Review: Liferay sebagai Pilihan Aplikasi Portal Web

Tiga tahun yang lalu, saya sempat menyebutkan Liferay sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan Microsoft Sharepoint dalam fungsinya sebagai aplikasi portal web. Dan hingga saat ini, saya sudah mengimplementasikan Liferay untuk website resmi pabrik tempat saya bekerja dan satu lagi untuk aplikasi internal. Pada artikel ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai Liferay ini.

Liferay adalah engine berbasis Java yang ditujukan untuk pembuatan web portal. Memang jika dibandingkan engine-engine berbasis PHP, Liferay jauh kalah populer dibandingkan dengan WordPress, Drupal, dan Joomla. Tapi menurut saya, jika kita mencari engine portal berbasis Java terbaik, Liferay adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan dengan serius.

Mengapa Liferay?

Well, di pabrik saya, ada kebutuhan penyeragaman sistem dimana sebagian besar aplikasi berbasis Java. Kami memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan PHP, terutama menyangkut skalabilitas dan biaya maintenance yang luar biasa besar. Sehingga otomatis, engine-engine berbasis PHP yang terkenal itu dicoret dari daftar.

Kemampuan untuk melakukan design layout secara on the fly adalah kelebihan yang jarang dimiliki portal lain. Jadi kita bisa menambahkan portlet — isian konten — secara langsung dan bersifat WYSIWYG. Menambahkan ruang untuk blog, forum, galeri foto, file-file bisa tinggal drag-and-drop. Lalu beberapa template layout sudah disediakan pula oleh Liferay, satu kolom, dua kolom, atau free style.

Membuat custom themes juga cukup mudah, meskipun tidak semudah WordPress, tapi masih lebih mudah daripada Joomla apalagi Drupal. Template engine-nya berbasis Velocity, jadi yang biasa melakukan templating di Velocity dan Freemarker akan mudah melakukan custom. Ada empat bagian besar: header, navigation, main content, dan footer. Di main content itulah tempat portlet-portlet dipasang secara dinamis melalui antarmuka web.

Lisensi

Liferay bisa didapatkan secara bebas, baik versi binary maupun source code-nya untuk versi Community Edition. Untuk versi yang mendapatkan dukungan penuh dari vendor, disediakan versi Enterprise Edition. Dengan versi EE ini kita bisa membuat tiket support dari Liferay 24 jam. Dan team support-nya kebanyakan wanita-wanita muda berwajah imut seperti personnel SNSD. :mrgreen:

Jangan harap versi CE dan EE sama saja. Curangnya Liferay, versi EE memiliki struktur database dan indeks yang berbeda, jadi harus dilakukan proses migrasi khusus dari versi CE ke EE. Jadi tidak bisa begitu saja gonta-ganti versi dengan menggunakan database yang sama.

Performance, antara CE yang sudah dituning dengan EE default, jauh lebih cepat EE. Pada beberapa fitur, saya menemukan bug di CE yang baru akan diberi patch-nya di rilis major berikutnya. Sementara bug tersebut tidak ditemukan sama sekali di EE. Hal inilah yang membuat kami memutuskan membeli lisensi Enterprise Edition dari yang awalnya hanya Community Edition.

Wrap Up

Jika saya dihadapkan pada project yang mengharuskan software-nya adalah free, maka saya akan lebih memilih WordPress, Joomla, atau Drupal. Saya masih belum menemukan rasa klik dengan Liferay, ada bagian-bagian tertentu yang saya merasa kurang sreg dengan Liferay.

Hal yang lain, Liferay adalah barang langka di Indonesia. Menemukan vendor lokal yang bisa men-support Liferay bukan perkara gampang. Saya pernah menghubungi beberapa vendor yang bisa menangani Liferay (macam Mondrian-nya Frans Thamura), tetapi tidak mendapatkan respon yang positif. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan sendiri secara internal dan langsung meminta support dari Liferay Asia Pacific.

Dibandingkan dengan Microsoft Sharepoint, di luar integrasinya dengan Microsoft Office, saya akan lebih memilih Liferay karena Liferay jauh lebih fleksibel untuk dicustom. Sharepoint memang memiliki Sharepoint Designer, tetapi sulit sekali membuat theme custom untuk Sharepoint. Padahal salah satu kebutuhan utama dari web portal adalah kemudahannya membuat tampilan custom yang indah.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 thoughts

  1. ya ampyun kakak,,, dari sekian banyak istilah, aku yang agak familiar cuma PHP doang..
    tapi setelah aku googling, ternyata artinya “Pemberi Harapan Palsu” kakak… jadi galau nih! :))

    1. Hahaha.. Fatma, PHP itu singkatannya Hypertext Preprocessor. Blog ini aslinya dulu adalah blog IT, tapi jadi melebar kemana-mana begini. Makanya 2 postingan terakhir ini untuk mengisi sesi IT yang sekarang jarang diisi 🙂

  2. PHP itu PHP Hypertext Preprocessor. :))
    Tapi bagian mananya maintenance mahal. Di tempatku bakal pakai Drupal untuk portal aggregator berita gara2 gratis. :))

  3. bung galih, kalo bole nanya, dapet tutorial liferay darimana ya?aku mo coba-coba buat sih nih..denger2 liferay bagus soalnya..tolong info ke email jg bole (willy.kurniawan.23@gmail.com).

    untuk pengembangannya menggunakan j2ee? atau dengan apa?thx penjelasannya..

  4. MAs Galih, memang liferay CMS yang complicated dan fiturnya OK, saat ini kami juga sedang develop menggunakan liferay dan hasilnya OK, namun kita membutuhkan effort lebih.

  5. Yang paling saya suka dari artikel ini adalah “.Dan team support-nya kebanyakan wanita-wanita muda berwajah imut seperti personnel SNSD…” hahaha… Mana imut sama personil KARA mas.? 😀

    -mantan tetangga se-cubical-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *