Facebook Timeline, Fitur Pembunuh Google+
Eh, apa kabar Google+ ya? Apa masih ada yang pakai? Tidak perlu survey rumit untuk melihat keberhasilan sebuah social media, cukup perhatikan teman-teman terdekat yang bukan early adopter. Mereka pakai G+ ga? Teman-teman saya tidak tahu apa itu G+. Yang punya account pun bingung bagaimana cara pakainya. Dan saya sendiri sudah menghapus account saya karena saya di-circle orang-orang tak dikenal. Karena tidak nyaman, saya hapus saja.
Kemunculan Google+, seperti produk-produk gagal Google lainnya, selalu dibuat heboh. G+ digadang-gadang adalah social media pembunuh Facebook karena membawa fitur-fitur yang unik. Banyak lelucon-lelucon yang dipakai untuk menaikkan G+. Google bertaruh cukup besar di social media ini dengan mengubah tampilan semua layanannya dengan tema Google+ — GMail, Reader, sampai Youtube. Nyatanya, sepertinya nasibnya akan seperti Wave dan Buzz.
Semalam, Facebook meluncurkan apa yang mereka sebut dengan Facebook Timeline. Ini adalah cara baru menampilkan halaman profil yang selama ini mulai membosankan. Dan ini menurut saya mengasyikkan. Tampilannya modern ala web masa kini. Sebuah fitur yang kata teman saya Adji Cynthia akan membahagiakan buat para stalker karena lebih mudah menelusuri apa yang dilakukan sang tokoh setiap harinya. Bahkan archive-archive lima tahun yang lalu akan sangat gampang diakses. Nah lo…
Jadi buat yang punya foto-foto masa lalu yang memalukan, atau yang sekarang berjilbab dan dulu masih ketahuan gimana dalemannya, segera cek dan segera hapus sebelum ditelanjangi oleh Facebook Timeline.
Antara Pamer dan Promosi
Seorang teman saya (akhir-akhir ini inspirasi ngeblog-nya kok dari “seorang teman saya” mlulu), sedang meniti karier barunya sebagai agen konsultan MLM. #nomention. Seorang pekerja keras yang saya yakin dia juga akan sukses di bisnis barunya ini (amin). Dari notes-notes-nya di Facebook, saya melihat hal-hal yang unik dari para agen MLM itu:
- Menjadi Mario Teguh dadakan, memotivasi untuk bersemangat dengan kata-kata yang agak terlalu berbusa-busa.
- Bercerita dengan kesuksesan kilatnya meniti karier demi karier di jenjang jaringan struktur bertingkatnya. Bahwa telah mendapatkan gaji atau bonus sekian juta hanya dalam sekian minggu.
Wow, jadi apakah MLM itu bisnis yang mudah, bisa dikerjakan dari rumah (kadang-kadang ditambah embel-embel, sambil ongkang-ongkang kaki)? Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang mudah untuk mendapatkan sesuatu. Ada hal-hal yang membutuhkan kerja banting tulang sehari semalam — di bidang apapun, tidak terkecuali MLM. Menurut saya seharusnya hal itu disadari oleh para pemimpi yang menganggap MLM itu bisnis yang mudah dan cocok bagi semua orang.
Saya jadi melihat kesamaan antara agen MLM ini dengan para trader pasar modal. Selalu saja ada yang pamer (yang menjengkelkan) dengan kalimat provokatif, “… yang minggu lalu mengikuti rekomendasi saya untuk beli saham XYZ, salam profit dan salam cuan.” Sebel karena saya tidak mengikuti rekomendasinya, hahaha…
Siapa yang bilang pasar modal adalah tempat mendapatkan uang dengan cara gampang sehingga dianggap bagaikan meja judi yang legal? Menjadi praktisi pasar modal yang baik juga butuh kerja keras — menganalisis chart, mengikuti berita, dan menyisihkan waktu untuk memelototi pergerakan IHSG. Karena kesibukan saya sebagai karyawan, saya sering kelewatan momen penting (dan karena itu saya sedang mencoba mengubah gaya berjualan saya).
Kalau mengikuti cara para agen MLM itu (entah pamer entah promosi), di tiga bulan pertama saya, saya bisa profit hingga 30%! Bayangkan, uang 10 juta menjadi 13 juta hanya dalam tiga bulan. Setahun sudah berapa tuh? Sekitar 22 juta atau 120% dari modal! Itu kalo duit 10 juta. Kalau 50 juta? Wah, bisa kaya mendadak dong saya, hahaha… (dan saya sudah pernah membayangkan mau beli mobil dan rumah tahun depan ).
Dan kalau Anda percaya bahwa hasil jualan saya mencapai segitu, padahal kinerja IHSG tahun ini saja tidak lebih dari 2%, Anda mungkin termasuk kaum pemimpi, hehehe..
Intinya, tidak ada sesuatu yang gampang seperti itu. Ketimbang bermimpi, mari bangun dan mulai bekerja sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit tak iye. Salam zuper!
Rugi Dua Kali
Seorang kawan memutuskan untuk membeli mobil baru Nissan Grand Livina edisi Highway Star dengan cara kredit selama lima tahun. Sebagai orang yang pernah dan sedang belajar financial planning, saya agak merasa sayang dengan keputusan tersebut. Ada tiga poin lemah dalam keputusan itu:
- Mobil adalah jenis aset yang nilainya mengalami penyusutan dari waktu ke waktu. Bahkan, begitu mobil keluar dari dealer, harganya bisa jadi sudah jatuh lima puluh jutaan.
- Dia harus membayar cost of fund alias biaya bunga yang dibebankan. Padahal, dengan tenggat waktu cicil yang semakin panjang, bunga otomatis semakin tinggi.
- Mobil membuat mau tidak mau gaya hidup juga meningkat. Suka tidak suka. Ini saya amati di keluarga saya (ayah dan ibu) mulai hanya mulai memiliki motor Honda Astrea Star hingga sekarang, Kijang Innova.
Yuk coba main itung-itungan simpel saja. Kebetulan tadi ada brosur kredit mobil Honda All New Jazz di meja saya.
Perhatikan kolom Cost of fund. Semakin lama jangka waktu cicilan, semakin tinggi biaya bunga yang harus dibayarkan. Dalam lima tahun, orang harus membayar 82 juta sendiri untuk biaya bunga! Buset, itu duit sudah bisa dipakai buat bayar DP rumah baru. Kolom PV adalah kolom yang memperhitungkan nilai inflasi di titik 8%. Jadi nilai 82 juta di lima tahun mendatang itu kira-kira sama dengan nilai uang 76 juta sekarang.
Properti seperti rumah dan tanah, nilainya terus naik sehingga biaya bunga ini seolah-olah bisa dicover oleh kenaikan nilai asset jika asset tersebut dijual. Berbeda dengan mobil, berapa harga si Jazz ini setelah lima tahun? Mungkin tinggal 120-an juta. Makanya saya sebut rugi dua kali.
Tentu saja semakin lama jangka waktu cicilan, semakin ringan angsurannya. Siapa yang kuat bayar cicilan 16 juta sebulan? Yang artinya dia harus punya penghasilan minimal 50 jutaan kalau dia mau hidup normal. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 jutaan mau nyicil mobil harga segitu? Kalau mau dia cukup nabung setengah tahun sudah bisa beli cash. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 juta sebulan pakai Honda Jazz? Tentunya ia akan beli mobil sekelas Mercy atau BMW.
Hehehe, point saya adalah, keputusan keuangan tidak hanya sekadar urusan matematis sederhana seperti ini. Semua orang bisa menghitung biaya bunga sebuah cicilan. Tetapi tentu ada kondisi-kondisi yang memaksa orang harus mengambil kredit mobil dengan jangka waktu terlamanya: lima tahun.
Apalagi kalau sudah berbicara tentang gaya hidup dan kelas sosial. Dan kelas sosial erat kaitannya dengan dengan siapa kita bersosialisasi. Artinya jika kita hidup di lingkungan kelas sosial A, kita akan sulit untuk hidup dengan cara yang lebih rendah dari kelas A. Dan inilah yang sering membuat orang memaksakan diri. Ini juga yang menyebabkan penghasilan berapapun akan kurang. Inilah yang menyebabkan orang bergaji seratus juta sebulan belum tentu bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.
Sidang Thesis, Langsung dari Ruang 309 Binus Business School
24 Juli 2006
Saya mendapat giliran presentasi pertama kali, pukul 08:00. Sedianya di ruang sidang lab S2 di lantai 3, tetapi karena suatu hal, kami dipindahkan ke ruang sidang lab NCC a.k.a AJK (Arsitektur dan Jaringan Komputer). Dan karena yang saya siapkan di laptop hanyalah bahan presentasi sedangkan server program ada di ELIZA yang saya tinggalkan tetap di rumahnya di lantai 6, maka saya harus punya akses ke intranet ITS.
(Sidang Tugas Akhir IBS, Langsung dari Lab S2) - sayang fotonya hilang di server lama
3 Desember 2011
Ternyata saya adalah tim pertama yang melakukan thesis defense diantara teman-teman seangkatan. Presentasi saya buat dua hari dua malam setengah bolos kerja (maksudnya fisik ada di meja tapi nggak ngerjain kerjaan kantor). Sempat mau ganti dari PowerPoint ke Keynote, tapi melihat kerumitan Keynote, akhirnya saya putuskan tetap presentasi pakai PowerPoint. Sudah latihan presentasi ke ekspat — sidangnya dalam bahasa Inggris (thanks Pak Wilson!). Jas hitam, kemeja putih, dasi sudah juga, ngebut ke Pasaraya Grande Blok M malam itu. Celana ga matching karena ga ada yang cocok muat dan waktunya sudah tidak cukup buat njahitin.
Pak Kenneth, bos saya yang biasanya sangat kritis dalam membantai, hari itu bertanya dengan pertanyaan gampang (tapi tetap kelihatan sulit). Kalau ini presentasi soal kerjaan, seharian pasti habis dibantai kalau lihat ekspresinya dalam melihat slide demi slide. Bu Karen, dosen penguji, pertanyaannya cukup berat, tapi bisa dijawab dengan baik. Beliau memang tepat bertanya di titik lemah tesis kami, yang sudah saya kuatirkan akan jadi sasaran tembak. Pak Firdaus Alamsjah, dosen pembimbing, bertanya hal yang berat juga — well, saya nggak tahu pertanyaannya kalau beliau sedang jadi penguji, hehe.
Sekali lagi, saya telah melalui satu proses penting di hidup saya. Kuliah S2 ini unik karena harus sambil bekerja di siang hari, masuk kelas di malam hari dan pulang jam sepuluh malam. Beberapa ceritanya ada di kategori TA/Kuliah. Dan ITS jelas berbeda dengan Binus. Kultur yang sangat berbeda. Dan itu menyenangkan. Saya akan senang menunggu saat wisuda di Jakarta Convention Center nanti, supaya resmi untuk menempelkan gelar di ujung belakang: Galih Satriaji, S.Kom, M.M.
Dari Kiri ke Kanan: Salman Bahwal (partner), Bpk. Firdaus Alamsjah (dosen pembimbing), Bpk. Kenneth Gunawan (penguji wakil perusahaan), Ibu Karen Peyronnin (dosen penguji), dan saya sendiri.
Tek Tek
Sudah lama banget nggak dapat tag-tag an macam begini. Terakhir ya pada waktu era blog masih merajai tren social media, kira-kira kalau sekarang ya Twitter lah. Barusan, pas lagi leyeh-leyeh menikmati masa kebebasan sejenak setelah sidang tesis, saya dapat mention dari bu dosen muda nan cantik, Mba Puput, yang lagi jadi mahasiswi ITB. Ya sudah, saya akan jawab pertanyaan doi:
1. Uda merasa kalau kerjaan sekarang uda sesuai dengan passion kalian apa ga? Kalau ga pengennya apa? Kalau iya kenapa
Sudah. My life is born to code, hahahah, lebay. Teknologi informasi masih menjadi passion saya, khususnya sekarang SOA – Service Oriented Architecture. Bahkan ketika saya menuntut ilmu manajemen dan ekonomi pun, saya pikir coding masih lebih asyik daripada ekonomi. Itu tentang pekerjaan dan passion. Tapi secara job security, belum. Nah, kombinasi yang unik ini menurut saya adalah dinamika buat saya untuk selalu mengembangkan diri.
2. Kalau diperbolehkan untuk merubah masa lalu, 1 hal saja, apa yang akan kalian ubah? “ga boleh jawaban ga ada yang mau diubah”
Ah, saya ga menemukan jawaban yang bagus, tapi yang langsung terlintas di pikiran adalah ini: jika saja saya bisa kembali ke masa kuliah, saya tidak akan pikir panjang buat menyatakan cinta saya ke Int waktu dia sedang jeda jomblo beberapa waktu itu. Hahaha, yes, the queen who was in this blog with “Melankolis” category, coloring this blog in year 2004-2008 (My last post for her: Selamat Tinggal Cinta). Satu hal yang saya sesali adalah bahwa saya tidak sempat memintanya, saya memilih untuk memendamnya.
Pelajaran buat teman-teman cowok, nyatakanlah cintamu selagi sempat. Urusan diterima atau ditolak itu urusan lain. Kalah dan menang hal yang biasa. Tapi menjadi secret admirer itu lebih sakit kalau kamu benar-benar mencintainya. Menjadi secret admirer jika sekadar mengagumi tidak masalah. Tapi kalau menjadi cinta, segera nyatakanlah. Tidak usah memakai pertimbangan dokter cinta siapapun yang sok ahli. Nyatakanlah dengan Bismillah.
3. Lagu yang saat ini mencerminkan keadaan atau emosi kalian apa?
Hmm, apa ya, yang jelas saya sedang merasa sangat lega. Satu urusan kuliah S2 saya selesai. Tapi saya lagi suka lagu yang diulang-ulang diputar iTunes ini: Masih Cinta nya Kotak. Kamuuuuu tak tauuu rasanyaaa hatikuuuuu saat beeeerrrrrhadapaaaan kkhaaammuuuu….
4. Kalau kalian nanti kalian harus resign karena keluarga mau apa ga?
Belum tahu, belum punya keluarga. Ntar aja jawabnya, hahaha…
5. Saya ini ga suka sayur tapi saya pengen makan sayur nah menurut kalian sayur yang enak apa dan kalau saya nyoba pertama kali saya ga berpikir untuk kapok makan sayur =D
Bobor bayam, blencong (apa ya bahasa Indonesianya?), dan sayur apa ya yang enak di hotel-hotel itu. Yang kayak asparagus tapi ujungnya mekar, dimakan kremus-kremus…
6. Kalau boleh milih 1 tempat untuk tinggal, milih kota apa dan kenapa
Buat kerja banting tulang, Jakarta adalah kota yang sangat tepat. Di sini perjuangannya benar-benar heroik. Saya ibaratkan seperti waktu Ki Ageng Pamanahan dan Raden Sutawijaya babat alas Mentaok untuk jadi Mataram. Buat hidup berkeluarga: Jogja atau Malang. Buat pensiun, tentu saja Tulungagung
7. Kalau diperbolehkan sekolah lagi yang bener-bener sesuai dengan keinginan kalian (tanpa memperhatikan hal-hal lain) kalian mau ambil jurusan apa?
Heheheh, Puput ini, kan saya barusan selesai (sombooong hahaha). Tapi kalau ada kesempatan lagi, saya mau coba Sastra Jawa Kuno. Atau mungkin coba jadi engineer macam Geologist atau Geophysicist.
8. Pilih perasaan atau logika? Kenapa?
Logika. Orang bilang jalan pikiran saya udah macam program komputer saja. Loop and break if not zero, if there’s another thing happened, just shut me down.
9. Saya pengen tau, kalian merasa iri banget dengan orang lain ketika apa?
Ketika orang lain mendapatkan kepercayaan “naik kelas” dari Tuhan. Selalu bertanya-tanya kapan saya bisa naik kelas atau harus berjuang lagi untuk naik kelas.
10. Kalau lagi BT/Stress gimana cara kalian ngebalikin mood kalian?
Makan apa yang ingin dimakan. Lalu tidur dua hari.
11. Apa guilty pleasure kalian?
Mengerjakan sesuatu yang lagi mood banget buat dikerjain padahal ada deadline lain yang sedang menunggu. Contohnya, baca buku semalaman padahal besok ujian, analisis saham padahal buku tesis harus dikumpulkan besok. Yaah… semacam itu lah. Saya emang orangnya moody. Moody Koesnaedi.
Udah ye. Seperti yang dulu-dulu juga, saya ga punya ide buat lempar tek tek an ini kemana. Hahaha… sombongnya sayah. Siape elu… hahaha… Oh iya, thanks ya Puput. Kapan kita makan malam bareng di The Valley? Ihirr…
Welcoming the New Mac Book Pro 2011
Bismillah. Akhirnya notebook saya HP Compaq Presario V3660 telah purna tugas untuk menemani saya setelah empat tahun mencangkul. Kalau dihitung-hitung hasil cangkulan bersama laptop ini mungkin sudah berkali-kali lipat dari harganya sendiri — project Depkominfo, beberapa task force, beberapa proyek motret, dll. Alhamdulillah.
Sebenarnya kinerjanya masih cukup prima, dengan prosesor Core 2 Duo 1,5 GHz, terbaik di zamannya. Sedikit lambat buat bekerja dengan gambar-gambar resolusi besar. Tetapi masih acceptable, saya bahkan berencana untuk memakainya enam bulan sampai setahun ke depan. Hingga akhirnya ada yang berminat untuk membeli laptop saya itu sehingga, mau tidak mau, saya harus mencari gantinya. Programmer tanpa laptop seperti petani tanpa cangkul.
Setelah nyaris jatuh ke Toshiba Portege versi Intel i3, entah ada apa tiba-tiba pilihan berbelok ke MacBook Pro 2011 layar LED Display 13″ berprosesor Intel i5 dengan sistem operasi bawaan Mac OS X Snow Leopard.
Kenapa MacBook Pro?
Hedon? Hei kenapa tidak? Aidil Akbar selalu bilang, financial planning should be fun. Kita tidak harus menjadi pelit ketika keuangan kita tertulis rapi dan selalu patuh anggaran. Saya sudah sejak setahun yang lalu mulai menulis tujuan keuangan dalam jangka pendek salah satunya adalah laptop baru. Dan salah satu impiannya adalah: naik kelas dari yang middle-end ke high-end.
Bukan apa-apa, laptop selama tiga tahun dipakai gila-gilaan saya kuatir tiba-tiba mati. Kan repot kalau belum ada dana buat beli baru. Makanya saya sedikit demi sedikit menganggarkan dana untuk membeli laptop baru.
Bahkan ketika dananya terkumpul pun, saya masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya. Buat apa wong laptop sekarang masih bisa dipakai kok. Tapi sering tergoda, pilihan hampir jatuh ke Toshiba Portege prosesor Intel i3 yang 8 jutaan. Yang saya butuhkan adalah sebuah “justifikasi” kuat.
Anyway, akhirnya tereksekusi juga. Semoga berkah dan menjadi cangkul yang baik seperti Compaq saya. Amin.
PS: Thanks to Daniel yang telah menemani menjemput di Click Ambasador. Akhirnya kenalan juga sama pacarnya
Comments