Review: Perahu Kertas

Spoiler ALERT: Tulisan ini akan penuh dengan spoiler. Ini bukan resensi, tetapi review gaya bebas. Ada bocoran akhir ceritanya. Jadi yang belum membaca dan ingin membaca novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari ini disarankan tidak membaca artikel ini. 

Judul Novel: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari (Dee)
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 444 halaman.

Buat saya, Perahu Kertas adalah novel yang unik karena menurut saya novel ini bagus dan jelek! Novel ini termasuk sedikit novel yang sanggup membuat saya mengalami guilty pleasure — dimana saya harus berangkat ke kantor tetapi saya masih asyik dengan ceritanya. Dan saya memilih untuk berangkat telat, hehehe…

Saya memang membacanya dengan emosional, pakai perasaan, membiarkan air mata menetes seperti ibu-ibu nonton sinetron. Buku ini bagus karena cerita dan konflik drama percintaannya memang enak diikuti. Pakai alur maju yang sederhana dengan penanda tanggal di setiap bagian. Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya karena saya yakin teman-teman di sini (apalagi para kutu buku macam Kimi atau Nike) pasti sudah baca novel ini. Intinya menceritakan konflik drama dua tokoh utamanya: Kugy dan Keenan.

Seperti novel Dee yang lain, Filosofi Kopi, saya makin diberi gambaran bagaimana jalan pikiran dan cara berpikir wanita. Bagaimana mungkin Kugy membiarkan dirinya jatuh cinta kepada seorang Keenan padahal ia masih pacaran sama Ojos? Sebuah cara berpikir yang sangat aneh buat seorang pembaca yang struktur otaknya sudah mirip chip komputer — loop and break if not zero.

Suka ya suka aja. Nggak ada urusan punya pacar atau nggak. – Ojos

Tetapi yang membuat saya lebih tersentuh adalah konflik di dalam diri Keenan sendiri. Kasih tak sampai nya ke Kugy yang sudah punya Ojos. Kugy adalah sumber inspirasi yang membuat lukisan-lukisan Keenan menjadi begitu hidup dan menemukan ciri khas nya. Terluka, ia melarikan dirinya ke Ubud.

Bintang yang sama tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. – Wayan

Saya tidak akan membohongi diri sendiri bahwa saya tidak tersentak membaca bab-bab ini. Apalagi saya sudah meletakkan segala macam topeng dan benteng apapun ketika membaca novel ini. Ini membuat saya sempat merenung, mungkinkah saya masih di jurang yang sama ketika saya berteriak riang gembira kalau saya sudah move on. Saya merayakannya dengan mengubah layout, mengganti tagline, dan menghentikan tulisan-tulisan berkategori melankolis.

Melankolis itu, meskipun terkesan galau, norak, dan memalukan, tetapi di sana ada kejujuran dan ketulusan. Keberanian untuk mengungkapkan ekspresi, curahan hati ke khalayak ramai. Dan apakah saya hari ini masih bisa menulis puisi? Tidak. 🙂

Ikuti saja kata hati kamu. Kemanapun itu. Hati tidak bisa bohong. – Luhde

Ending cerita ini sudah tertebak sejak awal saya membacanya. Justru faktor inilah yang merusak kesempurnaan novel ini. Seperti cerita-cerita FTV. Seperti cerita-cerita Cinderella dan Putri Salju. Saya akan lebih suka jika ending ceritanya dibuat realistis. Bahwa hidup itu adalah realita yang seringkali menyakitkan karena berlawanan dengan impian dan cita-cita.

Orang harus belajar dan berdamai dengan kenyataan bahwa cinta tidak selalu menjadi akhir bahagia. Cinta itu, setulus apapun, seringkali menjadi kasih yang tak sampai. Setiap kebahagiaan yang terjalin, mungkin mengoyak luka sudut hati yang tersembunyi seseorang. Banyak orang yang menikah bukan dengan cinta sempurna yang ia impi-impikan, karena mereka tahu bahwa dunia nyata adalah realita tanpa kesempurnaan. Banyak orang yang menikah dengan ketidaksempurnaan, dan berbahagia karena itulah cinta yang nyata.

Saya lebih suka jika novel ini berakhir dengan realistis. Mungkin selera pembaca Indonesia tidak suka novel-novel yang berakhir sedih ya? Tapi saya sudah banyak membaca novel-novel barat yang berakhir tragis, dan karena itu lebih dekat dengan kenyataan, saya menyukainya ketimbang akhir yang lebih mirip dongeng.

Sekian.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

17 thoughts

  1. Nah… itu! Aku kurang suka novel ini karena endingnya mudah banget ditebak. kenapa gak sama pasangan masing2 aja sih? maksa banget kalau mereka harus “dijadiin”. eh, ini menurutku sih. 😀

  2. bahasanya Dee “ruwet” lagi ya mas? hehe
    aku cuma baca 1 novelnya Dee (Supernova), dan aku kurang menikmati, karena isinya fisika2 gitu… nilai fisikaku kan jelek *halah

  3. setuju banget sama galih buat ending ceritanya. i have to say, aku kurang suka endingnya karena aku lebih suka klo endingnya dibuat realistis saja.

  4. Banyak orang yang menikah bukan dengan cinta sempurna yang ia impi-impikan, karena mereka tahu bahwa dunia nyata adalah realita tanpa kesempurnaan. Banyak orang yang menikah dengan ketidaksempurnaan, dan berbahagia karena itulah cinta yang nyata.

    ==> aaaaawwwwwwwww… 😛 aduh balik melankolis lagi nih keknya mas gal 😀

    hadeuh.. aku jadi pengen bikin postingan mellow2 najong gitu lagi deh 🙁 *kumat galaunya*

    btw, PINJAM dong bukunya 😛

  5. Kalo aku suka di proses novel ini mas. bagaimana mereka mencoba menyangkal rasa hati tapi di akhir nya mereka jujur dan mengikuti kata hatinya. PEran luhde dan….(sapa tu pacarnya kugy?) juga berperan. Kalo mereka tetep maksain juga yah….akhirnya jadi realitis kayak yg terjadi di kehidupan kita 😀
    Poin yg kuambil di novel ini adl keberanian kita mengikuti kata hati 🙂

    Salam

    1. Nah, sebenarnya “kata hati” itu apa? Apakah 10 tahun lagi “kata hati” mereka akan sama? Dalam hal Kugy dan Keenan, ada dua potong hati yang terluka. Bagaimana dengan dua hati itu?

  6. hmmmm…munkin karena realitas sering kali (hampir pasti) memang tak seindah mimpi, makanya diciptakanlah dongeng yang berbeda dengan realitas….dibuat happy ending.
    untuk menguatkan diri agar tidak benar2 jadi realistis….
    di butuhkan banyak kisah yg sifatnya “dongeng” untuk membuat hidup tetap waras….

    😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *