Weruh Sakdurunge Winarah

Waktu awal-awal dulu saya masuk pasar modal, teman kerja yang sudah lebih lama bermain saham bilang, ketika sebuah berita muncul di portal berita, itu artinya sudah telat kalau mau masuk. Investor besar (yang sering dijuluki Bandar) sudah pasti tahu duluan dan bereaksi sebelum berita itu keluar. Investor kecil akan selalu ketinggalan. Ini yang sering membuat saya kebingungan ketika menerapkan analisis teknikal di lapangan, apalagi untuk orang yang pekerjaan utamanya bukan trader seperti saya.

Mari kita lihat contoh di bawah ini, ini adalah grafik pergerakan harga saham jagoan saya, Charoen Pokphand Indonesia (CPIN).

Saya masuk ke CPIN bukan berdasarkan analisis teknikal, tetapi berdasarkan analisis fundamentalnya Benjamin Graham. Seperti yang saya tulis lima bulan lalu, saya masuk di sekitar harga 2100-an. Lalu mencicilnya sehingga rata-rata harga beli saya 2500. Nilai intrinsik atau harga wajar CPIN menurut rumus sket togel punya saya hanya 2400. Sehingga ketika harga bolak-balik di harga 2600-2700 saya sudah tidak mencicilnya lagi. Tabungan bulanan saya pakai untuk beli saham lain yang masih murah.

Akhir Mei kemarin, bursa BEI digoncangkan lagi oleh krisis Eropa. Memang IHSG sedang ada di titik puncak sepanjang masanya, yaitu 4200. Tetapi seperti kebanyakan analis lain, saya cukup percaya diri bahwa IHSG akan mencetak rekor baru. Alhasil saya harus mereposisi portofolio saya (baca: menjual rugi beberapa saham yang menurut saya tidak berprospek dalam pesta diskon ini dan membeli saham yang terkenal bagus yang sedang diskon besar-besaran). Saya tidak berani mencicil CPIN meskipun ada diskon karena CPIN adalah saham saya yang porsinya terbesar kedua.

Minggu lalu, saya dikejutkan oleh gerak-gerik CPIN yang aneh. Ketika IHSG longsor sampai 70-an poin, si CPIN ini hanya turun sedikit saja. Seharusnya saya sudah mencium gelagat ini — sayangnya saya bukan investor yang berpengalaman, tapi investor galau :D. Indikator MACD yang menunjukkan sinyal (kotak pink bawah) saya abaikan. Saya tidak terlalu percaya chart memang.

Kotak pink kedua adalah sinyal indikator MA. Tapi buat saya sudah lumayan ketinggalan karena harga sudah melesat di 2850-2900, titik puncaknya sepanjang masa. Dan gerak berikutnya tidak bisa dianalisis dengan chart lagi, saya tidak tahu CPIN ini berhentinya akan dimana dan balik turun karena profit taking di harga berapa. Pada saat itu biasanya berita muncul dan menjadi buah bibir di milis-milis. Buat investor kecil, kalau mau masuk jelas sudah tertinggal, dan rawan disikat oleh investor-investor besar.

Exit or not?

Saya masuk pakai analisis fundamental, seharusnya keluar juga pakai analisis fundamental, bukan teknikal. Yang saya ceritakan barusan soal MACD dan MA itu adalah analisis teknikal. Tapi siapa yang tidak tergiur dengan unrealized gain hingga 36%?

Pengalaman Semen Gresik (SMGR) akhir tahun lalu membuat saya menyikapi ini dengan lebih sabar ketika CPIN menembus titik puncaknya dan memanjat harga 3000-an. Akhir tahun lalu, saya mendapat hadiah akhir tahun ketika SMGR tembus titik puncaknya di 10000. Waktu itu, harga beli rata-rata saya adalah 8900, dapat untung sekitar 12% (sudah seneng banget karena lumayan bisa buat beli es krim). Padahal proses memanjatnya SMGR berhenti di titik 11500, atau seharusnya gain saya adalah 30%.

Tapi ya begitulah seni jualan saham. Selalu ada ketakutan dan keserakahan yang bertempur. Ketika harga jatuh kita ketakutan, ketika harga naik kita serakah pengen yang lebih tinggi lagi. Dan saya lebih pintar mengatur saham yang merugi ketimbang yang sedang untung begini. Dan memang dari yang saya pelajari sampai hari ini, pasar saham bukanlah tempat untuk menebak kapan harga naik atau turun (timing), tetapi bagaimana bereaksi terhadap dinamika pasar dan menyesuaikannya dengan strategi dan portofolio kita. Jadi tidak diperlukan ilmu weruh sakdurunge winarah*.

*) Weruh sakdurunge winarah, Bahasa Jawa, kurang lebih artinya adalah mengetahui kejadian yang akan terjadi. Konon ada ilmu yang bisa mendengarkan bisikan atau isyarat langit sehingga orang bisa tahu kejadian yang akan datang. Konon, ilmu ini dulu dimiliki oleh Ki Ageng Sela, leluhur raja-raja Kesultanan Mataram. Para pelakon makrifat dan sufistik konon juga bisa mendapatkan ilmu ini ketika sudah menggapai level tertentu. Entahlah, hehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *