Tentang Novel Kriminal dan Pembunuhan

Kalau ditanya jenis novel apa yang paling saya suka, saya tentu akan menjawab dengan pasti: novel pembunuhan. Meskipun saya suka romantisme, tapi saya selalu bosan membaca novel-novel tentang jatuh cinta dan patah hati. Saya juga akan merasa terlalu tua kalau lagi baca novel teenlit yang ceritanya tak jauh-jauh dari rebutan pacar. Dan saya sebut novel-novel percintaan Islami itu sama semua gayanya: pakai gayanya Habiburrahman El-Shirazy.

Teman saya di Twitter ada yang geleng-geleng, apa nggak menjijikkan mengimajinasikan darah-darah berceceran, tangan dipatahkan, leher ditebas pedang, leher dijerat sampai putus nafas dan lubang dubur terbuka, dll. Tapi anehnya saya bisa membaca pembunuhan Barzini, Philip Tattaglia, Carlo, dan musuh-musuh keluarga Corleone di novel Godfather sambil makan dengan nikmat. Baiklah, mungkin sekarang teman-teman menganggap saya punya bakat psikopat…

Tapi terlepas dari kekejamannya, novel kriminal menurut saya lebih kaya muatan dan pengetahuan. Di sini tidak melulu hanya pembunuhannya, tetapi ada seni perencanaan pembunuhan berencana. Ada konflik batin dimana seseorang dihadapkan pada satu pilihan: membunuh untuk menyelamatkan umat manusia. Ada drama romantis hero worship. Ada cinta posesif yang berujung kematian. Ada filosofi. Kadang-kadang ada sastra Shakespeare (Othello, Romeo and Juliet).

Nah, karena itu saya suka membaca novel kriminal. Selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari, selalu ada pengetahuan baru. Saya mungkin sudah membaca novel Godfather ratusan kali, karena apa yang saya lihat dari seorang Don Vito Corleone bukan kekejamannya, tapi leadership-nya, visinya, seni negosiasinya yang membuat dia menjadi seorang negarawan dunia bawah tanah yang jauh lebih sukses dari Paus dalam membawa misi perdamaian dunia bawah tanah.

Saya suka sosok Hercule Poirot yang sombong bukan main, tetapi itu saya anggap sebagai sebuah kepercayaan diri. Dia tidak pernah menyombongkan hal yang tidak bisa dia lakukan. Saya suka sosok Sir Charles Cartwright yang mempesona, seorang aktor yang membuat dramanya sendiri, menjadi peran-peran yang ia inginkan di kehidupan nyata. Bahkan saya suka Jupiter Jones, yang mengandalkan kecerdasan otaknya dan kemampuan analisisnya yang luar biasa.

Pernah saya mencoba membaca novel yang kelihatannya adalah drama romantis. Penulis macam Sandra Brown novel-novelnya drama romantis bukan? Tapi apa yang saya dapatkan? Sebuah petualangan dokter muda cantik yang dikagumi oleh seorang pembunuh bayaran. Pembunuhan lagi, hahaha…

Mungkin saya harus ambil novelnya Mira W kalau ingin baca novel drama percintaan yang benar-benar romantis.

11 thoughts on “Tentang Novel Kriminal dan Pembunuhan”

  1. Thriller memang selalu menarik.. Salah satu genre kesukaan saya juga, tapi gak sekelas penulis blog ini kok ^^,

    Indonesia punya novelis thriller handal enggak ya? Rasanya belum pernah dengar :D

  2. waaaa horor nih berteman sama mas Galih *eh*
    kalo aku udah melipir duluan kalo berhadapan sama novel2 horor. Enggak deeeh *ketauan penakutnya*

    Wong baca “24 wajah Billy” aja sampe merinding.
    Palingan horor yang aku baca pas SMP sekelas Ghoosebumps (bener gak ya nulisnya?).
    Selain itu, tetep deh yang romantis nomer satu, wkwk –> masalah selera

  3. Saya pernah punya masa di mana saya sering ke toko buku hanya untuk curi-curi baca novel Mira W. Setelah saya pikir-pikir, hampir semua nada novel Mira W sama, tentang cewek yang punya masalah dengan pacar/suami dan selalu dibikin susah sama kekasihnya sendiri. Kisah cinta ruwet kayak gitu lama-lama membuat saya bosan, lebih-lebih lagi karena konfliknya yang terlalu muluk untuk jadi kenyataan :D

  4. wah… gag nyangka, ada juga yang suka sama Agatha Christie…,

    setuju banget sama komentar kakak di atas…,

    udah baca ‘Tirai’ nya Christie ?
    bagiku itu berpengaruh banget sama penilaianku terhadap sifat seseorang…

    btw, semua novel Christie sangat berpengaruh buat ku sih….,^^

  5. Setuju buat Godfather, novel sama film-nya sama2 bagus. Waktu SMP dulu suku juga sama Trio Detektif, tapi kalo dibaca sekarang kok jadi nggak asyik lagi yah.

    Btw, nggak mau nyobain baca A Song of Ice and Fire nih Mas? :D

  6. kalau Agatha Christie yg bagus itu Crooked House (Catatan Harian Josephine) sama And Then There were None (10 anak negro). itu bener-bener seru. bagai novel detektif tanpa detektif.

    oyaa aku suka juga nih novel2 klasik. sekarang udah kehabisan Gone with the Wind (Margaret Mitchell) sama A Tale of Two Cities (Cinta 2 Kota – Charles Dickens).

    tolong kalau ada yang jual dan info2 lainnya yaah :) makasiiih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>