Mengeluarkan Mereka dari Jalanan

Posted by: on Mar 6, 2012 | 7 Comments

Hati saya seperti hancur setiap kali ada anak kecil — masih sangat kecil, di bawah umur, mendekati saya lalu menengadahkan telapak tangan meminta sedekah. Ada yang bahkan tanpa ekspresi dalam meminta-minta, seperti hapalan, kalau dikasih mengucap terima kasih (yang juga tanpa ekspresi), kalau melihat lambaian tangan tanda menolak segera berlalu.

Mau nggak dikasih, kok ya kasihan lihat keseharian hidup mereka yang keras, di jalanan penuh polusi. Mau dikasih, kok ya rasanya gimana wong duit itu tidak akan mereka nikmati, tapi disetor ke yang telah melatih mereka bernyanyi, tepuk tangan, menyusun kalimat meminta-minta, cara menyodorkan gelas bekas Aqua… Terpaksa saya harus menolak dengan sambil menjawab, “Maaf ya dek…”

But if you want to change something, you should start from the man in the mirror, kata Michael Jackson. Diam tidak akan mengubah sesuatu. Menulis, mengkritik, menghujat pemerintah, juga tidak akan mengubah apa-apa. Bagi saya, sekecil apapun, yang penting saya harus berbuat sesuatu.

Saya memutuskan untuk mencari lembaga LSM. Ada beberapa lembaga yang saya dapatkan, yaitu Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, dan PPPA Daarul Qur’an-nya Yusuf Mansur. Saya mencari lembaga yang memiliki program pendidikan kepada anak-anak. Buat saya, otak yang encer adalah modal yang tak ternilai harganya.

Saya sempat berdonasi ke PPPA (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an), tetapi agak kurang nyaman karena tidak ada semacam konfirmasi kalau transferan saya sudah diterima dan tidak nyasar. Yaa meskipun yang namanya infaq itu tidak boleh diungkit-ungkit, tapi kalau ada semacam kuitansi begitu kan lebih mantap.

Rumah Zakat yang memiliki program persis dengan apa yang saya cari. Mereka memiliki program beasiswa anak asuh untuk keluarga kurang mampu mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi. Jadi kita akan diberikan biodata anak asuh lalu kita berkomitmen membiayai pendidikannya selama minimal setahun. Besaran nilainya ditentukan oleh Rumah Zakat. Selengkapnya bisa dilihat di program Senyum mereka di sini.

Nah, yang menarik adalah, pas lihat konsultannya, ternyata salah satunya adalah teman baik saya di Flickr. Pas dihubungi ternyata benar. Wah, malah dilayani secara pribadi, hehehe. Makasih ya Qefy. ^^

Apa yang saya lakukan memang ibarat sebutir pasir di pantai yang luas. Sangat kecil. Tapi paling tidak, sebutir pasir itu tidak perlu kuatir lagi bayar SPP paling tidak selama setahun kedepan. Syukur-syukur kalau sampai lulus nanti, insya Allah.

Saya pikir, ini lebih baik ketimbang memberikan seribu dua ribu rupiah kepada anak-anak di jalanan itu. Bisa jadi apa yang kita lakukan itu malah akan menjerumuskan mereka lebih dalam dan lebih lama di dunia yang keras itu. Wallahu ‘alam.

7 Comments

  1. budiono
    March 6, 2012

    sangat sepakat dengan cak galsat, saya juga paling males kalo lihat anak kecil menengadahkan tangan di perempatan, di ujung jauh biasanya ada ‘bos’ mereka yang ngawasi..

    pernah sekali kawan saya mergoki, mereka itu diturunkan dari mobil mewah di perempatan, lalu sorenya dijemput lagi..

    sudah jadi semacam bisnis pengemisan!

    datangi rumah zakat atau YDSF atau lembaga amal yang lain adalah cara yang lebih baik

    oia, saya juga males dengan peminta sumbangan di ATM-ATM yang menyodorkan amplop tanpa bicara apapun. biasanya langsung saya pendeliki :d

    Reply
    • pety puri
      March 6, 2012

      setuju juga :)
      iya tuh, di ATM ada orang2 aneh yang tiba2 ngasih amplop, padahal juga alamat donasi yg tertulis di sampulnya belum tentu bener. Masak iya kita mau ngecek satu per satu?

      setuju sama tindakannya mas Galih ni, cari “tempat yg terpercaya” :)

      Reply
  2. giewahyudi
    March 6, 2012

    Iya, dilema juga kalau mau berbagi, lebih baik dengan cara resmi saja seperti rumah zakat..

    Reply
  3. huda
    March 6, 2012

    lih.. terus bagaimana kalau yg minta2 itu seorang nenek, tua renta.berdua dengan kakek, dan sang kakek buta. ceritanya lagi dipapah gitu.
    klo naek krl dr depok, kemungkinan besar ketemu deh :D hehe ya.. gak ada salahnya juga, klo mau berbagi dengan sesama.
    malah aku pernah ketemu, pengemis yang aku tolak.. malah ngomel2. istriku malah mau ngasih, gara2 kengomelan pengemisnya. malah tak bilangin “gak usah dikasih. niatan kita malah berubah, mending disalurkan di tempat terpercaya”. ngasih karena diomeli. hehehe

    Reply
  4. VITOnews
    March 6, 2012

    semoga penanganan masalah sosial di negeri ini dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya. tentunya dengan ide-ide baru dari berbagai jiwa yang peduli.

    Reply
  5. Fenty
    March 7, 2012

    setujuu :)

    semoga kita semua selalu bisa memberi daripada menerima :)

    Reply
  6. Prabowo
    March 7, 2012

    Sepengamatan saya, sasaran peminta-minta biasanya adalah wanita (ibu-ibu) karena mereka lebih tidak tegaan. Kalo ke para pria (laki-laki) biasanya pengemis tidak berharap banyak :D

    Setuju dg mas Galih tentang adik2 kecil. Jangan beri mereka uang. Salurkan kelebihan rejeki kita (yang mungkin memang hak mereka) pada lembaga terpercaya. Memberi an-jal (anak jalanan) seribu rupiah ibarat memberi ganja pada pemadat. Sekilas enak dan mudah tetapi sesungguhnya itu adalah racun.

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site