Pembagian Kelas Kamera, Versi Saya

Jika kita ingin belajar memasak, tentu benda yang pertama kali harus kita punyai adalah alat masak: kompor, wajan, dan bahan makanan. Begitu juga dengan kalau kita suka fotografi dan ingin belajar fotografi: benda yang mutlak harus kita punya adalah sebuah kamera.

Apakah harus kamera bagus dan mahal? Iya dan tidak, tergantung mau seserius apa kita belajar. Kalau mau bisa bikin hidangan ala barat, tentu wajan tidak cukup untuk membuat masakan barat. Mungkin perlu oven, blender, segala macem. Begitu juga dengan fotografi, kalau mau bikin foto bagus sekelas foto iklan di baliho, butuh kamera dan lensa yang bagus — yang pasti mahal harganya.

Nah, di sini saya mau share tentang berbagai macam jenis kamera, menurut versi saya tentu saja. Setiap jenis kamera memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu saja. Kalimat bodoh.

Mobile Camera

Ini saya kategorikan untuk kamera-kamera kecil yang biasa ada di gadget: ponsel, smartphone, dan tablet. Ciri-cirinya, ukuran lensanya mini, hanya menjadi bagian dari fungsi alat induknya. Karena ukurannya yang mini, jangan berharap banyak dari kamera jenis ini. Tidak terlalu tajam, range warna dan cahaya yang sempit, dan noise-nya gila-gilaan. Tetapi keunggulannya adalah ia bisa secepat kilat diunggah ke internet. Makanya orang biasa memakai ini untuk pamer ke teman-temannya bahwa ia sedang ada di mana, ngapain, dsb.

Jika mengutip profil Instagram saya, fotografi mobile itu menarik. Keterbatasannya menantang kreativitas untuk menaklukkannya. Fotografi mobile, tidak bisa mengunggulkan kualitas teknis agar dilirik, tetapi lebih mengandalkan kekuatan konsep, cerita, dan komposisi.

Kamera Saku

Mungkin hampir setiap orang memiliki kamera jenis ini. Kamera kecil yang bisa dikantongi. Fungsinya hanya sebagai kamera dan kamera video tanpa fungsi yang lain. Karena itu, ukuran lensanya lebih besar daripada kamera mobile, dengan LCD yang lebih luas. Sekarang saya memakai Panasonic Lumix DMC F-3 yang murah meriah.

Kamera saku mengedepankan segi kepraktisan, maka disebut juga point and shoot camera. Tunjuk dan bidik. Gak usah pakai mikir. Don’t think. Just shoot!

Nah uniknya, saya pikir kamera saku akan semakin terjepit di tengah seiring meningkatnya kualitas kamera mobile. iPhone bisa dikatakan kamera mobile yang terbaik saat ini. Saya sering mengantongi kamera saku saya, memotret, lalu mendiamkannya sampai saya mentransfer-nya ke laptop, editing, lalu mengunggahnya ke web. Project365 di photoblog saya nampaknya hanya bertahan sebulan saja, hehehe…

Kamera Prosumer (Kamera Saku High Level)

Kamera saku saya kategorikan untuk kamera-kamera digital yang harganya di bawah 2,5 juta. Di atas itu saya sebut kamera saku high-end, atau sering disebut juga kamera prosumer. Kamera ini seperti kamera saku karena lensanya tidak bisa diganti-ganti, tetapi dengan fitur dan kualitas yang jauh lebih baik. Pengguna kamera ini ada dua: satu adalah orang yang memiliki budget lebih untuk membeli kamera saku karena ia menginginkan kualitas yang bagus dan tidak usah beli apa-apa lagi. Dan dua adalah penghobi foto yang menjadikan ini sebagai kamera kedua setelah kamera DSLR high-end-nya.

Iya, saya sering malas membawa Nikon D90 yang berat itu (karena harus bawa tas sendiri). Makanya saya menjadikan Lumix F-3 sebagai kamera kedua. Tetapi F3 sendiri kurang jika harus memotret kondisi-kondisi sulit seperti low light, butuh depth of field, macro, dsb. Contoh kamera di kelas ini adalah Canon Powershot G12 (baca: ji twelfv).

Kamera Mirrorless

Saya tahu kamera lucu ini setahun yang lalu waktu teman saya membawa kamera Olympus PEN ke kantor. Bodi-nya yang sekecil kamera saku tapi berlensa gendut membuat saya berpikir itu kamera prosumer. Makin melongo ketika teman saya itu membuka lensa dan menggantinya dengan lensa manual tua buatan Rusia. Ia tergabung di komunitas PENatics, yang sedang gandrung dengan lensa-lensa manual fokus berkualitas bagus.

Jadi ini adalah semacam perkawinan antara SLR dan kamera saku. Lensa bisa diganti-ganti, dengan layar bidik LCD tanpa viewfinder untuk mengintip. Sehingga ukurannya, baik ukuran bodi maupun lensa bisa diperkecil secara signifikan. Praktis, dengan kemampuan yang “nyaris” menyamai DSLR. Saya yakin, beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin kamera ini menduduki kasta tertinggi di dunia fotografi menggeser DSLR.

Kelemahan utama dari mirrorless kamera adalah shutter lag-nya, yaitu jeda/tunda/delay sepersekian detik ketika tombol shutter dijepret. Ini tentu menjengkelkan karena banyak sekali momen yang memerlukan reaksi saat itu juga. Shutter lag ini disebabkan oleh waktu yang diperlukan kamera untuk memindahkan sensor dari mode preview ke mode record.

Ini tidak dialami oleh DSLR karena mode preview dipantulkan oleh cermin, dibelokkan ke viewfinder. Ketika shutter dijepret, cermin tinggal diangkat dan cahaya langsung menuju sensor yang selalu dalam mode record. Makanya model ini disebut SLR – Single Lens Reflex.

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex)

Nampaknya saya tidak perlu menjelaskan lagi jenis kamera ini. Ini adalah kamera yang biasanya berwarna hitam, memiliki viewfinder untuk mengintip, lensa yang juga cukup besar, dan yang pasti tidak bisa dimasukkan ke dalam saku. Saat ini, teknologi kamera digital paling canggih ada di kamera DSLR, bahkan untuk entri level sekalipun. Kemampuan menangani noise yang halus, cahaya remang-remang, range warna yang luas, menjadikan kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar yang terbaik.

Untuk belajar fotografi, membeli kamera DSLR adalah menunjukkan keseriusan yang tinggi. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dengan kamera DSLR. Tetapi, saya harus memperingatkan anda dari awal, kamera DSLR hanyalah salah satu bagian kecil dari alat fotografi. Saya harus katakan, dengan satu kamera DSLR dan lensa normal (18-55 mm), dan jika anda ingin:

  • Membuat foto candid, anda perlu lensa tele di atas 70 mm
  • Membuat foto pemandangan yang asal jepret saja pasti kelihatan bagus, anda perlu lensa wide di bawah 17 mm
  • Memotret pernikahan, model, prewedding, anda perlu alat pencahayaan tambahan, bisa speedlight, bisa juga softbox

Jer basuki mawa beya. Begitulah. Makanya sayang sekali kalau sudah bisa motret, punya kamera bagus, tidak dikomersilkan. Paling tidak bisa mengganti biaya beli alat-alat ituh….. He he he …

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *