Dennis Ritchie

Posted by: on Oct 14, 2011 | 5 Comments

Namanya memang tidak akan sepopuler Steve Jobs, tapi saya pikir semua programmer akan mengenal Dennis Ritchie. Minimal programmer yang pernah belajar bahasa C. Ya, Dennis Ritchie adalah salah satu tokoh besar di dunia IT yang meletakkan fundamental penting di dunia bahasa pemrograman. Dialah pencipta bahasa C, sebuah bahasa yang menjadi dasar sistem operasi paling stabil di dunia: UNIX.

Setiap programmer yang memulai pelajarannya dari bahasa C akan menjadi programmer yang baik. Karena memang bahasa C menuntut setiap programmernya untuk menulis secara rapi, terstruktur, dan disiplin. Tetapi bahasa C juga membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengakses segala resource yang ada di komputer, dari level teratas sampai level bahasa mesin (izin akses langsung ke bahasa assembly untuk memakai interupt-interupt prosesor).

Bandingkan dengan programmer-programmer jalanan yang kebanyakan belajar mulai dari bahasa Visual Basic (baik yang versi 6 atau .net nya) atau bahasa PHP. Saya hampir yakin bahwa tingkat kerapian dan kedisiplinannya akan jauh di bawah programmer yang khatam bahasa C. Bahasa C tidak hanya sekadar bahasa terstruktur yang sekarang sudah jarang dipakai, tetapi bahasa C adalah sebuah kerangka berpikir yang akan menuntun programmer untuk berpikir dengan rapi pula. Makanya Dennis Ritchie dianggap sebagai guru para programmer sedunia.

Bahasa C juga menjadi fondasi bahasa-bahasa berorientasi objek yang terkenal sekarang: Java, bahkan Visual Studio .net meninggalkan filosofi Visual Basic dan mengikuti Java. Kebanyakan kerapian dan kedisiplinan C dibawa ke bahasa-bahasa modern. Tetapi keluwesan bahasa C untuk mengakses banyak resource dibatasi oleh bahasa-bahasa modern. Ada pemeo yang terkenal, “Dennis Ritchie membuat C dengan berpikir semua programmer akan menulis seperti Dennis Ritchie. James Gosling membuat Java dengan berpikir semua programmer akan menulis seperti Dennis the Menace”.

Saya termasuk beruntung mulai belajar pemrograman dari bahasa C.

RIP Dennis Ritchie.

Nerimo Ing Pandum

Posted by: on Oct 12, 2011 | 8 Comments

Saya orang Jawa dan dibesarkan oleh keluarga Jawa. Salah satu nilai yang tertanam di diri saya adalah falsafah Jawa “nerimo ing pandum”, atau kurang lebih berarti selalu mensyukuri apa yang telah didapatkan. Falsafah ini mengajarkan untuk hidup sederhana, tidak berlebihan, dan yang paling penting mensyukuri apa yang telah diberikan.

Jika dibandingkan dengan kehidupan dunia kerja Jakarta, sering saya diolok-olok begini, “ini termasuk anak lulusan universitas x yang terkenal ga bisa negosiasi dan menghargai diri sendiri”. Memang benar, saya dulu mulai bekerja sebagai fresh grad dengan ukuran salary yang tidak terlalu besar. Bahkan dalam perkembangannya pun, kenaikannya mungkin tidak setinggi kawan-kawan yang bisa “membungkus” diri dalam balutan kinerja kinclong sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi.

Selain tidak bisa “menjual”, saya lebih berpegang pada nilai “nerimo ing pandum” tadi. Buat apa minta banyak-banyak? Toh segini juga sudah lebih dari cukup untuk hidup sederhana dan layak. Untungnya saya lebih suka membaca buku di rumah ketimbang jalan ke mal menonton film terbaru. Saya juga lebih suka sepedahan Jakarta-Depok PP daripada naik sepeda di fitness center. Saya anggap itu kemujuran karena saya yakin akan ada banyak sekali pos gaya hidup yang bisa dipangkas. Sehingga, dengan pendapatan yang tidak terlalu besar tadi, saya sudah bisa hidup dengan layak dan sambil berinvestasi.

Masalahnya kadang-kadang orang terlalu melihat ke atas dan membandingkannya dengan orang lain. Dengan achievement yang sama, kenapa si A lebih tinggi gajinya ketimbang saya? Kadang-kadang kita hanya melihat kulit-kulitnya saja yang terlihat glamor. Padahal rezeki orang berbeda-beda. Saya yang secara skill lebih pandai daripada Anda bisa jadi salary saya cuma setengah Anda dan tempat kerja saya berukuran seperempat tempat kerja Anda.

Akan lebih tenteram dan bahagia rasanya jika kita mencoba memandang ke bawah. Bahwa ternyata masih banyak yang tidak seberuntung saya. Bahwa ternyata saya bisa hidup dengan gaya hidup seperti ini dimana masih banyak yang masih gali lubang tutup lubang. Bahwa ternyata saya masih bisa makan enak, mau nonton kapan saja kalau mau (masalahnya ga suka nonton eeee), dan sebagainya. Tidak semua hal harus diukur dengan uang. Uang memang bisa membeli banyak hal yang bisa membuat bahagia, tetapi kebahagiaan itu intinya justru dari dalam hati, lebih tentang bagaimana menyikapi keadaan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Ini bukan berarti tidak ada keinginan untuk maju merangkak naik ke posisi yang lebih tinggi. Saya akan lebih suka mengerjakan dua kali lebih besar daripada yang telah saya terima ketimbang saya dibayar terlalu tinggi padahal tidak ada hal besar yang telah saya lakukan. Buat saya, penghargaan atas apa yang saya kerjakan tidak harus melulu diukur dengan uang. Tetapi tentang besar tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya, itu saya anggap sebuah achievement juga. Ketika saya dipercaya memegang sebuah tanggung jawab yang strategis, itu saya anggap achievement yang besar. Karena ketika saya harus meninggalkan posisi tersebut, saya bisa melihat banyak hal yang telah saya letakkan dan kerjakan. Dan ketimbang berjibaku membungkusnya untuk menaikkan posisi tawar, saya lebih suka atasan-atasan saya menyadari bahwa saya harus dihargai lebih.

Sebuah catatan sore untuk pengingat diri sendiri.

Masjid Gedhe Yogyakarta

Masjid Gedhe Yogyakarta

Posted by: on Oct 10, 2011 | 6 Comments

FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM

Mengendalikan Pengeluaran

Posted by: on Oct 7, 2011 | 2 Comments

Ada dua komponen penting dalam hal cashflow, yaitu pendapatan (income) dan pengeluaran (expense). Kecuali jika kita adalah enterpreneour alias wirausaha atao wiraswasta a.k.a business person, komponen pendapatan adalah variabel tetap yang tidak bisa atau sukar untuk diubah-ubah. Seorang karyawan yang bergaji Rp. 3,150,000 setiap bulan akan mendapatkan pendapatan sebanyak itu juga setiap bulan.

Sebaliknya dengan pengeluaran, ini adalah variabel bebas yang kendalinya ada di tangan masing-masing orang. Ini sangat erat kaitannya dengan spending habits dan gaya hidup. Jadi dalam perencanaan keuangan, mengatur pengeluaran menjadi prioritas utama karena ini erat kaitannya dengan kesehatan keuangan, dan akhirnya kemampuan untuk melakukan investasi.

Belum tentu orang dengan gaji yang lebih besar memiliki kemampuan investasi yang lebih besar pula. Gaya hidup orang kan beda-beda. Orang yang bergaji tiga juta katakanlah bisa saving 10% dari penghasilan, berarti Rp. 300,000. Apakah orang yang bergaji sepuluh juta bisa saving sejuta? Belum tentu. Apa iya orang bergaji 10 juta kemana-mana tidak pakai mobil, rela naik metromini? Tentu ia akan merasa layak untuk menghargai dirinya dengan memiliki (mencicil) mobil, naik taksi ketimbang kopaja, makan di restoran di mall mewah seminggu sekali, nge-gym di Fitness First tiga kali seminggu, karaokean dengan kawan-kawan di akhir pekan, dan seterusnya. Dari situ saja, bisa jadi pengeluarannya ngepas 10 juta, bisa jadi lebih atau defisit anggaran.

Untuk bisa mengatur keuangan, sebelum kesana, kita perlu menyadari dulu dimanakah posisi gaya hidup kita. Setelah sadar perlunya menempatkan diri, baru berusaha mengubah kebiasaan. Ini akan luar biasa susah. Ada teman saya yang tersenyum meremehkan ketika saya menabung beli saham Semen Gresik satu lot dan mengetahui besoknya nilainya jatuh hingga 10%. Ia berkata, “kita beda sih…” sambil memainkan jari-jarinya di atas iPad 2-nya yang berkilau.

Iya sih, beli saham atau reksadana tidak akan senikmat beli iPad. Bahkan mungkin menyakitkan karena setelah itu nilainya bergejolak naik turun. Perlu perubahan mental yang cukup radikal untuk mengubah kebiasaan dari spending ke investing. Saya butuh waktu setahun lebih. Sebelum itu prinsip saya, apa yang bisa dinikmati sekarang ya dinikmati sebagai penghargaan terhadap kerja keras. Besok belum tentu bisa.

Jadi buat saya, untuk mengendalikan pengeluaran, sadari dulu letak gaya hidup kita dimana. Jika merasa terlalu berlebihan, mari berusaha membuatnya normal.

Patokannya, ada tiga macam kebutuhan: need, want, desire. Makan adalah kebutuhan (need). Makan nasi uduk lengkap dengan daging ayam adalah keinginan (want). Makan di restoran hotel Mulia jelas adalah desire. Meng-upgrade notebook adalah keinginan. Meng-upgrade notebook menjadi Macbook Pro adalah desire (heleh, kalo ini mah curcol hahaha).

Dengan menekan pengeluaran hingga batas normal (artinya juga tidak pelit-pelit amat sehingga kita sendiri menderita), porsi untuk investasi akan semakin besar. Dan juga cashflow kita akan semakin sehat.

Bagaimana Cara Masuk Pasar Modal?

Posted by: on Oct 6, 2011 | One Comment

Dari beberapa instrumen investasi: saham, reksa dana, dan emas logam mulia (LM), saya anggap justru saham yang paling mudah dan simpel. Di LM kita harus ke toko emas, dan jangan harap toko mau melepas LM jika harga sedang turun-turunnya. Mau ke Antam di Pulogadung jauh. Di Reksadana, kita perlu ke bank agen penjual atau sales manajer investasi untuk membeli reksadana. Surat konfirmasi (confirmation letter)-nya biasanya baru sampai seminggu kemudian.

Di pasar modal, jika sudah memiliki rekening di broker atau pialang saham, urusan jual dan beli tinggal masalah klik, bahkan bisa dari ponsel kalau mau. Ini bisa jadi kerugian juga karena sangat mudah bagi kita untuk berubah dari investor menjadi swing trader. Tetapi juga bisa jadi keuntungan karena menjadi swing trader sangat melatih mental kita dalam menghadapi gejolak instrumen investasi yang naik turun. Jadi ketika kemarin nilai investasi reksa dana saya turun drastis, saya tenang-tenang saja karena sudah terlatih mentalnya ketika jadi swing trader.

Langkah pertama yang dibutuhkan untuk menjadi pelaku pasar modal adalah modal itu sendiri, hehe. Modal minimal yang disyaratkan broker pada umumnya Rp. 10 juta, atau Rp. 5 juta kalau sedang ada promo. Dengan modal segitu kita bisa langsung bertransaksi, tetapi pada kenyataannya agar bisa membeli saham-saham unggulan, biasanya modal yang diperlukan lebih dari itu.

Saya memakai Mandiri Sekuritas sebagai pialang saham saya. Awal tahun 2011 kemarin, waktu IHSG jatuh ke 3400 (dari 3700), saya mendaftarkan diri di Plaza Mandiri, Gatot Subroto. Ditemani oleh mbak CS yang cantik, saya disuruh mengisi biodata, fotokopi identitas, dan fotokopi NPWP. Lalu menandatangani cukup banyak term and conditions bermaterai. Di Mandiri Sekuritas, saya dibuatkan rekening Bank Mandiri khusus untuk penyimpanan cash yang siap untuk digunakan, meskipun saya sendiri sebelumnya sudah memiliki rekening Bank Mandiri. Jadi kalau ingin menambah modal, saya cukup transfer dari rekening saya ke rekening saya juga di Mandiri Sekuritas lewat internet banking.

Proses administrasi kira-kira sekitar lima hari kerja, saya kemudian dikirimi user ID, password, dan PIN yang digunakan di Mandiri Sekuritas Online Trading, tempat bertransaksi. Dan, jadilah saya salah satu pelaku pasar modal Indonesia, hehe…

Setelah itu proses transaksinya seperti dagang cabe begitu. Saya disuguhi halaman penuh yang berisi daftar-daftar saham yang sedang diperdagangkan dengan aktif. Angkanya terus bergerak. Ini disebut running trade. Kadang-kadang bisa tercipta suasana seperti Wallstreet di meja saya. Nah, kalau saya ingin beli saham yang sedang diincar, saya ketik ticker code-nya, misalnya Semen Gresik (SMGR). Kemudian akan tertera informasi berapa harga terakhir, daftar antrian, daftar harga-harga yang sedang diminta, daftar harga yang sedang ditawarkan, volume transaksi, dll. Saya akan pasang berapa harga yang saya inginkan, kemudian setelah memasukkan PIN, saya akan masuk ke antrian di lantai bursa.

Misalnya, harga terakhir SMGR adalah 8000, maka akan ada orang yang mau beli (bid) di harga 7800, 7850, 7900, 8000. Kemudian ada juga orang yang akan beli di harga 8050, 8100, 8150 di kolom yang ditawarkan (offer). Jika mau beli di harga 8000, kita akan masuk ke antrian. Tetapi jika kita mau beli dengan harga yang lebih mahal di 8050 atau 8100, maka transaksi akan segera terjadi dan ini disebut matched.

Happy investing!

Pasar Modal, Haram atau Halal?

Posted by: on Oct 5, 2011 | 2 Comments

Tahun 2011 mungkin akan saya canangkan sebagai tonggak awal saya mulai berinvestasi. Tahun mulai merencanakan keuangan dengan baik dan yang paling penting mengubah gaya hidup spending menjadi gaya hidup investing. Antara lain berinvestasi di pasar modal.

Pertanyaan kemudian adalah, halal kah transaksi saham di pasar modal itu?

Anda boleh punya pendapat tersendiri, tapi menurut saya, pasar modal itu boleh dengan syarat-syarat tertentu. Saya mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN – MUI) No. 80/DSN-MUI/III/2011. Secara garis besar, transaksi saham di bursa efek diperbolehkan, dengan syarat-syarat khusus, antara lain:

  • Tidak mengandung unsur judi atau spekulasi.
  • Transaksi tidak menggunakan margin trading.
    Pada umumnya, broker pasar modal kita membolehkan kita untuk bertransaksi melebihi modal yang kita punya. Misalnya modal kita adalah 25 juta, kita bisa bertransaksi hingga 100 juta. Gratis? Tentu tidak, ada bunga yang dikenakan di setiap margin yang kita pakai.
  • Transaksi tidak dengan short selling.
    Short adalah menjual saham tanpa harus memiliki sahamnya terlebih dahulu. Ini dilakukan ketika harga tinggi. Saham ini akan diganti dengan membeli segera di waktu lain — harapannya tentu ketika di harga rendah. Di BEI, transaksi short memang tidak diperbolehkan.
  • Tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai prinsip syariah dalam perdagangan seperti cornering, insider trading, wash sale, dll.

Spekulasi = Judi?

Poin pertama, yaitu tidak mengandung unsur judi atau spekulasi tentu sangat debatable. Ada yang bilang yang namanya trading itu ya spekulasi, sehingga otomatis judi.

Menurut saya, trading saham, mungkin memang spekulasi, tetapi tidak otomatis menjadi judi. Karena kontrol jual dan beli tetap ada di trader. Keputusan beli dan jual (meskipun rugi) tetap di trader. Dan kalau tidak mau rugi, hold saja saham itu selamanya dan sang trader akan jadi investor dadakan. Seperti orang jualan cabe di pasar, bisa untung, bisa pula rugi.

Lain halnya dengan trading forex (foreign exchange) misalnya. Ini saya anggap judi karena ada margin call, yaitu penjualan secara paksa karena account Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk menutupi posisi Anda yang merugi. Trader tidak memiliki kekuasaan terhadap modalnya ketika harga melewati margin level. Ini murni spekulasi. Di saham, Anda bisa memiliki saham dalam posisi merugi, bahkan hingga nilai saham Anda di titik terendah sekalipun. Tidak akan ada margin call.

Transaksi trading yang saya anggap judi lainnya adalah trading indeks. Ini adalah perdagangan berdasarkan indeks, misalnya indeks komoditas, atau indeks IHSG sendiri. Apa barang yang diperjualbelikan? Tidak ada. Misalnya, Anda beli sejumlah unit transaksi di level indeks 300. Anda akan untung jika indeks bergerak naik di 400.

Saham berbeda dengan indeks karena saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan publik. Salah satu fasilitas investor terhadap kepemilikan ini adalah penerimaan dividen. Dan kepemilikan inilah yang diperjualbelikan di pasar sekunder di bursa efek.

Jadi perdagangan di bursa tidak melulu saham saja, ada banyak sekali jenis-jenis perdagangan mulai dari saham hingga derivatif (turunan)-nya. Hingga saat ini, yang sudah difatwakan DSN-MUI adalah transaksi saham.

Demikian, semoga bermanfaat.

Jatuh Cinta di Jogja

Jatuh Cinta di Jogja

Posted by: on Oct 1, 2011 | 5 Comments

Lokasi: Tugu Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR | F/22 – 6″

Yogyakarta, atau Jogja, apa sih istimewanya kota ini sehingga banyak sekali cerita tentang ibu kota kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini? Sebagai kota pusat budaya Jawa, Jogja memang memiliki karakter tersendiri, apalagi jika dibanding kota-kota megapolitan seperti Jakarta dan Surabaya.

Switch to our mobile site