Statistik 2011

Posted by: on Dec 30, 2011 | 10 Comments

Tahun 2011 segera akan berlalu dalam hitungan jam. Alangkah cepatnya waktu berlari. Dan sesungguhnya waktu adalah hal yang tak tergantikan di dunia ini, bahkan setiap saat kita kehilangan waktu detik demi detik. Jadi, ngapain saja saya di tahun 2011, terus terang saya lupa apa saja resolusi saya yang saya bikin di awal tahun 2011 yang, rasanya masih sekelebatan kemarin lusa saja.

Dua langkah besar yang terjadi di tahun 2011 adalah bahwa saya telah memulai investasi. Dan yang kedua saya berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen saya tepat waktu. Alhamdulillah. Ramadhan tahun 2011 menjadi Ramadhan terbaik saya meskipun setelah itu — seperti lazimnya kadar iman yang naik turun — kembali menurun. Tapi saya cukup puas berhasil mempertahankan beberapa yang saya mulai di bulan Ramadhan 2011. Di bidang musik, saya berhasil menyelesaikan (akhirnya) Sonata Pathetique-nya Ludwig van Beethoven di tengah-tengah kesibukan saya.

Tentang blog ini — saya bersyukur saya masih senang menulis. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek dan saya merasa sayang kalau tiba-tiba saya meninggalkan blog ini meskipun saya kadang-kadang lebih banyak menulis untuk diri sendiri. Terima kasih untuk teman-teman yang masih sudi membaca celotehan saya.

Statistik blog ini sendiri bisa dijelaskan sebagai berikut:

  • Jumlah artikel sejak 2004: 967 artikel (cepetan dong nembus 1000).
  • Jumlah komentator sejak 2004: 10,032 komentator
  • Jumlah artikel 2011: 132
  • Tahun 2011 paling rajin menulis soal:
    • Catatan Harian: 52 artikel
    • Musik: 11 artikel
    • Financial Planning: 11 artikel
    • Fotografi: 10 artikel
  • Bulan paling rajin nulis artikel: Oktober (15 artikel)
  • Komentator terbanyak sepanjang 2011:

Kepada teman-teman yang paling perhatian dengan blog saya ini, saya haturkan terima kasih yang setulus-tulusnya karena biar bagaimanapun juga, yang namanya blogger pasti butuh sedekah komen untuk sekadar bertahan nulis. Saya akan kirimkan link ke dua ebook essay fotografi di 2010 dan 2011 yang belum sempat dipublish (kecuali Nike ya karena udah aku kirimin :p) sebagai tanda terima kasih (ceileh…). Mohon maaf cuma bisa ngasih itu sementara ini (dipaksa download gede lagi, hehehe). Pokoknya thanks to you all…

Saya akhirnya juga memindahkan fotoblog saya dari yang sebelumnya bercampur di sini ke http://foto.galihsatria.com, sehingga di sini saya bisa lebih konsentrasi menulis macam-macam. Ya soal kerjaan, dunia IT, soal ekonomi, keuangan, musik, fotografi, pokoknya gado-gado sekali. Sangat mencerminkan saya sendiri yang memang menyukai banyak hal.

Tahun 2012, kira-kira apa ya resolusinya? Belum kepikiran sih, tapi mungkin menemukan calon dan segera menikah harus saya masukkan ke resolusi 2012. Sudah mulai menua je, hehehe…

Review: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek

Posted by: on Dec 30, 2011 | No Comments

Judul Buku: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek
Penulis: Muhammad Nurul Ibad
Jumlah halaman: 336 halaman
Penerbit: Pustaka Pesantren

Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa tidak banyak yang tahu siapa KH. Chamim Djazuli. Tapi buat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di karesidenan Kediri dan sekitarnya, nama Gus Miek dikenal sebagai kiai yang kharismatik (meskipun saya tidak terlalu yakin anak-anak muda kelahiran 90-an ke atas masih mengenal nama beliau).

Nah, buku yang saya temukan di book fair Istora Senayan ini membahas biografi Gus Miek yang ditulis oleh seorang penulis yang merupakan santri pesantren: Muhammad Nurul Ibad. Saya cukup terkejut kalau penulis menutup kata pengantarnya dengan menyebut lokasi Sambijajar, sebuah desa di Tulungagung — tempat saya lahir dan dibesarkan sebelum merantau di Surabaya dan Jakarta sekarang ini.

Sufi yang Kontroversial

Metode dakwah Gus Miek memang berbeda dari kebanyakan, mengingat area dakwahnya adalah pusat perjudian, pelacuran, hotel dan bar, diskotek, dsb. Karena itu kelakuannya bisa dipandang menyimpang jauh dari syariat yang dibenarkan seperti terlihat tidak pernah sholat, berjudi, minum-minum, dll. Tetapi itulah metode dakwah beliau yang efektif. Membubarkan bandar judi dari dalam dengan membangkrutkannya. Tentu saja metode ini mengundang kontroversi dari kiai-kiai lain yang memegang teguh syariat sebagai harga mati.

“Biar nama saya cemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata umat. Semua orang yang di tempat ini (tempat maksiat) juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan surga. Semua orang yang berada di sini juga menginginkan masuk surga. Tetapi, siapa yang berani masuk, kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek penuh emosi.

– Halaman 287

Pendiri Jantiko Mantab

Jantiko adalah majelis baca Al-Qur’an secara bergantian dari setelah Subuh hingga ditutup setelah Isya’. Jantiko ini didirikan tahun 1986 oleh Gus Miek karena keprihatinannya bahwa Al-Qur’an, sebagai ajaran paling suci dalam Islam, kini telah mulai hilang gaungnya di masyarakat sejak pesatnya perkembangan acara televisi. Menggalakkan membaca Al-Qur’an usai shalat Maghrib hingga menjelang Isya’ adalah salah satu misi Gus Miek.

Betapa benarnya hal itu. Berapa banyak dari generasi muda muslim sekarang yang mengisi waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan ibadah? Saya kebanyakan masih berjuang menyibak kemacetan Jakarta, atau malah masih duduk mencangkung di depan komputer menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Jangankan mengaji Al-Qur’an, membacanya pun sudah tidak sempat. Keprihatinan Gus Miek itu terjadi di saat televisi baru TVRI saja, bagaimana jadinya kalau beliau mengetahui kondisi umat muslim jaman sekarang….

Dari mana asal kata Jantiko itu juga menarik ternyata. Jantiko adalah kepanjangan Jamaah Antikoler. Antikoler artinya tidak pernah mogok, diambil ketika santrinya punya mobil tua yang bahan bakarnya minyak tanah. Gus Miek bertanya apakah nggak mogok mobil itu, santrinya menjawab, “Mobil ini antikoler gus, nggak pernah mogok”.

Pengorbanan dan Penyerahan Total untuk Umat

Hal yang mengharukan adalah kenyataan bahwa Gus Miek hampir tidak pernah waktu untuk keluarga. Hidupnya selalu berpindah-pindah dari Tulungagung Kediri Trenggalek Blitar Surabaya Boyolali Yogyakarta Semarang bolak balik untuk berdakwah dari tempat maksiat satu ke tempat maksiat yang lain. Menginap di terminal-terminal. Pernah beliau tujuh bulan tidak menengok keluarganya. Waktu dan hidupnya digunakan untuk berjuang untuk membimbing umat.

Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya pun, di saat kanker ganas menyerang tubuhnya, ia tak juga bisa menikmati kesendirian barang sejenak. Gus Miek yang melarang keras untuk dijenguk keluarganya akhirnya dijenguk karena santri pengikutnya tidak tahan menanggung kesedihan untuk menyampaikan berita itu.

*

Demikianlah buku ini diketengahkan oleh penulis untuk mengisahkan perjalanan dan ajaran Gus Miek sebagai seorang kiai yang menyerahkan hidupnya secara total untuk berdakwah. Seluruh dunia pun dengan izin-Nya bisa digenggam, tetapi beliau memilih hidup menderita ketimbang hidup nyaman sebagai putra kiai besar.

Metode penulisan buku ini dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan menggali informasi dari orang-orang terdekat Gus Miek. Cerita-cerita yang diketengahkan berdasarkan dari apa yang dituturkan langsung oleh orang-orang dekat Gus Miek, yang penulis sebut sebagai metode yang mirip dengan penulisan hadist nabi.

Pada akhirnya, buku ini menurut saya adalah buku yang sangat bagus yang membuka tabir misteri kiai tradisional yang kharismatik (bahkan dengan membaca bukunya saja saya merasa lebih dekat dengan Gus Miek), penyerahan total kepada umat untuk perjuangan mengibarkan panji-panji agama Allah. Buku ini tidak akan pernah jadi best seller, namun saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca jika Anda menemukannya.

Al-Fatihah kagem Gus Miek…

Leveraging, Apa sih Maksudnya?

Posted by: on Dec 26, 2011 | 2 Comments

Salah satu istilah keren-dan-kedengaran-akademis-banget di bidang keuangan yang saya pelajari di bangku kuliah adalah leveraging. Leverage. Kayaknya kalau sedang ngomong ekonomi dan disisipi kata-kata leverage kedengarannya keren dan intelek begitu. Tapi sebenarnya apa sih leveraging itu? (embuh…)

Leverage artinya pengungkit. Jadi leveraging adalah menggunakan alat untuk mengungkit sesuatu agar naik. Dalam hal investasi, leveraging adalah cara untuk memperbesar potensi imbal hasil aset dengan menambah modal dengan cara pinjaman. Halah, jadi artinya leveraging itu sama dengan ngutang toh? Hmm… kira-kira mirip begitu lah, tapi ada perbedaannya, hehehe…

Mari saya jelaskan dengan contoh, meskipun pada dasarnya leveraging adalah utang, tetapi utang ini digunakan sebagai usaha untuk memperbesar aset investasi tersebut.

Hutang KPR adalah salah satu contoh leveraging yang paling umum. Hanya dengan sekitar 30% dari nilai aset, kita sudah bisa memilikinya. Dan ini aset yang berkembang terus nilainya dari waktu ke waktu. Leveraging macam begini lah yang bikin Amerika kolaps di tahun 2008 kemarin dengan kasus subprime mortgage-nya.

Di pasar modal, pialang kita selalu mengizinkan investor untuk melakukan transaksi melebihi modalnya. Ini disebut margin trading (secara syariah dilarang). Jika kita punya modal 25 juta, maka kita bisa bertransaksi bisa mencapai 100 juta. Tentu saja ada biaya bunga yang dibebankan — seperti hutang-hutang lainnya. Tetapi lihat faktor pengungkit-nya, leverage-nya, bisa sampai 4 kali modal awal.

Akhir-akhir ini, investasi dalam bentuk emas (logam mulia) menjadi sangat populer (sehingga nyaris terjadi bubble effect kemarin). Mungkin anda mengenal istilah berkebun emas? Ini juga salah satu bentuk leveraging, menggadaikan emas untuk dibelikan emas lagi dan begitu seterusnya. Kenapa leverage? Karena di situ ada komponen biaya gadai. Dan faktor pengungkit itu untuk memperbesar nilai aset investasi logam mulia.

Leveraging juga umum dalam sebuah perusahaan untuk menjalankan roda usaha, misalnya dengan hutang dari bank atau investor. Uang tersebut diputar untuk memperbesar nilai aset dan kekayaan perusahaan tersebut. Begitu seterusnya hingga menjadi besar. Faktor pengungkit.

Kalau salah satu leveraging adalah dengan cara hutang, apakah hutang konsumtif juga termasuk leveraging? Tentu saja tidak. Dengan melihat contoh-contoh saya di atas, selalu ada sesuatu yang berusaha diungkit untuk menjadi besar. Untuk mengungkit aset investasi, kekayaan, dan perusahaan. Kalau hutang konsumtif, tidak ada yang bisa diungkit karena nilai aset yang dibeli terus menurun. Bahkan akan ada biaya penyusutan di sana. Oleh karena itu, meskipun kebanyakan cara leveraging adalah dengan hutang, tidak selalu hutang adalah leverage.

Demikian kuliah Finance singkat dari sayah. Semoga tidak bingung, hahaha…

PS: Nah, di sini saya menyisakan beberapa istilah asih kayak bubble effect, subprime mortgage, apakah itu? Kalau ada kesempatan saya jelaskan lagi biar kita lebih melek dan nyambung kalau mengikuti berita ekonomi dan keuangan.

Buku Tentang Gus Miek

Posted by: on Dec 23, 2011 | 4 Comments

Tidak banyak orang yang tahu siapa KH. Hamim Jazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek. Tetapi di Jawa Timur, nama Gus Miek sangat melegenda sebagai salah seorang wali, kiai, dan tokoh penting NU yang — seperti kiai-kiai NU lainnya — kharismatik. Budaya sema’an dalam Jantiko Mantab masih tetap lestari sampai saat ini. Oh iya, sema’an adalah membaca dan menyimak Al-Qur’an yang dimulai setelah subuh sampai dikhatamkan menjelang maghrib. Tiga puluh juz dalam 12 jam, kebayang nggak kecepatan bacanya? hehe… Setiap kiai di langgar di kampung saya sudah pernah menggelar Jantiko Mantab ini (maklum, 97% ustadz di kampung saya adalah lulusan ponpes NU).

Demikian pula dengan jama’ah Dzikrul Ghofilin. Setiap malam tertentu setiap bulan, pakdhe saya selalu ikut rombongan ziarah di makam Gus Miek, untuk berzikir semalam suntuk di makamnya di Kediri Jawa Timur.

Oleh karena itu, waktu saya menemani #perempuanmanisberkerudungnamunsayangnyasudahibuibuanaksatu seharian di Jakarta — ketika di Book Fair saya menemukan buku ini, tanpa pikir panjang saya ambil dua judul buku sekaligus soal Gus Miek. Buku itu tidak akan pernah populer sehingga akan ditemukan di Gramedia. Dan nyatanya memang begitu, saya langsung dikomentari sama #ibuibuanaksatuberlesungpipititu bahwa bacaan saya “politik” sekali. Mungkin karena ada foto Gus Dur di sana. Sebenarnya tidak, buku itu adalah semacam biografi Gus Miek dan gaya leadershipnya. Dan saya penasaran apa yang membuat nama beliau begitu melegenda di Jawa Timur.

Saya baru sempat membaca beberapa halaman pembukaannya, nanti kalau ada waktu, saya akan menuliskan review dan resensinya di sini.

Tentang Dana Cadangan

Posted by: on Dec 22, 2011 | 2 Comments

Dana cadangan, atau dana darurat, adalah sesuatu yang sering kita dengar dalam pengelolaan keuangan pribadi. Seperti namanya, dana ini digunakan sebagai jaga-jaga di saat keadaan darurat, di saat tiba-tiba butuh uang mendadak. Dengan begitu, orang tidak perlu mencairkan investasinya yang belum saatnya dipanen, atau jual fixed assetnya (dengan keterangan “Jual Cepat, Butuh Duit”), atau bahkan harus hutang ke orang lain.

Setiap orang memerlukan dana darurat karena saat darurat itu tidak ketahuan kapan akan datang. Orang bisa saja tiba-tiba jatuh sakit (jabang bayik doh doh o sing adoh), mendapatkan musibah, atau tiba-tiba kena PHK, dll. Tentu saja semua itu tidak diinginkan, tetapi kalaupun terjadi sudah diantisipasi. Dana darurat adalah sebagai proteksi agar perencanaan keuangan dan cash flow tidak terganggu.

Nah, seberapa besar dana darurat? Tidak ada rumus yang baku, tetapi biasanya diperbandingkan dengan jumlah pengeluaran kali sekian. Berapa faktor pengalinya? Bebas juga. Tetapi mari berandai-andai. Jika kita di-PHK secara mendadak, sampai berapa bulan kita akan mendapatkan pekerjaan baru lagi? Nah, selama jeda waktu nganggur itulah kita harus bisa hidup dengan dana darurat. Jika dalam waktu sebulan sudah bisa dapat, ya berarti dana daruratnya sekali pengeluaran bulanan. Besaran dana darurat saya adalah sekitar enam kali pengeluaran.

Disimpan dalam Bentuk Apa Dana Darurat?

Pokoknya liquid, bisa dicairkan segera dan kapan saja. Saya menyimpannya dalam tabungan terpisah, dalam rekening yang terpisah dengan rekening yang untuk lalu lintas cash flow. Deposito masih boleh lah.

Bagaimana dengan logam mulia? Karena LM termasuk instrumen investasi, maka saya tidak terlalu merekomendasikan untuk dijadikan dana darurat. Karena nilainya juga fluktuatif. Emas kan susah turun? Kata siapa? Lihat kinerja harga logam mulia selama sebulan terakhir. Sedang turun banyak! Kan sayang kalau dijual rugi. Lah, tabungan biasa kan bisa digerus inflasi? Karena itu juga lah besarannya jangan terlalu besar.

Nah, setelah dana cadangan beres, barulah boleh berinvestasi. Karena investasi itu pahit kawan, jangan bayangin return-nya saja. Saham dikatakan sebagai instrumen produk keuangan yang paling berisiko sekaligus paling besar return-nya, bisa mencapai 40%. Tapi biasanya orang lupa risiko-nya. Sekarang ini, salah satu saham saya return-nya -11%. Kinerja IHSG juga cuma 2% setahun ini. Jauh di bawah nilai deposito. Oleh karena itu keberadaan dana cadangan atau dana darurat dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan.

Lifecycle Tablet yang Terlalu Cepat

Posted by: on Dec 19, 2011 | 11 Comments

Tidak dipungkiri, tablet adalah gadget yang paling diminati saat ini sejak kemunculan Apple iPad. Gadget tipis ini sekarang menghiasi tempat-tempat nongkrong nan gaul di sudut-sudut kota metropolitan. Melihat animo yang sedemikian besar, tentu vendor-vendor lain tak ingin membiarkan kue manis itu dinikmati sendirian oleh Apple. Maka muncullah Samsung Galaxy Tab, Acer Iconia, BlackBerry Playbook, dan sederet merk-merk lain mulai dari yang paling mahal sampai yang model-model Cina.

Nama iPad sendiri pun telah menjadi generik seperti Aqua dan Sanyo. Sehingga ada yang bilang, sekarang ini iPad bermacam-macam, ada iPad yang dari Apple, ada yang iPad yang Android, ada yang iPad Cina, dll. Menggelikan atau memalukan? Entah.

Akan tetapi, untuk apa sih tablet itu sebenarnya?

Jika Anda sering presentasi ke client, dan setiap hari Anda harus mobile ke sana ke mari, maka Anda butuh tablet. Saya melihat betapa praktisnya ketika dosen saya menerangkan pengembangan dan pencarian ide di IDEO, sebuah perusahaan kreatif. Beliau cukup mengakses Youtube di iPad-nya lalu menampilkannya ke proyektor in-focus.

Jika Anda butuh alat yang praktis untuk baca ebook, akses email secara mobile yang lebih nyaman ketimbang di ponsel, komputasi sederhana ngitung untung rugi penjualan, monitor saham — Anda butuh itu, meskipun buat saya tablet masih terlalu berat untuk dijinjing selama dua jam untuk membaca. Dan komputasi sederhana itu saya kira hanya dilakukan oleh para pengusaha.

Tapi berapa banyak dari pemilik tablet — entah GTab entah iPad — yang menggunakan alat sesuai kebutuhannya? Saya melihat kebanyakan mereka memakai tablet untuk bermain game. Yeah, ini memang salah satu fitur tablet sih, tapi kok ya mahal-mahal cuma buat nge-game. Sayang duitnya kalau saya mah…

Jika kita mengabaikan fungsi dan fokus pada lifestyle, menurut saya perkembangan tablet juga terlalu cepat. Sebuah produk terlalu cepat basi, alias lifecycle-nya terlalu cepat. iPad1 yang begitu menghebohkan, sekarang sudah dipandang sebagai benda yang ketinggalan jaman. Nggak ada gengsi-gengsinya sama sekali kalau orang melihat iPad1 sekarang. Hal yang sama akan menimpa iPad2 sebentar lagi, juga Galaxy Tab 10, dan seterusnya. Dalam waktu yang menurut saya terlalu cepat. How long can you catch the trend and prestigue?

Saya pribadi masih memilih netbook ketimbang tablet. Karena masih bisa diisi Windows atau Linux. Dengan sistem operasi ini, saya akan bisa mengerjakan banyak hal. Itu artinya bahwa kebutuhan saya masih berupa sebuah komputer yang utuh, bukan tablet. Saya tidak mungkin bikin program Java atau mendesain web pakai tablet kan? Netbook meskipun akan lambat, masih bisa dipakai untuk itu.

Yahoo! Messenger, Riwayatmu Kini

Posted by: on Dec 16, 2011 | 8 Comments

Sepuluh tahun yang lalu, Yahoo! Messenger adalah aplikasi chatting yang mulai naik daun setelah IRC yang sangat populer waktu itu (ingat mIRC? als pls…). Saya masih ingat dulu waktu membuat email fox_galih [at] yahoo [dot] co [dot] uk berkuota 6 MB di warnet di kantor Telkom Tulungagung — tarifnya Rp. 6000 per jam dengan kecepatan sekitar 56 kbps. Kencang sekali bagai kilat.

Waktu kuliah, Y!M telah menjadi alat komunikasi standar. Dan karena dianggap boros bandwidth dan tidak ada relevansinya dengan kuliah, koneksi Y!M (melalui port legendaris 5050 itu hehe) pun diblok admin lab jahanam (saya sebut “jahanam” karena mereka mendapatkan privileges khusus). Tetapi memang itulah masa jayanya Y!M diwaktu bandwidth masih merupakan barang mewah. Tiap kali nyambung ke internet, urut-urutan yang dibuka adalah: Email Yahoo!, aplikasi Yahoo! Messenger, dan kemudian Friendster.

Saking mewahnya, salah satu motivasi menjadi admin lab adalah agar punya akses internet gratis tanpa blokir siapapun. Saya merasakan sensasi yang aneh ketika dini hari itu saya dikenalkan Mas Sokam, senior saya, lab ITSnet, puncak dari segala koneksi internet di ITS. Lantai 6 perpustakaan yang berhantu, Linux Debian Sarge, dan aplikasi Y!M for Linux! Menjadi admin lab ITSnet rasanya seperti menjadi dewa bandwidth yang mengatur segala lalu lintas koneksi.

Online di Y!M hampir 24 jam. Saya sampai sekarang masih menyimpan beberapa arsip chatting saya dengan Indri yang waktu itu kuliah di Vancouver Canada, lalu kemudian Tiwi si Rainy Me yang kuliah S2 di Melbourne. Curhat-curhat-an dengan mengetik teks yang panjang. Cara curhat yang aneh tapi memang bisa jadi lebih nyaman karena saling tidak melihat ekspresi muka.

Sekarang? Anehnya ketika era mobile tiba, ketika bandwidth sudah relatif murah, Yahoo! Messenger seperti ditinggalkan. Sekarang orang lebih suka aplikasi chatting mobile yang lebih reliable seperti BlackBerry Messenger, Apple iMessage, dan WhatsApp. Mungkin itulah titik lemah Y!M di mobile – tidak se-stabil aplikasi yang benar-benar untuk mobile. Sering saya mengalami sign out otomatis karena koneksi yang putus.

Y!M masih ramai lho. Artinya semua masih suka login di Y!M. Tetapi berapa banyak dari kita yang menggunakannya seperti di masa-masa 2000-2007-an? Saya meskipun online sudah sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman yang juga online. Kalaupun chatting biasanya tukar nomor PIN dan kemudian pembicaraan dilanjutkan di BBM atau WhatsApp. Dan karena itu saya jadi malas login ke Y!M. Orang pada online, tapi seperti diam semua.

Hehehe, apakah teman-teman masih aktif memakai Y!M?

Switch to our mobile site