Tentang Mobil yang Minum Premium

Posted by: on Apr 3, 2012 | 11 Comments

Ciri khas orang Indonesia — saya dan Anda — adalah kecemburuan sosial dan egoisnya yang tinggi. Susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah. Ketika ada foto berantai sebuah Alphard mewah minum bensin bersubsidi, langsung semua orang mencaci maki dengan sinis setiap mobil baru yang minum Premium. Tapi mari kita lihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Selain egois dan cemburu sosial, orang Indonesia itu — saya dan Anda — juga sering mengedepankan gengsi dan status sosial. Jika Anda berumur sekitar 30 tahun, memiliki keluarga baru, kemudian punya uang nganggur 300 juta, apa yang Anda akan lakukan dengan uang itu? Saya yakin, mayoritas akan membeli rumah atau mobil. Mobil menempati urutan prioritas yang tinggi karena salah satu ukuran kekayaan adalah punya mobil. Tidak peduli itu mobil dibeli dengan hutang sehingga cash flow bulanannya menjadi defisit, dan net worth-nya juga minus. Miskin secara accounting, tapi kaya secara sosial.

Nah, banyak orang membeli mobil padahal struktur keuangannya sebenarnya belum mampu. Atau mampu untuk kelas mobil second yang sudah lama. Tetapi karena status sosial-nya seharusnya memantaskan dirinya untuk punya mobil baru yang mewah, maka ia memaksakan diri untuk membeli yang lebih baru.

Bayangkan status sosial yang didapatkan. Rasakan setiap orang yang akan memandang dengan lebih hormat. Tidak ada yang bisa meremehkan. Apalagi jika umur masih muda. Sebagai seorang eksekutif muda yang sukses.

Padahal urusan mobil tidak berhenti sampai membeli saja. Akan ada biaya operasional yang besar. Biaya bensin, tol, perawatan berkala, cuci mobil, dll.

Berandai-andai lagi, jika ada seorang eksekutif muda gajinya 15 juta sebulan, ia pantas punya mobil kan? Sangat. Terus, pengeluaran kan berbanding lurus dengan gaya hidup. Apakah orang gaji segitu pengeluarannya hanya 4 juta sebulan? Tidak mungkin. Secara gaya hidup, bisa jadi ia bahkan tidak punya simpanan tabungan sama sekali.

Sudah dapat efek psikologisnya? Tidak jadi naiknya harga BBM tak pelak membuat gap antara Premium dan Pertamax lebih dari dua kali lipat. Pertamax sekarang harganya Rp. 10.200, itu jika dibelikan Premium sudah 2,26 liter sendiri.

Jika setiap seminggu sekali, si eksmud itu harus memenuhi tangki mobilnya, katakanlah 30 liter, maka pengeluarannya dengan Pertamax adalah Rp. 306.000 seminggu. Sebulan adalah sekitar 1,2 juta. Rasio dengan penghasilan bulanannya hampir 10%. Jika dia pakai bensin premium, maka pengeluarannya jadi Rp. 135.000 seminggu, Rp. 540.000 sebulan, atau hanya 3% saja dari penghasilannya.

Efeknya mantap sekali. Penghasilan si eksmud itu sebenarnya hanya cukup membiayai mobil dengan Premium. Dan bukankah tidak ada aturan setiap mobil baru harus pakai non-premium? Itu menjawab pertanyaan kenapa ada orang yang pakai mobil mewah tetapi tidak mampu beli BBM non subsidi.

Tanpa melihat segala macam kepentingan, gap antara Premium dan Pertamax sudah terlalu jauh. Saya boleh bangga memakai Pertamax karena pengeluaran saya untuk BBM hanya 30 ribu setiap minggunya. Masih jauh dari pengeluaran untuk makan seminggu. Mungkin jika saya punya mobil mewah begitu, saya juga tidak bisa menerima pengeluaran sebesar itu untuk Pertamax. Untungnya, saya tidak punya mobil.

11 Comments

  1. Fenty
    April 3, 2012

    lalu berniat beli mobil nggak, kakak ? :D

    Reply
  2. Prabowo
    April 4, 2012

    Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah. Menohok & tepat sekali :D

    Reply
  3. warm
    April 4, 2012

    dan asya masih pake premium, coba
    sungguh memalukan ya :|

    Reply
  4. budiono
    April 4, 2012

    haha.. kebetulan kemarin habis nyanggong di pom bengsin ar.hakim

    kejadian 1: mahasiswa bawa mobil 200 jutaan, antri di barisan premium. alasan: masih mahasiswa mampunya premium

    kejadian 2: bapak-bapak, mata sipit, kulit putih. bawa mobil 450 jutaan, antri di barisan premium. alasan: disesuaikan pendapatan, mampunya beli premium

    alasan kedua orang itu menurutku lucu bin ajaib. lucu karena dilihat dari mobil yang dibawa aja harganya ratusan juta banyak, masa beli pertamax ndak mampu? ajaib, karena mobil itu mestinya akan cepet rusak kalo dikasih premium, tetapi tetep aja dicekoki premium.

    *saya sendiri pengguna setia premium dan solar*

    Reply
    • Galih Satria
      April 5, 2012

      Sebenarnya alasan itu bisa dimengerti dengan asumsi karena mereka hanya mampu beli mobil, tidak mampu merawatnya. Si mahasiswa cuma dikasih bapaknya duit jajan buat beli premium, atau porsinya udah habis buat kebutuhan lain.

      Saya kalau lagi dipinjami mobil sama bapak juga ngisinya premium, dengan alasan yang sama: gak mampu beli pertamax. Padahal buat motor, saya belinya pertamax plus yang paling enak tarikannya. ^_^

      Reply
  5. Ali S Kholimi
    April 5, 2012

    Sayangnya, pernyataan paragraf pertama dengan paragraf-paragraf selanjutnya tidak berhubungan.

    Terutama kalimat:
    “Ketika ada foto berantai sebuah Alphard mewah minum bensin bersubsidi, langsung semua orang mencaci maki dengan sinis setiap mobil baru yang minum Premium.”

    Kalaupun ada hubungannya, yang saya tangkap malah Alphard mewah itu boleh minum bensin bersubsidi.

    Kesalahan berjama’ah yang anda utarakan di paragraf-paragraf selanjutnya, tidak menjadikan sebuah alphard mewah minum bensin bersubsidi itu benar.

    Sayangnya anda tidak menjelaskan, jadi saya asumsikan anda membolehkan hal itu karena sudah menjadi kesalahan umum.

    Sama seperti logika, bolehnya korupsi, karena masyarakat secara umum melakukan korupsi.

    Reply
    • Galih Satria
      April 5, 2012

      Yup. Siapapun saat ini boleh membeli premium karena hanya sanksi moral saja yang ada. Tulisan ini semacam pembenaran mengapa Alphard mewah itu minum premium, karena memang gap psikologis premium dan pertamax sudah terlalu lebar.

      Reply
  6. Budi
    April 7, 2012

    sebetulnya bedanya pertamax sama bensin biasa apa sih?

    Reply
    • Galih Satria
      April 8, 2012

      Bedanya pada kadar oktan. Kadar oktan Pertamax adalah 92, sedangkan Pertamax Plus 95. Sedangkan Premium cuma sekitar 88. Kadar oktan berpengaruh pada proses pembakaran. Secara kasat mata, bedanya ada di “tarikan” gas, makin tinggi oktan makin cepet buat berakselerasi.

      Reply
  7. Bella Sirait
    April 19, 2012

    Awalnya saya pikir budaya jaim (Jaga Imej) dan gila hormat itu terjadi di lingkungan dekat saya…ternyata memang ud dimana2

    Mangan so mangan yang penting gaya jo…Premium so Premium yang penting Mobil Keren jo!!!

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site