Memotret Keseharian

Posted by: on Oct 22, 2011 | 14 Comments

Salah satu alasan saya berhenti aktif dari Fotografer.net dan situs forum kamera serupa beberapa tahun yang lalu adalah karena saya bosan dengan style fotografi yang begitu-begitu saja. Olah digital yang berat ibarat wajah cewek cantik pergi ke kondangan — dempulnya semeter. Jadi meskipun fotonya sebenarnya cakep, tapi oldig membuatnya jadi menor dan membosankan.

Lalu seolah-olah fotografi itu sesuatu yang sangat serius. Harus dengan heavy equipment, konsep matang, metering cahaya yang terukur, dan akhirnya eksekusi yang sempurna. Saya mencoba melakukannya ketika membuat project essay. Hasil fotonya memang bagus, dilihat indah, tetapi apa iya fotografi hanya seperti itu? Fotografi seharusnya fun dan bisa juga dibawa tidak serius.

Saya suka foto-foto once upon a time yang merekam sebuah kejadian keseharian dengan apa adanya. Mungkin secara konsep fotografi sekolahan foto itu tidak bagus — penuh noise, ngeblur, komposisi kacau, dsb. Tapi isinya yang dibuat dengan spontan dan apa adanya menurut saya adalah sebuah seni tersendiri. Contoh: suasana sore di sebuah gang sempit di Depok, angkot yang sedang ngetem di depan stasiun Wonokromo, ayam sedang diberi makan di lereng gunung Wilis, seorang santri sedang turun dari masjid di pesantren Tebu Ireng, seorang ayah sedang menggendong anaknya di rumah kayu di tepi hutan Kalimantan, dsb.

Sesuatu yang biasa bagi setiap orang yang menjalani rutinitas, tapi jadi spesial bagi orang di belahan bumi berbeda yang mengalami suasana berbeda. Bagi saya, asap kopaja, kemacetan di jam pulang kantor adalah pemandangan yang menyesakkan dan bikin mata sepet; tetapi mungkin buat kawan yang di Probolinggo jadi spesial karena tidak pernah melihatnya. Itulah yang saya sebut foto once upon a time, atau pada suatu ketika, atau titi kala mangsa.

Karena yang penting adalah objeknya, maka hasil dan kualitas foto jadi nomor dua. Spontan dan fun. Alat jadi tak terbatas harus kamera-kamera mahal, bisa jadi kamera saku (Lumix F3 saya harganya dibawah sejuta), atau kamera ponsel.

Jangan pernah mikir konsep. Jepret! Jepret! Jepret. Lalu upload. Saya sarankan jangan diupload ke jejaring sosial macam Twitter atau Facebook karena foto di Twitter tidak tahan lama dan Facebook tidak tersusun secara kronologis. Konsistenlah, dan lihat apa yang terjadi… (MTGW banged).

Contoh yang bagus tentu saja fotoblog favorit saya: Oh! dan Memo. Meskipun bukan once upon a time  dan lebih ke citizen photo jurnalism (maksudnya berkonsep dan kadang-kadang serius banget), tapi dua blog itu bisa jadi inspirasi. Contoh lain, Mas Fahmi yang konsisten dengan Weekly Photo Challenge-nya. Meskipun fokusnya lebih ke pembuatan konsep yang kreatif (maklum, ilmunya sudah di level berbeda), tapi juga bisa sebagai inspirasi.

Saya sedang memulai project foto once upon a time ini di sesi blogging post di foto.galihsatria.com. Update kategori ini tidak akan terlihat di halaman depan karena sudah terlanjur dipakai foto-foto yang lebih (sok) serius. Ini akan terlihat di feed-nya atau langsung di alamat ini. Pokoknya konsepnya: gak pake mikir, gak pake konsep, gak pake teknik, jepret, jepret, jepret!

14 Comments

  1. Nike
    October 22, 2011

    Suatu hari aku pengen belajar langsung Lih darimu soal motret2 ini :)

    Reply
  2. Nieke,,
    October 22, 2011

    Wah, once upon a time nya keren tuh. Kadang aku jg suka lho meratiin moment2 yg spt itu. Sayang gak pinter moto. Hehehe :D

    Reply
    • Galih Satria
      October 23, 2011

      Lho kan konsepnya ga pake mikir, langsung moto, langsung upload. Konsisten lah, lalu perhatikan apa yang terjadi :mrgreen:

      Reply
  3. efahmi
    October 23, 2011

    whuahhh… dimention disini, hehe, makasih untuk trafficnya :) btw aku ikut weekly photo challenge itu memang sengaja memaksa mikir kreatif. kalo jepretan santai yg once upon a time aku punya http://unessentials.efahmi.info juga, kebanyakan isinya dari jepretan kamera henfon, yg langsung diupload seketika.

    Reply
    • Galih Satria
      October 23, 2011

      O iya, yang unessentials itu aku lupa. Betul juga :-D . Posterous ku juga sempat dibikin begitu, tapi ga tau kok tiba-tiba males beud sama posterous.

      Reply
  4. Fenty
    October 23, 2011

    hahaha, dempul semeter

    ya wes lah, pokoknya aku tunggu fotonya terus :D

    Reply
  5. budiono
    October 23, 2011

    saya lebih suka jepretan-jepretan seperti yang sampeyan ceritakan itu cak.. kalo udah ndakik-ndakik dengan metode maupun peralatan malah males, apalagi udah kena yang namanya oldig, betul, seperti tante2 mau pergi ke arisan! hwkwkwkw

    Reply
  6. Hanif Mahaldi
    October 24, 2011

    padahal banyak orang yang pengen bisa fotografi, tapi masnya malah bosan. hehe, tetep semangat aja deh.

    Reply
  7. vacuum
    October 24, 2011

    Namanya juga photografer setiap hal yang menarik pasti diabadikan, lanjutkan terus hobinya

    Reply
  8. Asop
    October 25, 2011

    Yap, karena itulah saya sebisa mungkin membawa kamera saku saya ke manapun. :)

    Reply
  9. Fiz
    October 27, 2011

    Betul, sering kali motret secara spontan itu lebih bisa dinikmati oleh sejumlah orang. Selain karena tidak perlu persiapan ekstra juga karena alat yang dibawa cukup kamera saja alias anti ribet. Intinya, praktis.

    Reply
  10. Dony
    November 8, 2011

    Setuju om, saya pikir fotografi itu bagian dari seni, jadi jangan terlalu dikungkung oleh keharusan, teori dan perhitungan yang terlalu njelimet nanti malah kehilangan ekspresinya ^_^

    Reply
  11. Antyo Rentjoko
    November 14, 2011

    Sebenarnya fotografi memberikan aneka penyaluran. Di memo.blogombal.org saya seperti bersaksi terhadap zaman. Di antyo.posterous.com saya mendayagunakan keterbatasan ponsel untuk merekam zaman dan kadang juga eksplorasi sok estetis. Di oh.blogombal.org saya mencoba mengeksplorsi kesederhanaan kamera saku. :)

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site