1000

Tujuh setengah tahun. Seribu artikel.

[sepuluh menit berlalu tanpa kalimat. speechless]

Mau tidak mau saya mengenang masa-masa awal saya ngeblog untuk kesekian kalinya. Agak lucu, karena saat itu saya tidak mau disebut blogger, saya seorang penulis diary yang mungkin jaman sekarang disebut galauers. Sok-sok’an romantis, nulis puisi, menjadi secret admirer karena merasa menjadi bukan sosok yang menarik. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang maniak pemrograman yang suka ngulik rumus Matematika Diskret 20 senti di bawah matanya?

Time flies, people changes. Nampaknya cuma saya yang masih tidak banyak berubah, masih menulis apa yang ingin ditulis di sini. Kadangkala saya merasa waktu terlalu cepat berlari, dari weekend ke weekend, dari Senin ke Senin, seperti mimpi saja. Dan catatan blog inilah yang mengingatkan saya kalau waktu telah berlari.

Topik bahasan, masih gado-gado seperti dulu. Dan mungkin karena itulah saya masih bisa ngramut blog ini sampai sekarang. Dari jaman isinya pemrograman mlulu, lalu merengek-rengek di kategori Melankolis karena tidak tahu bagaimana menarik hati perempuan. Pindah ke Jakarta, mengejar apa yang dinamakan karier, menekuni fotografi, bosan dengan fotografi menekuni musik. Melanjutkan sekolah S2, minatnya pindah ke Finance dan pasar modal. Lalu sampai di titik jenuh lagi. Ya balik lagi ke titik awal, nulis suka-suka, sesempatnya, sesukanya.

Teman-teman. Ini yang menarik. Seorang blogger, secuek-cueknya, semalas-malasnya ia blogwalking, akan selalu mengharapkan sedekah komen. Itu tanda kalau blognya masih ada yang baca. Tanda apresiasi. Dan sampai sekarang, hanya sedikit teman-teman lama blog yang masih keep in touch. Datang dan pergi.

Mbak Rina dari Cilacap adalah salah satu yang paling berkesan. Meskipun ia sekarang sudah tidak pernah mengunjungi dunia internet lagi, saya masih dapat kiriman blast SMS lebarannya tiap tahun. Sayang waktu kemarin ke Cilacap, tak sempat ketemu. Moga-moga aja nomor teleponnya nggak ganti.

Atau dengan blogger ini yang sekarang menjadi teman akrab — saking konsistennya bertukar komentar dari dulu sampai sekarang. Jejak tulisannya pertama kali di blog ini adalah tanggal 18 Juli 2006. Ia bilang, “Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.”  Itu di postingan yang jika saya baca sekarang pun masih ikutan trenyuh dan ingat kejadian di tepi sungai di Moyoketen, Tulungagung, enam tahun silam. Ia (si tokoh di postingan itu) bertanya dengan lembut waktu itu, “Apakah Galih ingin aku menjauh dan tidak dekat lagi?”

Atau dengan perempuan ini, salah satu sumber inspirasi saya waktu itu, yang karenanya saya membuat buku pertama saya, Secangkir Kopi Java. Ia berkomentar begini, “ya’apa yen sampaen nggawe buku mas, mengko aku dadi editor lan produsere :p (Bagaimana kalau kamu membuat buku mas, nanti aku jadi editor dan produsernya :p)”. Tertanggal 18 Juni 2006. Apa yang bisa dilakukan seorang anak muda freak untuk menyatakan perasaannya? Lahirlah buku 100 halaman PDF itu. Tapi ya siapa yang mengerti dengan model komunikasi nggak umum begitu? Hehehe…

Begitulah, saya cenderung menertawakan diri saya sendiri karena blog ini merekamnya dengan begitu detail. Mungkin lima tahun lagi, saya di umur 30-an akan menertawakan saya yang sedang menulis sekarang ini. Blog adalah autobiografi yang jujur menceritakan kembali kehidupan penulisnya dari tahun ke tahun.

[speechless lagi]

Saya tidak tahu kenapa kok saya merayakan tulisan ke-1000 ini dengan begitu melankolisnya. Mungkin karena aslinya blog ini melankolis sih. Ini hanyalah salah satu milestone, tonggak waktu, seperti orang yang sedang berulang tahun.

Naah, supaya agak ceria, saya ingin bagi-bagi hadiah. Kali ini hadiahnya agak lebih serius. Saya barusan menyelesaikan naskah setebal 129 halaman. Seperti jaman dulu waktu menulis Secangkir Kopi Java, saya menulis topik yang menjadi ketertarikan saya saat ini: personal finance management. Judulnya “Merencanakan Keuangan Pribadi dengan GNUCash”. Saya sedang mengusahakan itu diterbitkan di nulisbuku.com (saya sudah upload naskahnya tadi sore), supaya saya bisa mengirimkan hadiah ini secara fisik ke teman-teman. Bukan e-book lho.

Siapa yang dapet? Biarkan pseudo random generator algorithm yang akan menentukannya!

^_^

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 thoughts

  1. AKU MAU BUKUNYAAAA… AKU MAU BUKUNYAAA…!!!
    *eh, GNUcash itu semacam apaan mas? 😀

    wow, udah beneran 1000 nih? selamat kakak…
    aku ikut melankolis baca postingan ini.
    menceritakan ttg berbagai perubahan hidup, tapi sejatinya ada “bagian diri” yang tak pernah berubah 🙂

  2. beyuh-beyuh, benar-benar blogger senior sampeyan iki cak!

    selamat atas peringatan 1000 post nya, mungkin dari 1000 itu baru beberapa yg sy baca, tapi yang pasti blog sampeyan ini menjadi agenda kunjungan rutin sy karena sudah masuk di google reader sejak beberapa tahun terakhir :d

    kalo soal buku, monggo wes, kalo dikirimi akan sy kasih alamat rumah sy yg baru :d

  3. Wah, Selamat atas tercapainya 1000 posting..saya tunggu buku nya mas, selain buku juga saya tunggu…he.he.he.he..Salam buat mas Denis.

  4. ih jangan kasih ke aku ya kalo aku dapet bukunya *sok iya kaya dapet aja* 😛 aku mau beli sendiri ah gak mau gratisan.. ntar kalo udah terbit di pasaran, aku minta ttd sama foto bareng ya pas konferensi pers.. wakakakakakakak….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *