Tentang Move-On

Minggu ini, saya akan menulis tentang melankolis. Februari, musim orang sedang jatuh cinta dan patah hati. ^_^

Saya ditanya di Twitter, bagaimana caranya move on? Secara matematis, saya pernah empat tahun tidak berhasil move on, menghasilkan puluhan puisi dan ratusan curhat di kategori melankolis ini. Jadi sebenarnya, saya bukan orang yang ahli untuk melupakan yang telah berlalu dan suka dengan kondisi terluka dan patah hati.

Bagaimana caranya sembuh dari patah hati? Sependek pengalaman saya, ya, menemukan figur baru. Tidak mungkin melupakan orang yang pernah menyakiti kita. Sampai sekarang pun, saya akan ingat setiap kali menulis variabel  int x = 0; di kode program saya. Saya akan ingat ketika melihat penjual kerak telor. Jadi, daripada susah-susah berjuang dilupakan, tempatkanlah ia di tempat yang baik, di salah satu sudut hati, sebagai salah satu bagian sejarah yang indah.

Indah? Bukankah saya berkali-kali menulis potongan syair entah punya siapa, Love is such beautiful pain? Setiap orang akan menikmati sakitnya patah hati. Karena saya hanya bisa bikin puisi kalau lagi patah hati.

Permasalahannya adalah, bagaimana menemukan figur baru itu?

Nah kan, jadi lingkaran setan. Patah hati hanya bisa sembuh ketika kita telah menemukan figur baru. Padahal setiap kali muncul figur baru, kita selalu membandingkannya dengan yang telah berlalu.

Entahlah, saya sendiri belum pernah merasa menemukan figur baru yang lebih baik. Tidak ada gadis yang lebih cantik darinya. Tidak ada yang bisa diajak curhat, diskusi, tertawa bareng seperti dia. Tidak ada yang bisa membuat saya merasa seperti anak kecil yang merasa aman di dekat figur keibuan seperti dia. Di saat yang sama, tidak ada yang bisa membuat saya seperti seorang ksatria yang sanggup menyelamatkannya dari gangguan apapun. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa seperti itu.

Tapi bukankah tiap orang itu unik? Kalau mindset-nya mencari yang bisa seperti itu, bukankah saya hanya akan menyakiti figur baru itu karena saya tidak menempatkannya di tempat yang tertinggi di hati saya, bahkan hanya sebagai figur pengganti? Mungkin tanpa sadar, saya memang telah menyakiti figur baru itu. Maafkan aku, aku hanya laki-laki biasa yang punya sangat banyak kekurangan yang aku coba tutupi dengan segala macam topeng. 🙁

Hasbunallah wa nikmal wakil.

Cukuplah Allah buat saya. Segalanya akan lebih simpel kalau segala urusan dikembalikan kepada Allah. Apa sih niat saya? Kalau mencari pasangan hidup untuk menggenapkan separuh dien, kenapa urusannya dijadikan seribet itu? Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi saya mencoba mengurangi segala kriteria yang bersifat “duniawi”, membuka segala pintu kemungkinan jodoh itu datang dari pintu mana. Apakah melalui pacaran, taaruf, perjodohan… segalanya saya buka.

Yang cukup mengerikan yang sedang saya bayangkan adalah: bahwa saya akan menikah tanpa melalui proses jatuh cinta.

Apakah move on saya sudah lebih mirip putus asa? Semoga bukan. Tetapi di sini yang ingin saya share adalah:

  • Tidak mungkin melupakan orang yang pernah mencuri hati. T-i-d-a-k M-u-n-g-k-i-n. Jadi, tempatkanlah dia sebagai salah satu bagian dari sejarah hidup.
  • Pakai pikiran jangan perasaan. Saya yakin, cewek lebih susah move on, tapi ya hanya rasionalitas dan logika yang bisa menyelamatkan orang dari jatuh cinta. Because love is blind, and I will find my way with you.
  • Kembalikan segala urusan kepada-Nya.
  • Buka segala pintu kemungkinan. Jodoh akan datang melalui cara yang tidak terduga-duga.

Dan satu hal lagi yang sedang saya nasihatkan ke diri saya sendiri. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh bosan melalui jalan yang itu-itu lagi ketika sebuah hubungan kandas di tengah jalan. Melelahkan. Apalagi kalau urusannya sudah serius dan sudah membawa antar keluarga. Urusannya tidak hanya sekedar perasaan sendiri dan yang dikasihi, tetapi sudah menyangkut perasaan, harga diri, nama baik, dan ego antar keluarga.

Percayalah pada saya, nanti setelah move-on, ketemu figur baru, lalu sudah serius, masih banyak hambatan dan tantangan yang lebih kompleks ketimbang sekadar move on. Mungkin karena pernikahan itu adalah sebuah mitsaqan ghaliza ya, dan penggenapan dien, makanya setan yang mencoba menghalangi bukan yang kelas teri lagi.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!