Officially, Magister Manajemen

Kegagalan itu biasa, tapi orang yang bangkit setelah gagal berkali-kali itu luar biasa. Ungkapan yang mungkin membosankan dan sering dipakai motivator, tetapi berapa banyak yang benar-benar melakukannya?

Jika saya tidak jatuh gagal di tahun 2009 itu, mungkin hari ini saya merasa cukup dengan gelar sarjana saja. Lha buat apa sekolah lagi? Sekolah lagi tidak menjamin karier dan gaji naik kok. Dan saya setuju itu. Tetapi momen kegagalan di tahun 2009 itu membuat saya harus berpikir, saya harus berubah! Tidak bisa begini-begini terus. Dan saya memutuskan untuk bersekolah lagi di jenjang strata dua, untuk memperluas pengetahuan, mind-set, pola pikir, dan segala hal supaya saya tidak terlalu freak, geekΒ dengan computer science.

Itu yang membuat saya memilih sekolah bisnis manajemen. Sesuatu yang jauuuuh dari komputer. Dan semangat untuk perubahan juga yang membuat saya memilih Universitas Bina Nusantara sebagai pilihan sekolah. Pertimbangan saya, sekolah swasta tentu memiliki kultur yang berbeda dengan sekolah negeri. Dan saya perlu sedikit mengikis kultur Jawa yang sangat kental dimiliki oleh ITS. Dan Binus saya anggap punya kultur yang sangat jauh berbeda dengan ITS. Jadi saya mengesampingkan untuk punya gelar master dari sekolah negeri ternama seperti UI, UGM, dan ITB demi mencari sesuatu yang sangat berbeda (dan biaya kuliahnya juga sih).

Ternyata saya suka ilmu manajemen. Saya suka Strategic Management, ilmu Marketing Management, ilmu Corporate Finance, dan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu bisnis. Tetapi sekolah di sekolah bisnis tidak serta merta membuat Anda menjadi seorang enterpreneour. Saya memang sudah bisa dan pandai bikin Business Plan, hitung-hitungan finansial yang rumit, dan semacamnya. Tapi untuk memulai menjadi business manΒ dan memiliki start-up saya sendiri, itu hal yang berbeda.

Berbeda

Dan memang kuliah S2 itu berbeda dengan S1. Karena ini dibiayai sendiri, subhanallah, jadi terasa bagaimana dulu orang tua susah payah mencari duit supaya saya bisa bersekolah S1. Dan mereka tidak pernah menunjukkan itu ke saya. Seakan-akan they are financially strong. Saya harus bersusah payah setiap bulan menabung, dan setiap empat bulan sekali menyetorkan itu ke lintah darat selama dua tahun.

Tetapi jika mau jujur-jujuran, kuliah S1 memang jauh lebih emosional ketimbang S2. Thesis saya harus saya akui tidak terlalu heroik dibandingkan waktu S1 dulu. Waktu zaman dulu itu rasanya tugas akhir itu benar-benar karya saya yang monumental. Di kuliah S2 ini banyak sekali hal-hal yang harus jauh dari idealisme saya, kambing hitamnya sih karena kesibukan pekerjaan. Saya terpaksa mengubah cerita akhir thesis dari sesuatu yang ideal menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Acara wisudanya juga begitu. Meskipun sempat sedih karena tidak didampingi siapapun termasuk orang tua, tapi saya tidak terlalu kecewa. Emosinya jauh berbeda dengan S1. Jika dulu waktu S1 orang tua tidak hadir, saya mungkin sudah menangis. Kemarin, rasanya seperti datang ke kondangan saja. Datang, duduk, dipanggil, salaman dengan Pak Rektor yang baru hari itu saya kenal, salaman ke Pak Dekan yang kebetulan dosen pembimbing thesis saya (Salam, Pak Firdaus Alamsjah πŸ™‚ ), dan salaman ke Head of Program, Ibu Pantry Heriyati.

Akhirnya, inilah akhir perjalanan kuliah S2, sejak pertama kali mengisi formulir di kampus Binus sambil terkagum-kagum dengan kecantikan mbak bermata sipit yang membantu saya. Lalu kenal teman-teman baru di acara Outbond di Lido, Sukabumi. Bersenang-senang di kampus yang mewah. Saya akan merindukan saat-saat terkantuk-kantuk di kelas karena energi sudah habis di kantor, lalu pulang rasanya seperti melayang. Saya akan merindukan hari Sabtu mengerjakan tugas-tugas.

Terima kasih untuk guru-guru yang sudah mengajarkan segala macam ilmu. Terima kasih untuk atasan dan perusahaan yang telah memberi kesempatan seluas-luasnya untuk karyawannya untuk sekolah lagi. Terima kasih untuk teman-teman sekelas, sekelompok (Indah, Pak Mardi) sejak dari Lido hingga penutupannya di acara wisuda kemarin. Keep in touch yaa…

Galih Satriaji, S.Kom, M.M (hehehe…)

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 thoughts

  1. ejieee…prikitiew πŸ˜€
    btw mas, dari kantornya apa ada juga program menyekolahkan karyawannya? kalo ada, minta aja ntar S3 ke luar negeri, kan asik tuh, ahaha…

      1. hihi iya juga sih, temenku ada juga yg S2 boleh cuti 2thn, tapi bayar dewe (tapi dia yg milih gitu sih, daripada dibayarin & “diikat” terus di perusahaannya) πŸ˜€

        btw dari dulu pengen tanya, itu kenapa gambar profilnya siput? menganut prinsip “alon2 asal kelakon”? πŸ™‚

  2. selamat ya Galih Satriaji, S.Kom, M.M
    semoga cepet dapet pendampingnya *lho…. amiiiin…

    mari makan-makan lagi di Burger King πŸ˜€

  3. selamat ya! aku salut sama orang yg selepas S1, masih punya semangat untuk melajutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi πŸ˜€ semangat yg aku tak punya πŸ˜› #curcol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *