Memulai Investasi itu Sulit Lho!

Posted by: on Nov 23, 2011 | 6 Comments

Investasi bukan sekedar beli reksadana atau logam mulia lalu menyimpannya. Ini adalah soal kultur dan gaya hidup. From spending lifestyle to investing lifestyle. Dari kecil saya sudah suka menabung, tetapi untuk bisa menjadi investor, itu perlu waktu tersendiri rupanya.

Ketika kita mendapatkan THR, bonus, gaji ke-13, SPM, atau apapun namanya, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Kalau saya sih gadget — notebook baru (Portege atau Macbook Pro), tablet yang lagi tren macam iPad atau Galaxy Tab, upgrade BlackBerry, iPod, netbook. Oh, masih ada lagi. Saya hobi fotografi kan, lensa apa lagi yang saya perlu? Lensa tele cepat bukaan besar, lensa makro 1:1, kamera saku high-end karena saya mulai merasa DMC F3 saya semakin menurun kualitasnya, kamera mirrorless yang lagi tren macam Olympus PEN. Oui, oui, saya juga suka main musik, saya ingin sebuah sound card yang bagus agar bisa nulis aransemen musik dengan nyaman di laptop.

Fiuh… bayangkan kalau semuanya dipenuhi, hahaha…

Tapi berapa banyak dari kita yang memikirkan soal produk investasi dahulu. Top-up reksadana, beli logam mulia sekilo, beli saham, dll. Kapan menikmati hasil kerja keras kalau harus disimpan? Halangan terbesar saya adalah ketidaktegaan melihat nilai investasi yang turun. Duit yang saya peroleh dengan memeras keringat kok ya berkurang nilainya, mendingan dibelikan sesuatu yang bisa dinikmati ketimbang ngenes lihat portofolio yang mengkerut. Lebih baik saya diamkan di tabungan. Aman dan nyaman…

Lalu kemauan untuk menyisihkan dari penghasilan. Ini adalah bagian tersulit bagi sebagian besar orang. Dan jangan harap ketika penghasilan naik, pengeluaran tidak naik. Adaaaa saja yang membuat jumlah pengeluaran itu ikutan naik (buktikan sendiri dengan mencoba mencatat pengeluaran secara rutin). Saya pernah ngecek kenapa pengeluaran saya lebih besar dari pengeluaran saya ketika masih fresh graduate dulu. Padahal saya merasa tidak menaikkan lifestyle saya — kos-kosan sama cuma naik 50 ribu, ngantor masih pakai sepeda motor, makan masih di warteg dan kaki lima. Tapi toh saya tetap merasa dulu sama lapangnya dengan yang sekarang.

Inflasi salah satu biang keroknya.

Jadi, menabung dengan aman dan nyaman tetap akan turun nilainya karena inflasi. Jadi, suka tidak suka, kita harus mengubah tabungan dengan sesuatu yang lebih berisiko. Sesuatu yang berpotensi mengalahkan inflasi, syukur-syukur kalau bisa menghasilkan yang lebih besar lagi. Berpotensi berarti tidak pasti bisa mengalahkan inflasi, bisa jadi kalah banyak, hahaha…

Contoh. Tabungan — bunga sekitar 2% setahun, dipotong biaya ATM, ini itu, pajak, dua persen itu akan habis. Dihajar inflasi 7% — maka uang kita akan hilang 7% setiap tahunnya. Deposito — bunga sekitar 5%, dipotong pajak, mungkin bersih sekitar 4% setahn. Dijahar inflasi 7%, maka laju merosotnya nilai uang kita adalah 3% setahun. Saham — potensi return 20 – 1000 persen setahunnya. Risikonya, hilang tak bersisa.

Produk mana yang bisa dipilih, semua tergantung bagaimana sikap Anda terhadap risiko. Mengenal profil risiko juga tidak mudah. Tidak langsung serta merta bilang, “Saya adalah investor konservatif, jadi saya pilih deposito!” Itu hanya bisa dikenali dengan mengubah lifestyle, dari spending menjadi investing. Saya perlu waktu dua tahun mempelajari reksadana, emas, dan saham. Saya baru berani beli saham di awal tahun ketiga, beli reksadana di bulan keenam setelah saham, dan beli emas di bulan kesebelas. Makanya saya perlu merayakan diri ketika itu — beli jam tangan setelah beli saham untuk pertama kalinya. Hehe…

Menengok Ekonomi Makro Indonesia

Posted by: on Nov 20, 2011 | 5 Comments

Sebagai seorang investor retail (baca: kecil) di hiruk pikuk pasar modal dan reksadana di Indonesia, maka mengetahui kondisi ekonomi Indonesia adalah wajib hukumnya bagi saya. Ini penting untuk pemilihan dan penyusunan portofolio investasi di tahun 2012. Tahun 2011 saya anggap saya cukup lulus dengan lumayan, bisa lolos dengan selamat dari statistik 85% trader gagal di tahun pertamanya – bahkan (insya Allah) finish dengan return positif di atas kinerja IHSG.

Jadi, bagaimana iklim investasi di Indonesia? Ditinjau secara makro, Indonesia memiliki dasar yang sangat kuat untuk dijadikan tujuan investasi yang menarik. Mari kita lihat tabel di bawah ini:

 

1998

2010

2011

Inflasi (%)

IHSG

PDB (%)

Inflasi (%)

IHSG

PDB (%)

Inflasi (%)

IHSG

PDB (%)

Q1

25.00 541

-4

3.65 2,613

5.43

6.84 3,522

6.5

Q2

46.00 446

-12

4.37 2,837

5.69

5.89 3,795

6.5

Q3

75.00 277

-18

6.15 3,134

6.19

4.67 3,912

6.5

Q4

78.00 398

-20

6.32 3,635

5.82

     

 

Di tahun 2011, inflasi menurut saya normal, bahkan ada bulan-bulan dimana kita mengalami deflasi. Produk Domestik Bruto (PDB/ Gross Domestic Product – GDP) kita tumbuh 6,5%, lebih baik daripada tahun 2010. IHSG masih tumbuh secara konsisten. BI Rate rendah, di titik 6%. Kondisi ini ibarat bumi langit jika dibandingkan dengan tahun 1998 waktu Indonesia mengalami krisis moneter. Pertumbuhan PDB negatif, inflasi luar biasa tinggi gila-gilaan.

Selain itu, menurut teori Ekonomi (entah yang mana, pokoknya saya dapet di kuliah kemarin), rumus pertumbuhan bisa dibentuk dari formula semacam ini:

Growth = C + I + G + (X – M)

Dimana C = Consumption, I = Investment, G = Government Spending, X = Export, dan M = Import.

Setidaknya, ditinjau dari konsumsi, jelas kita sangat konsumtif, terlihat dari penuh sesaknya mal-mal dan terus dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan. Lalu APBN kita termasuk defensive funding, defisit anggaran “hanya” 1-1,5% dari PDB. Hal ini cukup membuat optimisme terhadap pertumbuhan Indonesia. Ada anekdot bilang, pemerintah “tidur” dan korup seperti sekarang ini saja, Indonesia tumbuh dengan cukup mengagumkan, apalagi jika didukung pemerintahan yang bersih, pembangunan infrastruktur yang pesat, pemberantasan korupsi, dll. Bukan tidak mungkin kita akan menjelma menjadi pendamping Cina di Asia Pasifik sebagai kekuatan baru ekonomi dunia.

Amerika, Eropa, telah habis eranya, saatnya giliran Asia. Asal tahu saja, pemegang obligasi Amerika terbesar sekarang adalah Cina. Bayangkan apa yang terjadi jika Cina melepas semua obligasinya. Amerika akan collaps lagi. Makanya sekarang Amerika lagi takut banget sama Cina, sampai-sampai mendirikan pangkalan militer dimana-mana yang menghadap ke Cina.

Nah, dengan fundamental yang kuat seperti ini, kemudian menyadari krisis di Amerika dan Eropa, Indonesia tentu menjadi pilihan tujuan investasi yang sangat menarik. Jika belum merupakan investasi di sektor real, maka hot money yang akan masuk duluan ke produk-produk keuangan seperti pasar modal dan obligasi.

Lalu Investasi Apa Dong?

Tidak ada alasan untuk menunda investasi di 2012 dan memilih menyimpan uang di tabungan dan deposito (hei, BI rate cuma 6%). Krisis Eropa akan tetap menjadi sentimen negatif, tetapi hal itu bisa dijadikan kesempatan emas untuk masuk produk investasi. Anggap sedang diskon night sale besar-besaran. Saat IHSG crash, itu adalah saat terbaik masuk ke pasar modal karena semua saham sedang murah-murahnya. Saham-saham terbaik akan recovery dengan cepat dan langsung berlari.

Soal memilih produk investasi, tetap sesuaikan dengan profil risiko kita. Tetapi rasa-rasanya deposito, reksadana pendapatan tetap dan pasar uang kurang menarik karena suku bunga yang begitu rendah. Logam mulia dan reksadana campuran akan menjadi pilihan tepat untuk investasi dengan risiko moderat dengan rentang waktu 1-3 tahun. Bahkan sekarang saat saya menulis ini, return keduanya lebih tinggi dibanding saham dan reksadana saham. Untuk investasi risiko tinggi dan jangka di atas 3 tahun, saham dan reksadana saham akan menjadi pilihan yang bagus.

Saya sekarang sedang bertindak seolah-olah seperti manajer investasi yang sedang menyusun portofolio investasi bagi dana saya sendiri. Berapa porsi untuk investasi moderat, berapa porsi untuk investasi agresif, dan berapa porsi untuk belajar trading. Kalau pengen dibuatin investment plan, boleh kontak saya. Free, karena ini amatiran, heheheh…

Data: Situs Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, dan Departemen Keuangan. Data tahun 1998 diambil dari buku Happy Investing, Jhon Veter. Formula Ekonomi Y = C + I + G + (X – M) dari kuliah Luxury for the Mass: Building Luxury Brand in Indonesia, Bpk. DR. Jacky Mussry (Markplus & Co.).

Redefining the Love

Posted by: on Nov 20, 2011 | 5 Comments

Menurut teman-teman sidang pembaca, apa sesungguhnya cinta itu? Apakah sesuatu yang menggebu-gebu, mengagumi dari kejauhan (atau balik lensa), senang kalau dekat dengan sang target? Atau sesuatu yang datar-datar saja, dicampur sedikit kemalasan, dicampur halangan dan rintangan, dicampur segala hal yang terasa sama sekali tidak ideal, tetapi kadang-kadang terasa lebih nyata ketimbang sekedar mengagumi?

#Melankolis Reborn.

Berkenalan dengan SOA (Service Oriented Architecture)

Posted by: on Nov 18, 2011 | No Comments

Sebagian dari teks ini saya tulis berdasarkan presentasi saya ke manajemen departemen ICT di pabrik yang dilanjutkan dengan workshop singkat kepada teman-teman satu tim di acara Sharing Session, 17 November 2011.

Saya sudah cukup lama meng-eksplorasi ranah teknologi SOA, mungkin sejak artikel XML-RPC ini, tetapi baru akhir-akhir ini saya mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya di dunia persilatan. Pabrik tempat saya bekerja telah mengakuisisi lisensi Oracle Fusion SOA Suite Middleware dan mencoba mengimplementasikannya dengan proses bisnis yang sudah ada.

Jadi, SOA bukanlah sebuah produk. SOA adalah sebuah pendekatan, atau cara berpikir, dalam melihat sebuah sistem. “Sistem” dalam hal ini tidak melulu teknologi, tetapi juga bisa tentang proses bisnis, organisasi, dll. SOA melihat sistem yang saling berinteraksi dan berkolaborasi dalam menyediakan dan menggunakan “service” (layanan). Untuk memenuhi hal itu, SOA harus memenuhi syarat-syarat: loosely coupled (independen), menggunakan protokol standar yang telah disepakati, dan cross-platform (lintas platform — sistem operasi, bahasa pemrograman, lintas organisasi, bahkan hingga lintas budaya). SOA hanya fokus pada layanan apa yang tersedia, bagaimana cara menggunakannya, dan bagaimana layanan itu bisa bermanfaat. Apa yang ada di balik layanan itu, SOA tidak perlu ambil pusing.

Kita memakai jasa pesawat, dalam dunia SOA, kita sudah bisa disebut sebagai service consumer dimana penyedia layanan pesawat disebut sebagai service producer. Yang kita perlu tahu adalah bagaimana cara memesan tiket, check-in ketika sampai di bandara, dan memasuki ruang boarding untuk masuk pesawat. Padahal, di balik layanan pesawat, ada puluhan atau bahkan ratusan service-service yang saling terhubung untuk dapat menyediakan layanan ini.

Amazon.com, bisa dikatakan adalah perusahaan besar yang hanya bermodal dengkul, eh, merangkai banyak service. Amazon.com tidak melakukan semuanya sendiri, tetapi dikerjakan oleh pihak lain. Toko buku, gudang, payment gateway, layanan kargo, dll. Banyak layanan itu dirangkai (istilah SOA-nya di-orchestrate) menjadi satu kesatuan service yang bisa kita nikmati.

Web Service dan Oracle SOA Suite Middleware

Implementasi SOA dalam ranah teknologi informasi mendasarkan diri pada XML sebagai standar. Dan yang umum dipakai sebagai ujung tombak komunikasi (end point) adalah Web Service. Ada dua madzab besar implementasi web service, yaitu SOAP dan RESTful. SOAP adalah sebuah protokol khusus web service yang berjalan di atas protokol HTTP. SOAP menyediakan banyak spesifikasi standar yang bisa digunakan dalam komunikasi antar web service. Sedangkan RESTful sifatnya lebih lightweight. Ia adalah webservice yang bisa diakses melalui protokol HTTP biasa — jadi operasinya murni melalui manipulasi URL.

Oracle SOA Suite Middleware adalah produk implementasi SOA keluaran Oracle. Barang aslinya adalah Aqualogic milik BEA. Karena BEA diakuisisi Oracle, maka Aqualogic menjadi roh dari Oracle SOA Middleware ini.Di dunia open source, kita mungkin mengenal Glashfish ESB yang juga merupakan salah satu implementasi dari SOA.

Ini adalah paket lengkap yang lebih dari cukup untuk mengimplementasikan pendekatan SOA di bidang IT. Dia menyediakan banyak adapter ke berbagai macam aplikasi seperti Database Adapter, Oracle EBS Adapter, Spring Context Adapter dll. Ia juga mendukung penuh fitur messaging (event-based service — lihat spesifikasi Java Messaging Service). Dan tentu saja, ia menyediakan fitur BPEL (Business Process Execution Language) sebagai bahasa dasar untuk merangkai dan meng-orchestrate banyak service untuk menjadi sebuah composite application. Fitur menarik lainnya adalah Oracle Service Bus (produk enterprise service bus-nya Oracle) yang digunakan untuk service virtualization, dan Oracle BAM (Business Activity Monitoring) untuk kebutuhan monitoring dan reporting. Semua itu dibundel dalam kardus yang harga lisensinya sangat mahal (sekitar USD 200 ribu).

Buat saya sebuah kehormatan bisa mencoba dan mempelajari “Ferrari” ini. Demikian. Mohon maaf saya tidak bisa men-share bahan presentasi karena ada banyak materialnya yang sangat spesifik tentang sistem di pabrik tempat saya bekerja ini.

Passion

Posted by: on Nov 15, 2011 | 8 Comments

Ayah saya memasuki masa purna tugas sudah lima tahun yang lalu, tepat ketika saya menyelesaikan pendidikan dan bisa berdikari. Beliau pensiun sebagai pengajar Matematika SMP Negeri 01 Bandung, Tulungagung. Jumlah muridnya sudah tak terhitung. Tiap kali ada foto politikus lokal yang sedang mencalonkan diri jadi kepala daerah, ayah sering nyeletuk, “Dulu itu muridku, pernah kulempar kapur tulis karena bodohnya ga ketulungan…” sambil memperlihatkan ekspresi yang lucu.

Mengajar ternyata sudah mendarah daging. Sekarang beliau mengajar di rumah, membuat semacam bimbingan belajar untuk anak-anak SD. Lumayan daripada sepi katanya, karena semua anak-anaknya bekerja di luar kota — apalagi saya yang merantau di ibukota. Sekarang kalau sore halaman rumah penuh, suasana riuh rendah oleh anak-anak yang semangat belajar.

Inilah cara ayah saya mengisi masa pensiun. Mengajar lagi. Tentu saja bukan uang lagi yang dicari. Ini yang menginspirasi saya bahwa pekerjaan tidak hanya melulu uang. Ini lebih tentang kecintaan mengajar. Ini adalah bagaimana memilih pekerjaan yang sesuai dengan passion, sehingga uang menjadi faktor nomor sekian yang menjadi tidak terlalu penting lagi.

Lokasi: Rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Kamera: Panasonic Lumix DMC F3 

Rileks itu Soal Hati

Posted by: on Nov 14, 2011 | One Comment

Minggu malam, saya ngetwit,

Weekend yang sempurna. Bisa rileks, bisa nulis buku 40 halaman, belajar web service dengan CXF, dan belajar JSF2.

Dan ada beberapa respon yang merasa heran dengan twit itu. Belajar bisa membuat saya rileks? Oui, oui, ada banyak hal yang bisa membuat saya merasa santai. Membaca, makan, foto-foto, main musik, nulis blog, baca partitur musik, sampai coding for fun (belajar webservice dan JSF2 adalah bagian coding for fun). Jalan-jalan liburan seringkali tidak bisa membuat saya rileks kalau di kepala masih ada beban pikiran.

Buat saya, santai itu adanya di hati. Santai adalah ketika pikiran enteng ga ada beban (pekerjaan, deadline tugas kuliah, target tertentu dll). Boleh jadi secara fisik bisa santai berbaring di tepi pantai begitu, tetapi tetap aja namanya nggak bisa rileks kalau pikiran juga tidak bisa merasa santai. Dan terus terang saya jarang bisa merasa begitu. Liburan mudik lebaran kemarin sama sekali tidak enak karena ada beban pikiran.

Ketika beban itu hilang, rasanya enteng banget. Senang sekali. Sempat kepikiran mau merayakan dengan minggat sebentar. Yang sempat ada di pikiran: Bogor, Bandung, dan Cirebon. Tapi saya pikir-pikir lagi, saya ingin bersantai di kasur saja.

Dan itu yang saya lakukan. Bisa santai berdiam di kamar ini kemewahan tersendiri. Bangun tidur siang. Abis gitu golar goler aja sambil nonton gosip di TV yang lagi bahas ustadz Solmed yang baru kawin. Lalu melakukan hal yang pengen dilakukan: lanjutin nulis buku dengan tingkat mood tertinggi. Saya memang sedang menulis beberapa draft – 2 draft soal keuangan dan satu draft lagi essay fotografi. Rencananya semuanya akan saya publish free. Saya akan cetak beberapa sebagai hadiah untuk teman-teman terdekat.

Terus saya bisa belajar framework yang baru buat saya: JSF2 dan Spring Webservice. Saya biasa pakai Struts-Spring-Hibernate, tetapi kantor memutuskan untuk membuat standardisasi platformnya berbasis JSF. Jadi saya harus belajar lagi. For me, it’s really-really fun. Makanya jadi santai dan rileks.

Konsep saya tentang santai sederhana saja yak? Sayangnya, kadang-kadang yang sederhana itu menjadi kemewahan buat saya. Selagi masih bisa, yuk, bersantai dulu…. hehe…

Memprediksi Titik Finish IHSG

Posted by: on Nov 14, 2011 | 2 Comments

Di dunia togel, ada istilah nyeket togel. Orang-orang mencoba melakukan prediksi dengan membuat oret-oretan (sketch — nye-ketch) tentang angka yang akan muncul. Analisis-nya bisa rumit dan macam-macam. Nah, saya kok melihat sisi kemiripan dengan memprediksi laju IHSG. Kalau sedang menarik garis-garis support dan resistance, sama sekali tidak ada benar atau salah. Murni spekulasi. Meskipun berdasar pada science matematis yang tak kalah rumit dengan punya para analis togel. )

Jadi ceritanya saya mencoba memprediksi berapa kira-kira titik finish IHSG di 2011. Kondisi yang dipertimbangkan adalah window dressing para fund manager di akhir tahun dan krisis Eropa yang sedang menghajar Yunani dan Italia.

Dengan tarik garis sini, tarik garis sana, jadilah analisis ngawur ini. IHSG berpotensi finish di titik 4000. Dengan teknik yang sama, saya dapat itung-itungan ngawur juga buat BBRI, berpotensi finish di 7200. SMGR berpotensi finish di 9700. CPIN berpotensi finish di 2800.

Tahun 2011, investasi instrumen saham memang kurang menjanjikan karena kondisi resesi global. Saat saya menulis ini, kinerja IHSG masih 1,36% — bahkan kalah dengan bunga simpanan biasa di bank. Sudah saatnya mendiversifikasi portofolio ke logam mulia? Tidak ada ruginya.

PS: Saya tak perlu menuliskan disclaimer seperti yang dilakukan para analis profesional. Saya cukup mengatakan kalau ini analisis ngawur, mirip-mirip dengan analisis para analis togel itu, hehe…

Switch to our mobile site