teman semua tidak tahu kan apa yang sedang saya lakukan sebenarnya di balik twit-twit saya itu. Mungkin saya sedang duduk di depan tivi sambil menghisap rokok, sesuatu yang saya rahasiakan rapat-rapat dari dunia maya. Tidak sedang shalat, tidak sedang baca Qur’an, dan semacamnya.

“Sepupu” saya sering bilang, “I know you so well”, selalu saya jawab, “You shouldn’t know me that well” karena saya yang asli mungkin tidak seperti itu. Saya memilih untuk mencitrakan diri sebagai cowok baik-baik daripada mencitrakan diri jadi cowok yang urakan di Twitter. Saya berharap diri saya yang asli bisa mengikuti role model yang saya ciptakan sendiri itu.

Paling aman sebenarnya diam. Lakukan secara sembunyi-bunyi, bahkan tangan kiri pun tak tahu kebaikan apa yang sedang dilakukan tangan kanan. Aman. Bebas dari riya’!

Tapi saya percaya, kebaikan itu adalah virus yang bisa disebarkan. Kita cenderung mengikuti arus lingkungan sekitar. Jika lingkungan dipenuhi hal-hal positif, maka kita cenderung melakukan hal yang positif. Begitu pula sebaliknya. Jadi saya ingin menularkan hal-hal yang positif itu dengan harapan teman-teman juga ikutan.

Misalnya saya ngetwit, “Taraweh hari ke-14 di masjid Baitussalam”. Harapan saya, yang tarawihnya masih tiga kali akan berpikir, “Wah, sudah hari ke-14, taraweh masih tiga kali. Berangkat ah!”. Sudah terlalu banyak account yang berteriak-teriak midnight sale di mal ini itu. Sementara ustadz-ustadz yang ngetwit di-bully ke sana ke mari dan sedihnya banyak yang ikut-ikutan nge-bully.

Jadi, itulah pembenaran saya kenapa saya sering ngetwitkan amalan ibadah. Semoga Allah memaafkan saya jika ada niat riya’ yang terselubung dari setiap twit, dan bahkan mungkin dalam tulisan ini. Kalaupun pahala saya dipotong, semoga Allah menyelamatkan saya dari siksaan api neraka kelak. Saya masih jauh dari sempurna dan pantas untuk ikut berdakwah, tetapi apakah setiap orang harus menunggu tingkat insan kamil alias manusia sempurna dulu? Setiap orang berproses, dan dalam berproses, saya pikir adalah hal yang baik jika kita mengajak teman-teman terdekat untuk ikut berproses dalam perjalanan ruhani. Ihdinas shiratal mustaqim. 

Jangan Menuduh

Hal yang terpenting selain itu adalah, jangan sembarangan menuduh orang riya’. Tuduhan riya’ adalah tuduhan yang sangat serius. Saya sudah bilang, bahwa riya’ itu serupa semut hitam di kegelapan malam. Kalau orangnya sendiri saja susah mengenali, apalagi orang lain! Belum tentu di setiap pamer kebaikan adalah riya’ dan sebaliknya belum tentu di  setiap kebaikan yang tersembunyi bebas dari rasa riya’. Contoh: saya memasukkan uang 100 ribu ke kotak amal diam-diam, saya berkata dalam hati, “inilah aku yang dermawan!”. Sikap ini sama jeleknya dengan riya, yaitu ujub atau berbangga kepada diri sendiri. Nah lo, maju kena, mundur juga kena.

Ketimbang menuduh begitu, mari berkaca ke diri sendiri. Bisa nggak kita melakukan kebaikan seperti yang orang lain lakukan itu? Kalau nggak, sama aja dengan nyinyir dan sinis. Parahnya itu ghibah atau fitnah. Hati orang siapa yang tahu, niat orang siapa yang tahu.

Biarlah riya’, ujub, ikhlas itu menjadi urusan Allah saja. Kita manusia tidak perlu ikut-ikutan menilai. Mendingan riya’ dan tidak ikhlas tapi infaq sedekah dikeluarkan secara rutin daripada tidak melakukan amal sama sekali karena takut dianggap riya dan tidak ikhlas.

Selamat berpuasa Ramadhan! Masih ada sisa lima belas hari lagi untuk menyucikan dosa-dosa kita. Semangat!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. iyah, twit-mu emang suka “begitu-begituan” kakak 🙂
    tapi alih2 men-judge orang lain sedang riya’ atau nggak, memang lebih baik perbanyak amal sendiri, berbagi manfaat buat sesama 🙂
    selamat beramal…

  2. soal riya’ dikembalikan pada niatnya kakaaa, dan semoga yang membaca tuit-tuitmu itu juga gak berpikir dirimu riya’….

    kenalin dong sama sepupunya… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *