Berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI di Salemba

Saya memang sedang berburu perpustakaan yang bagus di Jakarta ini dalam rangka proyek digitalisasi buku yang sedang saya lakukan. Hasil searching Google merekomendasikan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah salah satu perpustakaan yang terbaik. Bahkan ada yang bilang, surganya buku. Wow, let’s try then.

PNRI terletak di jalan raya Salemba yang lebar. Gedungnya besar dan tinggi yang belum-belum membuat saya kagum, wah gedung segede ini menampung buku berapa juta copy ya? Saya datang di hari Sabtu, dimana ballroom nya sedang dipakai untuk acara kawinan. Pas masuk di lobby nya, pertanyaan saya adalah: harus kemana ini? Tidak ada petunjuk apapun bagaimana tata cara aturan main perpustakaan ini. Karena bingung, saya memutuskan daftar jadi anggota saja dulu. Saya ke bagian informasi dan diberitahu kalau pendaftaran dibuka jam satu. Masih sepuluh menit menjelang jam satu, jadi saya keluar dan makan mie ayam bakso dulu — belom makan dari pagi.

Jam satu lewat lima belas saya ke bagian pendaftaran. Disambut bapak-bapak yang sama sekali tidak ramah dan terkesan terganggu ketika saya bertanya bagaimana cara mendaftar. Saya disuruh mengisi data pribadi di komputer online yang tersedia di situ. Sedang antri, dan masih ada tiga desktop yang belum menyala, saya bertanya apakah saya bisa memakai desktop yang di situ, dengan muka masam bapak itu menjawab pakai saja yang ada. Baiklah tuan.

Pendaftarannya gratis tidak dipungut biaya, dan saya langsung dibuatkan kartu plastik yang cantik seperti fitness club member begitu, bedanya di sini tidak ada tanda kasta yang biasanya pakai batu-batuan logam: gold, saphire, platinum, dll.

Kemudian saya melihat papan petunjuk tema koleksi buku tiap lantai. Saya menuju ke lantai tiga tempat koleksi buku baru. Lha, sampai di sana bingung lagi. Rak bukunya ada di ruang kaca yang hanya pustakawan saja yang boleh masuk ke situ. Terus cara bacanya gimana dong? Ah, di sana ada beberapa desktop seperti di lantai satu, di sini menampilkan katalog online. Boleh juga. Jadi saya cari-cari buku di situ. Saya bersorak ketika menemukan buku jadul yang sudah lama saya cari: Tasawuf Modern karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Problemnya, bagaimana cara ambilnya?

Saya bertanya ke pustakawan yang ada di situ. Ternyata tata caranya adalah, saya harus ke lantai dua dulu di pusat katalog. Wah. Oke deh. Saya turun ke lantai dua dan menemukan area cukup terbuka yang dihiasi dengan belasan komputer desktop berdiri — di antaranya workstation Sun Microsystem yang tua dengan display X11-nya. Di sana saya mengulangi apa yang sudah saya lakukan, mencari buku, lalu menuliskan ke bon pemesanan buku. Waduh, terus apa gunanya katalog online kalau masih belum paperless begini? Terus saya datang ke pustakawan yang ada di situ untuk menanyakan koleksi buku itu ada di lantai yang mana. Pustakawan yang seumuran ayah saya itu mencoret lokasi lantai sambil berkomentar, “Suka mempelajari tasawuf ya?” Saya hanya senyum sambil menjawab dalam hati, “Tenang pak, saya bukan sufi kok…”

Lalu saya kembali ke lantai tiga. Di sana saya disuruh mengisi data yang saya tulis di bon pemesanan itu ke worksheet Excel di situ, lalu disuruh menaruh bon nya ke dalam kotak dan menunggu. Mbak pustakawan yang berbadan subur itu melanjutkan nonton Tom and Jerry sambil ngemil ayam goreng. Hampir dua puluh menit kemudian, saya baru mendapatkan buku saya. Kira-kira satu setengah jam dari saya mendapatkan kartu anggota saya.

Dengan semangat saya mulai membaca buku Hamka itu. Gaya bahasanya adalah bahasa Indonesia jaman EYD baru saja diterapkan. Pengantarnya cukup menarik. Karena ruang baca di situ tidak terlalu nyaman (AC-nya tidak terlalu dingin sehingga pengap bercampur bau kertas), saya bertanya bagaimana caranya membawanya pulang. Jawaban yang diberikan mbak Pustakawan cukup membuat saya lemas, “Koleksi di sini nggak bisa dibawa pulang. Yang bisa adalah yang di Medan Merdeka…”

Walah, padahal saya ke situ bukan untuk mau membaca buku sampai habis, tapi untuk meminjamnya (dan mau saya digitalisasi supaya bisa dibaca di tablet). Ya sudah, daripada pulang dengan tangan kosong, saya meminta si mbak itu untuk memfotokopi bab pertamanya saja. Mungkin lain kali saya akan mencoba PNRI yang di Medan Merdeka.

Jadi begitulah. Saya bilang, budaya membaca memang bukan budaya masyarakat kita, terlihat dari betapa sepinya perpustakaan dan tidak terlalu ramah buat para pengunjung. Saya pikir yang mau kesana hanya orang-orang yang sedang mengerjakan tugas akhir dan thesis saja. Saya masih bermimpi suatu saat bisa menikmati weekend dengan membaca buku di perpustakaan yang dingin, nyaman, dengan segelas Java Chips nya Starbucks –sementara saya dibawa pergi oleh mesin waktu ke dunia kata-kata, ke tahun yang tidak pernah saya kunjungi.

Situs PNRI: http://www.pnri.go.id

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

20 thoughts

  1. mungkin sabtu itu sepi krn orang2 nyiapain bermalam minggu 😀
    kalo minggu, orang2 siap2 bekerja di hari senin. Kalo senin-jumat, sepi juga karena pd kerja & sekolah.
    hahaha lha terus kapan ramene iki?

    hampir sama dg Perpusda Kediri (di jl.Mastrip), isi buku jaman saya SMP jg buku2 baheula, yg sayangnya, saya tidak tertarik membacanya. Cerita2 rakyat, tips bertanam bonsai, dsb. Nggak ada buku2 populer & menarik yg bisa “menghanyutkan saya dlm membaca”.

    btw,apakah ide digitalisasi macam itu tidak termasuk melanggar hak cipta,krn “memperbanyak” (walau bukan secara fisik) tanpa izin, mas?

    1. Betul, digitalisasi adalah termasuk kegiatan memperbanyak. Saya pikir penerbit harus sudah mulai memikirkan ini kalau tidak bernasib seperti produser kaset musik. Tidak lama lagi harga kertas akan semakin mahal dan harga Tablet PC berkualitas akan semakin murah. Digitalisasi ini seperti saya memfotokopi buku yang lebih lazim dilakukan orang. Sama-sama ilegal kan? 😉

      1. betul, sama2 ilegal.
        kalo dalam hal musik, bisa dicontoh upaya Pandji Pragiwaksono dalam memasarkan lagunya. Bisa di-download lagu aslinya di situs tertentu, gratis 100%. Tapi dia kerjasama sama sponsor, dimana kalo situs itu udah di-hit 10rb orang kl gak salah, dia dapet duit 100juta dr sponsor tsb (untuk album Mardesa-nya).
        Dan cara dia memasarkan lagu tsb dapet semacem award dari siapa tuh, yg nulis buku New Wave Marketing, Hilmawan Kertajaya ya?
        oke ini jd ngomongin musik, hehe

        artinya, perlu langkah konkrit lain memang untuk memasarkan/ memasyarakatkan buku sampe ke pelosok negeri ini. Merdeka, mas!!!

  2. Klo gitu bukan Perpustakaan Nasional lagi namanya, tapi cuma Gudang Dokumen Nasional…ga heran tmpnya sepi, mending org ke toko buku ato “taman bacaan” kecil ketimbng ksna…

    Saya pernh ksna 8 thn yg lalu…kesan “bikin bingung” ada di tema kunjungn pertama saya itu, kebanyakn birokrasi ga jelas….males dh ksna lagi

    1. Waduh, berarti tidak ada perubahan berarti ya dengan 8 tahun yang lalu…

      Tulisan saya ini juga ingin mengomentari himbauan pemerintah untuk memasyarakatkan baca buku. Tapi nampaknya itu hanya sebatas slogan saja, terlihat dari praktik di lapangannya yang tidak terlalu serius.

  3. Membaca posting ini, saya langsung bisa menilai bahwa perpustakaan nasional bukanlah tempat menarik untuk dikunjungi! >.<

    Sekarang di Surabaya dan Bandung mulai banyak lho kafe-kafe yang menyediakan buku-buku tebal bin keren untuk dibaca sambil duduk-duduk di sofa sembari menikmati kopi yang lezat. Jauh lebih homey dan berilmu ketimbang nongkrong di perpustakaan..

  4. Coba ke Jalan Proklamasi 41 ada yang namanya Freedom Instutite. Kata pacar sih tempatnya bagus dan suasananya enak.

    Tapi nggak tahu juga apa buku yang dicari bakal ada di sana.

    Oh ya, kapan ramenya perpustakaan nasional: waktu ada kawinan. Gedung perpusnas itu bisa disewa buat kawinan.

    Tapi mahal!

  5. Pernah dengar ada yg namanya. Pustakabersama.net atau perpustakaan bersama.net gitu, lupa deh, tapi mereka kolaborasi katalog, jadi kalau bingung ada dimana tinggal lihat buku yg dicari bisa. Didapat di perpustakaan yg mana

  6. wah, tadinya kepengen banget ngunjungin perpustakaan nasional. umm, dasar pegawai negeri. Kerjaannya duduk, makan sama kentut aja. 😀 Indonesia bisa ga maju-maju nih.

  7. surganya buku? berarti semua jenis buku ada dong? hmmm, pgn kesana tp kata temen” yang pernah ke sana, katanya di sana gak asik .. kalo buku sastra asing ada gak ya?

  8. Pengalaman saya juga seperti itu,,, Perpustakaan Nasional di Salemba itu membuat saya bingung. Kurangnya petunjuk dan pustakawan yang hhhmm… 🙂

  9. saya belum pernah ke perpus yg disalemba. kalo yang di merdeka selatan sih udah. wkt saya kesana 3tahun yll suasana ruangan2nya ky di villa gitu, mana ga pake jaket, dinginnya brrrrr :D,, bisa keliling2 seluruh ruangan yg modelnya ky kamar2, tiap kamar ada meja kursi untuk baca, bebas buka2 buku ga ribed ky yg diceritain di artikel ini deh,,, Sayangnya sejak november 2014 ditutup sementara krn renovasi dan layanan dipindah ke salemba. hmmm… ga tau deh digedung baru nanti apa msh nyaman ky sblmnya,,,

  10. Baca postingan ini jadi ragu mw kesana, masih blm tau mau baca buku apa yg jelas tentang akjntansi buat referensi tugas akhir . Tapi kayanya ribet bgt yaaa ????????

  11. Ternyata ribet banget ya cuma mau baca buku aja ,jadi di situ ga bisa milih buku sendiri harus siap buku apa yang mau kita cari

  12. Yuk coba ke perpustakaan jogja Graha Tama, disana dingin asik lah ma bacau berlama lama di perpus atau bisa di pinjam untuk dibaca dirumah 🙂 terimakasih info perpus pnrinya ya. Ayo budayakan membaca.

  13. wah… jadi males nih ke Perpustakaan Nasional, ribet kayaknya ya? duh, kapan nih reformasi birokasi… Kalau Perpustakaan daerah di Padang, baguss banget. ga ribet, pelayanan ok, welcome untuk anak-anak. ada ruangan khusus untuk koleksi anak-anak. bisa cari buku sendiri, koleksinya lumayan lengkap dan yang paling penting bisa dipinjam! lamanya 2 minggu lagi!

  14. Entah mengapa sy kurang suka membaca buku digital,,
    Apa karana sy ini gaptek atau gimana..
    Tapi menurut sy, seni nya membaca ya pada tiap gerakan membalikan kertas,
    Dengan aroma kertas baru/usang (lebih menggairahkan) dan bobot berat buku, yg semakin berat semakin keren.
    Juga cover nya, apalagi jika cover tebal dan huruf timbul, hmm itu menyenangkan..hihihi
    Mimpimu sama denganku, ingin duduk enjoy di perpustakaan yang nyaman sambil menikmati capucinno dan melihat sekeliling ada banyak org yang juga sedang tenggelam dalam bacaannya..

    Aahhh…
    Di era digital ini, apakah masih mungkin semua itu terjadi ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *